Pintu jeruji menuju lantai tiga telah dibiarkan terbuka sejak pagi Sena naik. Tak seorang pun menutupnya. Para pengasuh terlalu takut menyentuhnya; para murid menganggapnya semacam makam terbuka yang lebih baik dijauhi. Rantai tergeletak di lantai, berkarat sedikit lebih banyak setiap minggu, dan papan DILARANG MASUK tergantung miring. Pintu itu menjadi bagian dari pemandangan, terbuka, ternganga, dan diabaikan.
Sampai malam itu.
Bayu yang menemukannya. Ia sedang tak bisa tidur—sejak malam Reza mengigau dan malam ruang belajar, tidur datang sulit—dan ia bangkit untuk minum di koridor. Saat melewati ujung sayap timur, ia secara naluri melirik ke arah tangga, seperti yang selalu ia lakukan, kebiasaan lama dari masa ketika ke atas sana adalah tempat yang memanggilnya.
Pintu jeruji itu tertutup.
Bayu berhenti. Dingin mengalir dari ubun-ubun ke kakinya. Pintu yang selama berminggu-minggu terbuka, yang rantainya tergeletak berkarat di lantai, kini tertutup rapat. Dan rantai itu—Bayu memaksa kakinya melangkah lebih dekat, jantungnya memukul tulang rusuknya—rantai itu kembali melilit jeruji. Tapi tidak terkunci. Gemboknya menggantung terbuka. Rantai itu hanya dililitkan, seperti tangan yang merangkul dirinya sendiri, seperti seseorang menutup pintu dari dalam dan tidak ingin mengunci, hanya ingin menutup.
Ia ingat kata petugas perpustakaan tua, Pak Wiyono, dulu. Pintu itu bukan untuk mengurung dia di dalam. Pintu itu untuk memberinya alasan supaya dia tetap di atas. Tapi ini berbeda. Ini bukan pintu yang dikunci untuk menahan sesuatu di dalam. Pintu yang dulu dikunci menahan Asti. Pintu ini—Bayu merasakannya di tulangnya lebih daripada ia memikirkannya—pintu ini menutup untuk memanggil. Untuk membuat orang penasaran. Untuk membuat seseorang ingin tahu apa yang ada di balik pintu yang menutup sendiri.
Dan Bayu tahu, dengan kepastian yang membuat mualnya naik, bahwa Asti tidak melakukan ini. Asti yang dulu juga memanggil—tapi Asti memanggil dengan nama, dengan suara seorang gadis kesepian, dengan langkah kaki yang turun satu anak tangga lebih dekat tiap malam. Ini tidak memanggil dengan suara. Ini memanggil dengan rasa penasaran itu sendiri. Dengan pertanyaan yang menggantung: siapa yang menutup pintu? Bukankah kau ingin tahu? Bukankah itu jenis pertanyaan yang dulu menyeret Sena ke perpustakaan, ke kantor Bu Marni, ke kaki tangga lantai tiga?
Bayu mundur. Ia tidak menyentuh pintu itu. Ia tidak naik. Sena pernah berkata, dengan jarinya di atas debu: jangan biarkan tempat ini memaksa kalian. Bayu memegang erat kalimat itu seperti pegangan tangga di tepi jurang.
Pagi harinya, ia membawa Reza dan Dani melihat pintu itu. Tertutup, terlilit, gembok menganga. Reza pucat. "Mungkin pengasuh," katanya, tapi suaranya tak yakin. "Mungkin mereka yang nutup."
"Tanya Bu Marni," kata Dani.
Mereka menemukan Bu Marni di kantornya, dan saat Bayu menyebut pintu yang tertutup sendiri, perempuan itu menjatuhkan cangkir tehnya. Pecahannya berserakan di lantai. Wajahnya, yang sejak pagi Sena naik selalu terlihat lelah dan bersalah, kini berubah menjadi sesuatu yang lebih buruk: ketakutan murni yang sudah lama ia kira berakhir.
"Tidak ada pengasuh yang berani menyentuh pintu itu," bisik Bu Marni. "Tidak satu pun. Sejak malam itu, kami semua menjauhinya." Ia menatap mereka dengan mata yang lebar. "Kalau bukan kami yang menutupnya, dan kalau Asti sudah... pergi..." Tangannya gemetar. "Maka ada sesuatu yang lain di atas sana. Sesuatu yang baru bangun."