Bayu belum sempat menyapa perempuan tua itu ketika sebuah tangan mencengkeram sikunya. Bu Sari.
Pengasuh putri itu lebih muda dari Bu Marni, dengan senyum yang lebih dingin dan mata yang tidak pernah berhenti menghitung. "Bayu Pratama," katanya, suaranya manis di permukaan, keras di bawahnya. "Anak yang kembali. Keajaiban kecil asrama kita. Kamu tidak sedang mengganggu tamu, kan?"
"Cuma mau menyapa, Bu," kata Bayu, berusaha menahan getar di suaranya.
"Menyapa." Bu Sari melirik perempuan tua di sudut, dan sesuatu mengeras di wajahnya. "Bu Ratih tidak datang jauh-jauh untuk diganggu cerita lama oleh anak-anak. Reuni ini perayaan, bukan—" ia mencari kata, "—penggalian kuburan." Ia menggiring Bayu menjauh dengan tangan yang tampak ramah tapi cengkeramannya tidak. "Aku tahu kamu dan teman-temanmu sibuk mengorek masa lalu. Bu Marni bercerita. Bu Marni, sayangnya, sudah tidak kuat lagi. Rasa bersalah memakan akalnya."
"Rasa bersalah memang seharusnya," kata Bayu, lebih berani dari yang ia rasakan.
Bu Sari berhenti, dan untuk pertama kalinya menatapnya lurus. "Kamu pikir aku tidak punya hati nurani," katanya, pelan, agar tak terdengar tamu. "Kamu salah. Aku punya. Justru karena aku punya, aku tidak bisa membiarkan kalian membongkar ini. Coba pikir, Bayu—kalau semua ini keluar, apa yang terjadi? Sekolah ditutup. Ratusan murid yang sekarang sehat, yang nilainya bagus, yang punya masa depan, kehilangan tempat. Beasiswa anak-anak miskin seperti kamu, seperti Sena, dicabut. Donatur lari. Dan untuk apa? Untuk satu gadis yang sudah dua puluh tiga tahun mati?" Matanya berkilat. "Sistem itu jahat, ya. Aku tidak bodoh. Tapi sistem itu juga menjaga ratusan anak tetap aman saat dia lapar. Bu Marni melihat korbannya. Aku melihat yang diselamatkan. Itu bedanya kami."
Bayu merasakan tanah bergeser di bawahnya. Itulah yang membuat tempat ini begitu mengerikan—bukan hantu, melainkan orang seperti Bu Sari, yang waras, yang bahkan bisa berargumen dengan logika yang dingin dan rapi, yang telah meyakinkan dirinya sendiri bahwa mengorbankan sebagian anak adalah harga yang adil untuk menyelamatkan sisanya. "Asti sudah tidak lapar lagi," kata Bayu. "Sena membebaskannya. Sistemnya udah nggak perlu. Tapi Ibu masih membelanya. Kenapa?"
Sesuatu berkelebat di mata Bu Sari—dan untuk sekejap, Bayu melihatnya: ketakutan. Bukan ketakutan akan terbongkar. Ketakutan yang lebih dalam, lebih tua. "Karena," katanya, hampir berbisik, "kamu pikir membebaskan dia membuat semuanya selesai. Tapi minggu lalu, Bayu, ada pengasuh yang mendengar sesuatu. Bukan dari lantai tiga. Dari bawah. Satu derik. Dan aku tahu—aku tahu sejak lama—bahwa Asti tidak pernah satu-satunya hal yang lapar di tempat ini. Dia hanya yang paling kita kenal. Yang paling mudah diberi makan, karena dia punya nama, punya kisah, punya keinginan yang bisa ditebak." Ia menatap Bayu dengan intensitas yang membuat bulu kuduknya berdiri. "Kalian membangunkan sesuatu dengan mengaduk-aduk masa lalu. Dan kalau kalian membongkar semuanya, kalau kalian mencabut tutup yang sudah dipasang selama setengah abad—aku tidak tahu apa yang akan naik. Tapi aku tahu itu tidak akan punya nama, dan kalian tidak akan bisa membujuknya dengan permintaan maaf."
Bayu menelan ludah. Kata-kata itu menggema dengan apa yang Bu Marni bisikkan, dengan apa yang ia sendiri dengar pada pukul tiga minggu lalu—satu derik dari bawah keheningan. "Kalau Ibu tahu ada yang lain," katanya pelan, "kenapa Ibu nggak peringatin kami baik-baik? Kenapa malah ngehalangin?"
"Karena yang terbaik untuk kalian adalah pergi," sahut Bu Sari, dan untuk sekejap suaranya hampir terdengar seperti Bu Marni—lelah, terbeban. "Lulus. Pulang. Lupakan tempat ini. Biarkan yang sudah tua menanggung yang sudah tua. Aku sudah melihat terlalu banyak anak menghilang karena mereka tidak bisa berhenti bertanya. Sena salah satunya." Ia berhenti, dan ada sesuatu yang nyaris menyerupai penyesalan melintas di wajahnya sebelum tertutup kembali. "Jangan jadi yang berikutnya."
Ia melepaskan siku Bayu dan mundur, menyusun kembali senyum dinginnya saat seorang donatur lewat. "Nikmati reunimu," katanya keras, untuk telinga orang lain. Lalu, lebih pelan, hanya untuk Bayu: "Dan tinggalkan Bu Ratih. Demi kebaikanmu sendiri."
Bayu berdiri di tengah aula yang ramai, di antara tawa dan musik dan spanduk "Para Juara", dan merasa lebih sendirian dari sebelumnya. Dua pengasuh, dua wajah asrama. Bu Marni yang retak dan ingin menebus. Bu Sari yang utuh dan dingin dan, mungkin, lebih jujur tentang seberapa dalam kebusukan ini—karena ia tahu, dan tetap memilih membela. Dan di sudut ruangan, Bu Ratih masih duduk dengan tehnya yang dingin, menatap ke arah lantai tiga, menunggu seseorang yang cukup berani untuk akhirnya bertanya.