Dani adalah yang paling tenang menghadapi semuanya. Sementara Reza panik dan Bayu terbeban rasa bersalah, Dani memecah masalah menjadi bagian-bagian kecil yang bisa dianalisis. Itu kekuatannya. Itu juga, Bayu mulai khawatir, kelemahannya.
Sebab Dani tak pernah berhenti. Bahkan setelah malam Reza mengigau, bahkan dengan map Pak Budi dan buku tersembunyi dan wartawan di bawah bukit, Dani tetap mengejar nilai. Ujian tengah semester mendekat, dan Pak Hartono telah mengumumkan bahwa peringkat akan dipajang di aula seperti biasa—seakan tak ada yang berubah, seakan menempelkan angka pada anak-anak adalah hal yang paling wajar di dunia.
Bayu menemukan Dani di ruang belajar pukul setengah dua dini hari, sendirian, lampu meja menyala, buku-buku menumpuk. Lingkaran hitam di bawah matanya dalam.
"Dan, ini jam berapa," kata Bayu.
"Sebentar lagi," gumam Dani tanpa mengangkat kepala. "Tinggal satu bab."
"Kamu udah bilang itu jam dua belas tadi."
Dani akhirnya menoleh, dan ada sesuatu di matanya yang membuat Bayu berhenti. Bukan kekosongan—belum. Tapi keletihan yang terlalu dalam, terlalu putih, jenis keletihan yang dulu Bayu lihat di album foto, di wajah seorang gadis berkepang dua yang senyumnya tak pernah sampai ke matanya. "Guru-guru bilang aku bisa lebih, Bay," kata Dani pelan. "Selalu lebih. Dari dulu. Dan kamu tahu yang lucu? Sekarang aku tahu persis apa yang ada di atas sana. Aku tahu apa yang menunggu anak yang diforsir sampai retak. Aku tahu semuanya. Tapi aku tetap nggak bisa berhenti belajar sampai pagi. Seakan tahu kebenarannya nggak ngubah apa-apa di dalam kepalaku."
Bayu duduk di sampingnya, dan untuk pertama kalinya ia paham hal yang lebih menyeramkan daripada hantu mana pun. Asti sudah pergi. Sistem persembahan sudah runtuh. Tapi tekanan yang menciptakan Asti—dorongan untuk jadi yang terbaik dengan harga apa pun—masih ada di setiap dinding tempat ini, di setiap papan peringkat, di setiap "kamu bisa lebih". Itu tidak naik ke lantai tiga. Itu tidak bisa diusir dengan menyebut nama. Itu adalah udara yang mereka hirup.
Saat itulah Bayu menyadarinya, dan rambut di tengkuknya berdiri. Di ujung ruang belajar, di sudut paling gelap tempat lampu meja tak sampai, udara terasa lebih berat. Bukan dingin Asti yang berbau bunga busuk. Sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak memanggil dengan suara, tidak menapak dengan langkah, hanya... memperhatikan. Memperhatikan Dani yang membungkuk di atas bukunya pada pukul tiga, dengan kelelahan yang retak halus di pinggir-pinggirnya, dan ada perasaan—Bayu tak bisa menjelaskannya—bahwa keheningan di sudut itu sedang lapar.
"Pulang," kata Bayu, lebih keras dari yang ia maksud, menarik lengan Dani. "Sekarang. Kita tidur."
Dani menurut, terlalu lelah untuk membantah. Tapi saat mereka keluar, Bayu menengok ke belakang sekali, ke sudut gelap itu. Tidak ada apa-apa di sana. Hanya bayangan. Tapi ia tahu, dengan kepastian yang dingin, bahwa Dani sedang dilihat. Bukan oleh Asti. Asti sudah tidur. Oleh sesuatu yang lain, yang lebih tua dan lebih sabar, yang baru saja menemukan luka terbuka untuk dimasuki.