Bu Sari telah membuat Bu Ratih tak terjangkau malam itu—mengawalnya pulang lebih awal dengan dalih sopan—tapi pertanyaan yang ditinggalkannya menggantung di kepala Bayu. Dan satu kata kunci yang ia ucapkan, "diberi makan", menyalakan ingatan lama yang sudah lama ia kubur.
Vitamin.
"Vitamin yang dulu aku diminum tiap hari," kata Bayu pada Reza dan Dani, dua hari setelah reuni, di kamar 207. "Pas aku masih kosong. Bu Marni yang ngasih. Tiap sore. Pil kecil putih. Aku inget rasanya pahit, terus kepalaku jadi berat, semuanya jadi jauh dan kabur. Aku selalu kira itu vitamin beneran. Buat kurang tidur, katanya."
Dani mengangkat alis. "Kamu pikir itu bukan vitamin."
"Asti narik isi anak lewat panggilan pukul tiga, kan?" Bayu mencondongkan tubuh. "Tapi anak yang masih penuh, masih punya kemauan, bakal melawan. Bakal lari, bakal teriak, bakal bangunin yang lain. Bayangin kalau tiap malam ada anak yang jejeritan ditarik ke tangga. Pasti ketahuan, pasti kacau. Jadi gimana caranya bikin korban diam aja, nurut, jalan sendiri ke pintu jeruji tanpa melawan?"
Reza mengerti lebih dulu, dan wajahnya memucat. "Kamu ditenangin. Dibuat tumpul. Biar kamu nggak melawan panggilannya."
"Aku inget sekarang," kata Bayu pelan, dan tangannya gemetar. "Malam-malam waktu aku jalan ke pintu jeruji—aku nggak ngerasa takut. Aku nggak ngerasa apa-apa. Kayak nonton diriku sendiri jalan dari jauh. Kayak ada kabut tebal antara aku dan tubuhku. Itu bukan karena Asti. Itu karena pilnya. Mereka numpulin aku dulu, biar pas Asti manggil, aku nggak punya tenaga buat menolak."
Mereka memutuskan untuk mencari bukti. Bu Marni-lah yang dulu menyimpan obat itu, di lemari kecil terkunci di kantornya. Bayu menemuinya langsung kali ini, tidak menyusup—ia merasa pengasuh itu kini terlalu retak untuk menolak. Ia benar. Ketika Bayu menyebut "vitamin", Bu Marni menutup mata seakan ditampar, dan untuk waktu yang lama tidak bicara.
"Bukan vitamin," akhirnya ia berbisik. "Kamu sudah tahu, kalau kamu datang menanyakannya." Ia membuka laci, mengeluarkan botol plastik kecil tanpa label, mengisinya sebagian dengan pil putih, dan meletakkannya di meja dengan tangan gemetar. "Obat penenang. Dosisnya diatur supaya kalian masih bisa sekolah, masih bisa makan, masih kelihatan normal di siang hari. Tapi tumpul. Cukup tumpul supaya saat dia memanggil pukul tiga, tidak ada bagian dari kalian yang cukup kuat untuk mengatakan tidak." Air mata menetes di pipinya. "Aku yang menakar dosisnya. Selama bertahun-tahun. Aku menghitungnya seperti resep dapur. Berapa untuk anak kelas satu, berapa untuk yang lebih besar. Aku—aku bilang pada diriku sendiri itu lebih manusiawi. Supaya mereka tidak ketakutan saat naik. Supaya tidak sakit." Ia menutup wajahnya. "Aku membuat anak-anak tidak bisa menyelamatkan diri sendiri, dan kusebut itu kebaikan."
Bayu mengambil botol itu. Bukti lain, bukti fisik—obat tanpa label, dalam jumlah yang tak masuk akal untuk "vitamin", disimpan oleh pengasuh yang kini bersaksi. Ia teringat semua anak kosong di asrama, mata-mata yang seperti tirai tertutup, dan menyadari bahwa kekosongan mereka tak pernah sepenuhnya karena Asti. Setengahnya karena pil putih kecil di telapak tangannya. Horor itu, sekali lagi, bukan gaib. Ia diracik di kantor pengasuh, ditakar dengan teliti, diberikan dengan senyum sore hari dan kata "vitamin".
"Kenapa Ibu ngasih ini ke aku?" tanya Bayu, suaranya pelan. "Sekarang. Bukti yang bisa menjebloskan Ibu."
Bu Marni menatapnya lama, mata basahnya penuh dengan dua puluh tiga tahun yang tak bisa ditarik kembali. "Karena Sari benar tentang satu hal," katanya. "Sesuatu sedang terbangun di bawah keheningan. Aku merasakannya. Dan kalau itu naik, satu-satunya cara melawannya bukan dengan menyembunyikan apa pun lagi. Kalian harus tahu semuanya. Setiap pil, setiap nama, setiap tembok. Karena yang dulu kami lakukan dalam gelap—itulah yang memberinya makan. Dan satu-satunya senjata yang tersisa," ia menatap botol di tangan Bayu, "adalah cahaya."
Bayu keluar dari kantor dengan botol itu di saku, melewati koridor yang kini selalu terang, dan untuk pertama kalinya ia menyadari mengapa Sena, dalam pesannya di debu, tak menulis tentang hantu sama sekali. Sena menulis tentang manusia. Tentang tekanan. Tentang kehilangan diri. Karena yang paling berbahaya di asrama ini tak pernah berjalan pada pukul tiga. Ia duduk di kantor, menakar dosis, dan menyebut racun sebagai obat.