Undangan reuni alumni datang di akhir bulan, dicetak di kertas mengilap dengan foto gedung utama yang difoto dari sudut yang membuatnya tampak megah, bukan suram. "Setengah Abad Wirautama: Merayakan Para Juara." Akan ada alumni dari berbagai angkatan, pejabat, donatur, dan—tertulis dengan bangga—"persembahan istimewa dari murid-murid berprestasi saat ini."
Pak Hartono, kepala asrama sekarang, mengumumkannya di aula dengan antusiasme yang dingin dan terukur. Bayu memperhatikannya dari barisan belakang. Lelaki itu birokrat sejati—bicara tentang "nama baik", "warisan keunggulan", "menjaga reputasi yang dibangun puluhan tahun". Tak sekali pun ia menyebut murid yang hilang, atau pintu lantai tiga, atau pagi ketika seluruh asrama berubah. Bagi Pak Hartono, sejarah asrama adalah brosur yang harus terus dicetak ulang dengan tinta yang lebih mengkilap.
"Reuni ini kesempatan," bisik Dani saat mereka keluar aula. "Semua orang akan ada di sini. Alumni lama, mungkin yang seangkatan Asti. Pak Broto kalau dia cukup sehat. Wartawan, donatur, orang luar. Kalau kita mau membongkar ini—kapan lagi ada banyak saksi dalam satu ruangan?"
Reza menelan ludah. "Membongkar di depan donatur dan pejabat? Bay, kita bisa dikeluarkan. Atau lebih buruk."
"Lebih buruk apa?" sahut Dani tajam. "Lebih buruk dari jadi nama berikutnya di buku itu? Kita udah lihat apa yang lebih buruk. Aku rela dikeluarkan daripada diam."
Bayu menengahi. "Kita nggak akan teriak-teriak di tengah panggung. Itu bunuh diri. Tapi reuni ini memang kesempatan. Banyak orang berarti banyak telinga. Kalau kita bisa cari satu saja alumni lama yang ingat Asti, yang mau bicara jujur, kita punya saksi. Bukan cuma surat dan denah—saksi hidup."
Mereka menyusun rencana sederhana: selama reuni, sementara semua mata tertuju pada panggung dan jamuan, mereka akan berkeliling di antara alumni angkatan-angkatan lama, mencari siapa pun yang wajahnya menggelap ketika nama Asti disebut. Bayu menambahkan satu aturan: mereka tidak akan membawa surat-surat atau denah keluar dari kamar. "Kalau ketahuan kita bawa bukti pas reuni, hilang semua," katanya. "Kita cuma cari saksi malam ini. Buktinya tetap disembunyikan sampai waktunya tepat." Reza dan Dani setuju, meski Dani menggerutu bahwa menunggu adalah hal yang paling tidak ia sukai.
Tapi rencana itu rumit oleh satu hal: Bu Marni.
Pengasuh itu menemui Bayu sendirian malam sebelum reuni, di koridor sepi dekat dapur. Wajahnya lelah, kacamatanya berembun. "Aku tahu kalian merencanakan sesuatu," katanya pelan. "Aku tidak akan menghentikan kalian. Aku sudah terlalu lelah untuk menghentikan apa pun." Ia menelan ludah. "Tapi aku ingin kalian tahu satu hal. Pengasuh putri, Bu Sari—dia akan ada di reuni. Dia bukan seperti aku. Aku retak, aku menyesal, aku ingin ini berakhir. Tapi Bu Sari masih percaya sistem ini menyelamatkan lebih banyak daripada yang dikorbankannya. Dia akan melindungi rahasia ini sampai mati. Berhati-hatilah padanya. Dan—" suaranya nyaris hilang, "—berhati-hatilah pada Pak Hartono. Dia tidak peduli pada hantu. Dia hanya peduli pada reputasi. Dan orang yang peduli pada reputasi bisa lebih kejam daripada apa pun yang ada di lantai tiga."
Malam reuni tiba dengan lampu-lampu terang dan musik yang terlalu ceria. Aula dipenuhi orang dewasa berpakaian rapi, tertawa, berfoto di depan spanduk "Para Juara". Murid-murid berprestasi dipajang seperti piala hidup, disuruh tersenyum, disuruh menceritakan ambisi mereka pada donatur yang mengangguk-angguk. Bayu, Reza, dan Dani bergerak di antara kerumunan, mata mereka mencari, telinga mereka menyaring nama-nama angkatan lama.
Dan di sudut aula, jauh dari panggung, Bayu melihat seorang perempuan tua duduk sendirian dengan secangkir teh yang tak disentuh. Ia berbeda dari alumni lain yang riang—matanya tertuju ke arah tangga, ke arah lantai tiga yang tak terlihat dari sini, dengan ekspresi yang Bayu kenali. Ekspresi seseorang yang membawa sesuatu yang berat selama bertahun-tahun. Bayu mendekat, dan ketika ia cukup dekat untuk membaca papan nama di dada perempuan itu, jantungnya melompat: angkatan yang sama dengan Asti. Seorang saksi, datang ke reuni yang tidak benar-benar ingin ia hadiri, duduk di sudut, menunggu—mungkin tanpa sadar—untuk akhirnya ditanya.