Mereka tidak bisa menghapus derik itu dari pikiran. Selama tiga hari Bayu menempelkan telinga ke lantai pada malam hari, tapi suara itu tak datang lagi. Justru ketiadaannya yang membuatnya semakin yakin: ada sesuatu di bawah gedung, dan mereka harus tahu apa.
"Kalau suaranya dari bawah lantai dasar," kata Dani, yang akhirnya tertarik karena ini menjadi teka-teki dan teka-teki adalah satu-satunya hal yang membuatnya berhenti memikirkan nilai, "berarti ada ruang di bawah sana. Basement. Ruang bawah tanah. Gedung setua ini pasti punya, buat boiler, buat gudang."
"Aku nggak pernah lihat tangga turun ke bawah," kata Reza.
"Karena disembunyikan," sahut Bayu. Ia ingat sekarang—koridor di belakang dapur, pintu logam abu-abu yang selalu ia kira lemari listrik, dengan tanda DILARANG MASUK kecil yang sudah terlalu biasa untuk diperhatikan. Tempat ini punya banyak pintu seperti itu. Mereka telah belajar untuk tidak melihatnya. "Sama seperti lantai tiga dulu. Disembunyikan di depan mata."
Mereka memilih hari Minggu sore, saat sebagian pengasuh libur dan asrama lengang. Bu Marni—yang sejak pagi pembebasan itu menjadi sosok yang sulit dibaca, kadang membantu mereka diam-diam, kadang menghindar dengan rasa bersalah yang kentara—telah memberi Bayu satu kunci serbaguna minggu lalu, tanpa kata, hanya meletakkannya di meja dan berlalu. Bayu mengerti itu sebagai pengakuan yang tak sanggup diucapkannya: pergilah, lihat sendiri apa yang kami sembunyikan, aku terlalu pengecut untuk menunjukkannya.
Pintu logam abu-abu itu terbuka dengan kunci ketiga yang mereka coba, mengeluarkan derit yang membuat Reza meringis. Di baliknya, bukan lemari listrik. Sebuah tangga beton sempit menurun ke dalam gelap, dengan bau yang menyergap naik—lembap, tanah, kertas tua, dan di baliknya samar, bau yang membuat Bayu membeku: bunga yang sudah terlalu lama dipotong. Bau itu lebih tipis dari yang dulu di lantai tiga, hampir habis, seperti gema dari gema. Tapi ada.
"Kalian cium itu?" bisik Bayu.
"Aku nggak mau cium apa-apa," gumam Reza. "Aku mau pulang."
Mereka tetap turun. Dani memimpin dengan senter ponsel. Tangga berakhir di sebuah ruang panjang berlangit-langit rendah, dipenuhi rak besi yang berjajar sampai gelap di ujung yang tak terjangkau cahaya. Dan di rak-rak itu, kotak demi kotak arsip. Map-map tebal berdebu. Buku besar berjilid kulit, mirip buku PERSEMBAHAN tapi lebih tua, lebih banyak. Gulungan kertas besar yang Dani kenali bentuknya.
"Denah," kata Dani, menarik satu gulungan, meniup debunya. "Ini denah bangunan. Dan ini—" ia membuka sebuah map, "—dokumen pendirian. Lihat tanggalnya."
Bayu mendekat. Kertas itu menguning dan rapuh, tapi tulisannya masih terbaca: akta pendirian Asrama dan Sekolah Wirautama, ditandatangani lebih dari setengah abad lalu. Jauh, jauh sebelum Asti. Di bawahnya, sebuah daftar yang membuat perut Bayu mengerut: "Murid Lantai Kehormatan", lengkap dengan tahun, peringkat, dan di kolom paling kanan, sebuah status yang ditulis dengan tinta berbeda untuk sebagian nama. Lulus dengan pujian. Untuk sebagian yang lain, hanya satu kata yang sama, berulang sepanjang dekade, jauh sebelum nama Asti pernah muncul: selesai.
"Selesai," baca Reza pelan, dan suaranya bergetar. "Itu... itu kata yang sama di buku Sena cerita. Yang dicoret di buku Bu Marni."
Dani menyorot deretan tahun di kepala daftar. Wajahnya, dalam cahaya senter, kehilangan warna. "Bay. Tahun paling tua di daftar ini—itu hampir lima puluh tahun lalu." Ia menelan ludah. "Asti retak dua puluh tiga tahun lalu. Tapi kata 'selesai' ini sudah ada di sini jauh sebelum dia lahir. Jauh sebelum dia masuk asrama ini."
Mereka bertiga berdiri diam di antara rak-rak, di ruang bawah tanah yang berbau bunga yang hampir habis, memegang bukti bahwa keheningan yang baru saja mereka kira mereka menangkan sebenarnya jauh lebih tua dari yang mereka bayangkan. Asti bukan awalnya. Asti hanya satu lapisan. Dan di bawah lantai dasar, di bawah kaki seluruh penghuni asrama, tersimpan catatan setengah abad anak-anak yang "selesai", menunggu untuk dibaca.