Reza selalu yang paling ceria. Bahkan setelah semuanya, bahkan dengan beban yang mereka pikul sekarang, ia masih bisa menertawakan makanan asrama, masih melempar bantal ke wajah Bayu di pagi hari. Itulah yang membuat malam itu begitu mengguncang.
Pukul tiga lewat sedikit, Bayu terbangun—bukan oleh langkah kaki, sebab langkah kaki itu sudah tak ada—melainkan oleh suara. Suara Reza, dari ranjang seberang, bicara dalam tidurnya. Tapi bukan igauan biasa. Bukan gumaman tak jelas. Reza menyebut nama-nama, satu per satu, jelas dan teratur, dengan suara datar yang sama sekali bukan suaranya.
"Ardi Kusuma. Selesai. Nina Hapsari. Selesai. Tri Wijaya. Selesai."
Bayu membeku di ranjangnya. Itu nama-nama dari buku. Nama-nama yang dicoret. Reza tidak pernah membacanya—Bayu yang membaca, dan ia tidak pernah menyebutkan satu pun nama itu keras-keras. Tapi sekarang Reza melafalkannya dalam tidur, urut, sempurna, seperti seseorang membaca dari halaman yang hanya bisa ia lihat di balik kelopak matanya yang tertutup.
"Za." Bayu turun, mengguncang bahunya. Dingin. Bahu Reza dingin, dan Bayu mengenali dingin itu—dingin yang sama yang dulu menyelimuti tubuhnya sendiri saat ia "diisi". "Reza, bangun!"
Mata Reza terbuka tiba-tiba, tapi untuk satu detik mengerikan, tidak ada Reza di balik mata itu. Hanya hitam yang menatap menembus Bayu, ke sesuatu di kejauhan. Lalu ia berkedip, dan Reza kembali, terengah, berkeringat dingin. "Aku—aku mimpi apa?" bisiknya. "Bay, aku di tangga. Tangga yang panjang itu. Dan ada yang nyuruh aku ngitung. Ngitung sampai habis."
Dani sudah bangun juga, duduk tegak, wajahnya pucat dalam gelap. "Kamu nyebutin nama-nama," kata Dani pelan. "Banyak. Aku denger dari tadi."
Mereka tidak tidur lagi malam itu. Mereka duduk bertiga di lantai kamar, lampu darurat ponsel menyala redup, dan Bayu mencoba menjelaskan apa yang ia takutkan tapi tak ingin ia ucapkan. Saat Asti melepaskan mereka, ia melepaskan isi mereka. Tapi mungkin pelepasan itu tidak pernah seratus persen bersih. Mungkin ada sisa. Sentuhan yang tertinggal, seperti bekas tangan di kaca yang sudah dilap tapi masih terlihat saat cahaya datang dari sudut tertentu.
"Aku yang paling lama diisi," kata Bayu. "Hampir habis. Tapi aku yang paling jelas merasakannya pergi, karena Sena—" Ia berhenti. "Karena Sena naik untukku langsung. Kalian dilepas dari jauh. Kalian belum sempat sampai tahap akhir. Mungkin justru karena itu, sisanya nggak sempat dibersihkan benar."
"Jadi maksudmu," suara Reza bergetar, "ada bagian dari itu yang masih nempel di aku?"
Bayu tidak menjawab. Tapi diamnya adalah jawaban, dan ketiganya tahu itu. Di atas mereka, lantai tiga tetap hening. Tapi sekarang Bayu mengerti bahwa hening itu menipu. Sesuatu telah tertinggal—bukan di lantai tiga, melainkan di dalam mereka sendiri—dan sesuatu itu masih mengingat tangga, masih mengingat hitungan, dan suatu malam, lewat mulut tidur Reza, ia mulai berbicara lagi.