Berminggu-minggu berlalu, dan pukul tiga menjadi jam yang paling tenang dalam sehari. Itu sendiri membuat Bayu tak bisa tidur.
Ia tak pernah menyangka keheningan bisa terasa begitu nyaring. Selama dua minggu ia "diisi"—masa yang kini hanya ia ingat sebagai kabut dingin, potongan-potongan yang bukan miliknya—telinganya telah terbiasa mendengar langkah di atas langit-langit pada pukul tiga. Tuk. Tuk. Tuk. Suara itu pernah menjadi denyut nadi malam-malamnya, tanda bahwa ia hidup di tempat ini, bahwa giliran berikutnya semakin dekat. Sekarang denyut itu lenyap, dan tubuhnya belum percaya. Setiap malam ia terbangun beberapa menit sebelum pukul tiga, jantungnya berdebar tanpa alasan, dan ia berbaring di gelap, menatap langit-langit yang sama, menunggu suara yang tak datang.
Reza mengakui hal serupa di suatu sarapan. "Aneh, ya," katanya, mengaduk bubur yang sudah dingin. "Dulu aku takut setengah mati tiap denger langkah itu. Sekarang malah—nggak ada langkah, aku tetap bangun. Kayak ada bagian dari aku yang masih nungguin." Ia menggeleng, mencoba tertawa. "Kayak ketagihan ditakut-takutin."
Dani tak banyak bicara, tapi lingkar hitam di bawah matanya bercerita. Ia kembali begadang—belajar, katanya, karena ujian tengah semester semakin dekat dan guru-guru mulai lagi menekan dengan kalimat yang dulu, kamu bisa lebih, jangan puas di sini. Bayu memperhatikan ini dengan cemas yang tak bisa ia jelaskan. Ada sesuatu dalam cara Dani membungkuk di atas bukunya sampai larut yang mengingatkannya pada cerita Pak Wiyono tentang seorang gadis yang belajar sendirian setiap malam sampai pukul tiga, supaya peringkatnya tidak turun.
Malam itu, Bayu memutuskan untuk tetap terjaga. Bukan karena rasa takut—ia berkata pada dirinya sendiri—melainkan untuk membuktikan pada tubuhnya yang keras kepala bahwa pukul tiga kini hanyalah angka di jam. Ia berbaring dengan mata terbuka, mendengarkan napas teratur Reza, dengkur halus Dani yang akhirnya tertidur di atas bukunya, dan detak jam dinding murah yang mereka pasang sebagai pengganti lampu pusat yang dimatikan.
02.57. Ia menahan napas tanpa sadar.
02.58. Cemara di luar bergoyang, menyeret bayangan di langit-langit.
02.59. Tak ada apa-apa. Hanya hening. Hening yang biasa, seperti kata pesan Sena di debu. Bayu hampir merasa lega. Hampir tersenyum pada kebodohannya sendiri.
03.00.
Dan kemudian ia mendengarnya.
Bukan langkah. Bukan tiga ketukan kaki yang ia hafal selama dua minggu. Melainkan satu derik tunggal. Pendek, kering, suara kayu yang menanggung beban dan melepasnya kembali. Datang bukan dari langit-langit di atas kepalanya, bukan dari lantai tiga seperti dulu. Melainkan dari bawah. Dari suatu tempat jauh di dalam perut gedung, di bawah lantai dasar, tempat yang Bayu bahkan tak tahu ada.
Krek.
Ia duduk tegak, seluruh bulu kuduknya berdiri. Ia menunggu suara kedua. Tak ada. Hanya satu derik itu, lalu hening kembali, hening yang kini terasa berbeda—bukan hening seorang gadis yang tidur, melainkan hening sesuatu yang baru saja membuka mata di kegelapan dan diam, menunggu, mendengarkan apakah ada yang menyadarinya.
"Reza." Bayu mengguncang temannya. "Reza, bangun. Kamu denger?"
Reza mengerang, setengah sadar. "Denger apa... nggak ada apa-apa, Bay. Sumpah, sepi banget malah—"
"Justru itu." Bayu menatap lantai, ke arah kakinya, ke arah papan kayu di bawah ranjang. Suaranya turun jadi bisikan. "Suaranya bukan dari atas. Dari bawah kita. Di bawah gedung." Ia teringat kata-kata Asti lewat mulut petugas tua, teringat bagaimana segala sesuatu di tempat ini selalu punya satu lapisan lebih dalam dari yang terlihat. Lantai tiga dikira kosong, ternyata dihuni. Pintu dikira mengurung, ternyata mengundang. "Asti sudah tidur. Kamarnya nggak berubah. Itu bukan dia."
Reza sekarang benar-benar terjaga, dan rasa kantuknya berganti dengan ketakutan lama yang familiar. "Maksudmu," ia menelan ludah, "ada yang lain?"
Bayu tidak menjawab. Ia hanya menatap lantai, ke kegelapan di bawah gedung yang selama ini tak pernah ia pikirkan, dan untuk pertama kalinya sejak pagi yang membebaskannya, ia merasakan kembali rasa dingin lama itu menjalar di tengkuknya. Keheningan pukul tiga telah pecah, satu derik saja, dan di balik keheningan itu, sesuatu yang lain mulai terbangun.