Bayu mulai memahami kesalahan yang mereka buat sejak awal, dan pemahaman itu datang perlahan, seperti dingin yang merembes ke dalam tulang. Mereka semua—Bayu, Reza, Dani, bahkan Bu Marni yang terguncang—telah mengira pagi Sena naik adalah akhir. Asti tidur. Sistem runtuh. Anak-anak dilepas. Mereka mengira mereka telah menyembuhkan tempat ini.
Mereka hanya mencabut satu paku dari papan yang membusuk.
Tanda-tandanya berkumpul seperti tetes air yang menjadi genangan. Reza mengigau nama-nama dalam tidur. Dani diperhatikan oleh keheningan saat begadang. Pintu jeruji yang tertutup sendiri tanpa tangan. Dan kini, hal-hal kecil yang lain: bunga di pot taman yang layu hanya di sisi gedung yang menghadap lantai tiga. Lampu koridor yang berkedip pada pukul tiga, meski lampu itu dimatikan otomatis dari pusat. Dan anak-anak "kosong" lain di asrama—yang dulu sempat menyala kembali setelah Asti dilepas—mulai meredup lagi di pinggir-pinggirnya, seperti lilin yang nyalanya digerogoti angin pelan.
Bayu mengumpulkan ketiganya dan menyusun apa yang ia takutkan menjadi kalimat. "Kita pikir ada satu hantu," katanya. "Asti. Dan kita mengalahkannya dengan cara Sena—dengan mengakui dia, menyebut namanya, menemaninya. Tapi Asti punya kisah. Punya nama. Punya luka yang bisa diakui." Ia menatap buku bersampul kulit, daftar puluhan nama yang dicoret. "Coba pikir. Berapa banyak anak yang diambil sebelum Asti, dan sesudah Asti? Berapa banyak yang turun jadi cangkang, dan sisanya—bagian yang ditarik dari mereka—ke mana? Asti yang menarik, ya. Tapi Asti sudah pergi. Lalu semua sisa itu, semua kesepian dan tekanan yang ditimbun selama lebih dari dua puluh tahun, semua isi yang dicuri dari anak-anak yang tak punya yang menyelamatkan mereka—ke mana semua itu sekarang?"
Reza menelan ludah. "Maksudmu... ada sesuatu yang lain. Dari sisa-sisa itu."
"Asti adalah satu gadis yang ditinggalkan," kata Dani pelan, menyambung pikiran Bayu dengan ketenangan dingin yang justru lebih menakutkan. "Dia bisa dibujuk karena dia masih punya 'aku'. Masih ingat siapa dirinya. Tapi yang terbentuk dari sisa puluhan anak yang dikosongkan—itu nggak punya 'aku'. Itu nggak punya nama, nggak punya kisah, nggak punya luka tunggal yang bisa diakui. Itu cuma..." Ia mencari kata. "Kelaparan. Kelaparan murni. Yang nggak bisa kamu temani, karena nggak ada siapa-siapa di dalamnya untuk ditemani."
Keheningan menggantung di kamar 207. Di luar, cemara bergoyang dalam angin malam, dan untuk pertama kalinya sejak pagi Sena naik, Bayu merasakan kembali sesuatu yang ia kira sudah pergi selamanya: rasa diperhatikan dari atas. Bukan oleh seorang gadis yang menyebut namanya. Oleh sesuatu yang lebih luas, lebih dingin, lebih sabar, yang tidak peduli siapa namanya, hanya peduli bahwa ia lapar.
"Sena menidurkan Asti dengan menemaninya," kata Bayu pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Tapi yang ini... kita nggak bisa menemaninya. Kalau kita coba, kita cuma kasih dia pijakan." Ia menatap dua temannya, dan untuk pertama kalinya mengucapkan apa yang akan menjadi pemahaman terberat mereka. "Ada hantu yang harus ditemani. Dan ada hantu yang harus dihentikan. Dan kita belum tahu caranya menghentikan yang ini."
Di atas mereka, lantai tiga hening. Tapi sekarang mereka semua tahu—hening itu bukan damai. Hening itu adalah sesuatu yang menahan napasnya, menunggu, di balik pintu yang menutup sendiri.