Hujan turun tipis di bukit ketika perempuan berjas hujan kuning itu berdiri terlalu lama di luar gerbang besi. Bayu memperhatikannya dari jendela kelas, dan ada sesuatu pada cara perempuan itu berdiri—tidak seperti orang tua murid yang mengantar anak, tidak seperti tamu yang menunggu izin masuk. Ia berdiri seperti orang yang sedang mengukur. Mencatat. Menghitung sesuatu yang tak terlihat.
Saat istirahat, Reza menyeret Bayu dan Dani ke pagar samping, tempat cemara paling rapat dan kamera paling jarang. "Aku dengar dari anak dapur," kata Reza, suaranya rendah. "Namanya Mbak Laras. Wartawan. Dia datang sejak kemarin, nanya-nanya di warung bawah bukit. Soal murid-murid yang pindah."
"Pindah?" Dani mengernyit.
"Yang katanya pindah." Reza menelan ludah. "Dua puluh tahun, Dan. Dia bilang ke Bu warung, dia ngitung dari arsip dinas pendidikan. Tiap tahun ada anak Wirautama yang tercatat pindah atau berhenti tanpa surat lengkap. Selalu anak yang nilainya bagus. Selalu hilang jejaknya setelah keluar dari sini."
Bayu merasa perutnya dingin. Ia tahu nama-nama itu. Ia pernah membacanya sendiri di buku bersampul kulit yang sekarang mereka simpan, dibungkus kain, di balik papan lantai kamar 207. Puluhan nama yang dicoret dengan satu garis dan kata selesai di sampingnya. Anak-anak yang turun dari tangga sebagai cangkang, lulus, pulang ke orang tua mereka, dan menjalani hidup sebagai versi diri mereka yang sudah dikosongkan. Statistik yang dihitung Mbak Laras di bawah sana bukan kebetulan. Itu jejak kaki Asti, dua dekade panjangnya, ditulis dalam angka.
Di gerbang, Bu Marni keluar membawa payung. Dari kejauhan, Bayu melihat keduanya bicara. Bu Marni dengan senyum terlatihnya yang sudah retak sejak pagi itu di lantai tiga, dan Mbak Laras yang tidak tersenyum sama sekali, hanya bertanya, bertanya, sementara tangannya tetap di saku jas hujan tempat, Bayu yakin, ada perekam suara menyala.
"Kita harus ngomong sama dia," kata Bayu pelan.
Reza menoleh tajam. "Kamu gila? Kalau pengasuh tahu kita yang—"
"Pengasuh udah nggak punya pegangan, Za." Bayu menatap gerbang. "Sistem mereka runtuh malam itu. Tapi kalau nggak ada yang ngomong, mereka bakal nutupin semuanya lagi. Bikin cerita baru. Murid pindah, asrama aman, sekolah unggulan tetap unggulan. Sena nggak naik biar mereka bisa terus bohong."
Nama Sena membuat ketiganya diam. Sudah berminggu-minggu, tapi nama itu masih menekan dada mereka setiap kali diucapkan, lebih berat daripada langkah kaki mana pun yang dulu mereka takuti.
Sore itu, hujan berhenti, dan Bayu melakukan hal yang membuat tangannya gemetar sepanjang ia melakukannya. Ia menulis di selembar kertas, melipatnya kecil, dan saat rombongan murid digiring ke gereja sekolah untuk doa sore, ia berpura-pura mengikat tali sepatu dekat gerbang, dan menyelipkan kertas itu melalui celah besi, ke tanah basah, di tempat ia tahu Mbak Laras akan kembali berdiri.
Di kertas itu hanya ada satu baris: Yang Ibu hitung itu benar. Tapi mereka tidak pindah. Tanya soal lantai tiga.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak lama, Bayu sulit tidur bukan karena takut suara di atas. Melainkan karena ia tahu, dengan menjatuhkan kertas itu, ia baru saja membuka pintu yang lain—pintu menuju dunia luar—dan ia tidak tahu apa yang akan masuk dari sana. Di atas kepalanya, lantai tiga hening. Tapi keheningan itu, ia mulai merasa, bukan keheningan yang damai. Itu keheningan yang sedang mendengarkan.