Dani menghabiskan dua malam membaca ulang seluruh buku catatan dan surat, mencatat setiap nama yang disebut Asti. Ia menulisnya di selembar kertas dengan tangannya yang rapi, daftar yang berbeda dari daftar PERSEMBAHAN—bukan daftar korban, melainkan daftar mereka yang menekan.
"Tiga nama muncul paling sering," kata Dani pagi itu, menunjukkan kertasnya. "Pak Broto, kepala asrama waktu itu—kita udah tahu. Lalu wali kelasnya, yang dia sebut 'Bu Guru' terus, tapi sekali dia tulis nama lengkapnya: Bu Hartati. Dan satu lagi, guru yang paling sering dia sebut, yang katanya selalu bilang 'kamu bisa lebih'—" Dani berhenti, menatap kertasnya dengan kerut di dahi. "Pak Suryadi. Guru pembina lomba."
"Mereka masih hidup?" tanya Reza.
"Itu yang mau kita cari tahu." Dani melipat kertas. "Pak Wiyono mungkin tahu. Dia seumuran dengan mereka."
Mereka menemui petugas tua itu di perpustakaan sore harinya. Pak Wiyono semakin renta dibanding hari-hari ketika Sena pertama menemuinya; tangannya gemetar saat menuang teh, dan ia batuk-batuk panjang. Tapi matanya menajam ketika Bayu menyebut tiga nama itu.
"Hartati sudah meninggal," kata Pak Wiyono, suaranya serak. "Lima tahun lalu. Sakit. Aku dengar sampai akhir hidupnya dia tidak bisa tidur tanpa lampu menyala. Mungkin ada yang dia takutkan di gelap." Ia terdiam. "Broto kalian sudah tahu—dia masih hidup, sangat tua, tinggal di rumah di luar bukit, sudah pikun katanya, atau pura-pura pikun. Tapi Suryadi..." Pak Wiyono mengangkat wajahnya. "Suryadi masih di sini."
Bayu merasakan dinginnya menjalar. "Di asrama ini?"
"Dia sudah pensiun dari mengajar. Tapi dia tinggal di pondok pembina di belakang, dekat lapangan. Masih datang ke acara-acara sekolah, masih dihormati. 'Pak Suryadi yang melahirkan banyak juara', begitu orang menyebutnya." Wajah tua Pak Wiyono mengeras dengan kepahitan yang lama dipendam. "Dia yang paling keras pada Asti. Aku ingat. Aku masih muda waktu itu, cuma penjaga, tidak ada suaranya. Tapi aku ingat melihatnya menahan Asti di ruang belakang sampai lewat tengah malam, mengulang-ulang soal yang sama. 'Kamu bisa lebih. Juara dua itu sama dengan kalah. Asrama tidak butuh anak yang puas.' Berulang-ulang."
Mereka mencari Pak Suryadi keesokan harinya. Ia memang ada di pondok pembina—seorang lelaki tua tegap, rambut putih disisir rapi, duduk di teras membaca koran seakan dunia berutang ketenangan padanya. Ketika Bayu menyebut nama Asti Wulandari, sesuatu bergerak cepat di wajah tuanya, lalu tertutup kembali seperti pintu.
"Asti siapa?" katanya, dingin. "Banyak murid yang saya bina. Saya tidak ingat satu-satu."
"Peringkat satu, dua puluh tiga tahun lalu," kata Dani, suaranya datar tapi tajam. "Berkepang dua. Belajar di ruang belakang lantai tiga. Yang Bapak suruh terus, 'kamu bisa lebih', sampai dia tidak datang ke kelas suatu hari, dan tidak pernah datang lagi."
Tangan tua itu meremas koran. Untuk sesaat, topengnya tergelincir, dan di baliknya bukan rasa bersalah—melainkan kemarahan, kemarahan orang yang merasa dituduh atas sesuatu yang menurutnya benar. "Saya mendidik juara," desisnya. "Anak-anak itu lemah, bukan salah saya. Saya menuntut yang terbaik karena dunia menuntut yang terbaik. Kalau ada yang patah, itu karena dia memang rapuh sejak awal. Saya tidak memaksa siapa pun mati." Ia berdiri, koran terjatuh. "Sekarang pergi. Dan jangan menyebar fitnah tentang masa lalu yang kalian tidak mengerti. Asrama ini berdiri di atas kerja keras, bukan dongeng hantu anak-anak manja."
Mereka pergi, tapi Bayu membawa wajah itu dalam ingatannya—wajah yang menyangkal, yang sampai hari ini percaya bahwa menekan anak sampai retak adalah kebajikan, bahwa yang patah hanya pantas dipersalahkan. Dan ia mengerti, dengan dingin yang baru, bahwa horor di asrama ini tak pernah dimulai dari hantu. Ia dimulai dari manusia hidup seperti Pak Suryadi, yang tidur nyenyak setiap malam sementara seorang gadis menulis surat minta tolong di ruang tanpa jendela. Asti retak karena tekanan. Tapi tekanan itu punya wajah, punya nama, dan sebagian darinya masih duduk di teras, membaca koran, menunggu juara berikutnya.