Foto angkatan baru dipajang pada hari Senin pagi, di dinding tangga lantai dasar, di ujung deretan panjang bingkai yang sudah ada sebelumnya. Bayu melihatnya lebih dulu dari yang lain. Ia berhenti di anak tangga keempat, tangannya masih memegang tali tas, dan untuk beberapa saat ia hanya berdiri di sana, menatap kaca bingkai yang masih bersih dari debu.
Di foto itu, mereka semua berbaris di tangga depan gedung utama. Reza di barisan tengah, tersenyum lebar seperti biasa. Dani di pinggir, tampak setengah hati seperti orang yang dipaksa berfoto. Bayu sendiri berdiri di baris kedua, dan wajahnya—ia memperhatikan dengan rasa lega yang aneh—wajahnya tampak hidup. Ada warna di pipinya. Ada seseorang di balik matanya. Bukan lagi anak pucat yang dulu memunggungi dunia dari tepi ranjang.
Tapi bukan dirinya yang menahan langkahnya. Melainkan latar belakang.
Di belakang barisan murid, gedung utama menjulang tiga lantai. Dan di lantai paling atas, di salah satu jendela yang dulu selalu tertutup tirai gelap, tirainya kini tersibak. Cahaya pagi memantul di kacanya. Dan di balik kaca itu, samar, hampir bisa dikira sebagai pantulan cemara atau noda pada lensa, ada dua bayang. Berdiri berdampingan. Menghadap keluar.
"Bay, kamu kenapa berdiri di situ?" Reza menyusul dari belakang, lalu mengikuti arah pandang Bayu. Senyumnya memudar pelan. "Itu... cuma pantulan, kan?"
Dani datang terakhir. Ia menatap foto itu lama, lebih lama dari yang dilakukannya untuk apa pun, dan ketika ia bicara suaranya datar. "Pantulan pohon nggak punya bahu. Itu punya bahu. Dua orang."
Bayu mengangkat tangan, menyentuh kaca bingkai di atas jendela kecil itu. Ia tidak perlu menebak siapa. Ia tahu siluet itu—tinggi yang satu, lebih pendek yang berkepang di sebelahnya—seperti ia tahu bentuk tangannya sendiri. Sesuatu yang hangat dan menyakitkan sekaligus menyesak di dadanya, perasaan yang dulu pernah dicuri darinya dan kini terlalu penuh untuk ditampung. "Itu Sena," katanya pelan. "Dan Asti."
"Jangan keras-keras," desis Reza, melirik ke koridor. Kebiasaan lama; meski tak ada lagi langkah pukul tiga, mereka masih bicara soal lantai tiga dengan suara rendah, seakan dinding masih mendengar.
"Mereka kelihatan tidur," kata Bayu, lebih kepada dirinya sendiri. "Tapi tidur itu nggak sama dengan pergi. Pergi itu berarti nggak ada lagi. Ini... mereka masih di atas sana. Cuma diam."
Dani menyilangkan tangan. "Foto cuma kebetulan cahaya. Otak kita yang nyari wajah di mana-mana. Ada istilahnya." Tapi ia tidak beranjak. Tidak ada dari mereka yang beranjak.
Seorang pengasuh muda lewat membawa tumpukan seragam, melirik ketiganya yang berkerumun di tangga, dan mempercepat langkah. Tak ada pengasuh yang betah berlama-lama di dekat dinding foto sekarang. Sejak pagi itu di bulan lalu—pagi ketika pintu jeruji menganga sendiri dan pukul tiga lewat tanpa suara untuk pertama kalinya dalam dua puluh tiga tahun—seluruh asrama bergerak dengan kehati-hatian orang yang berjalan di atas lantai yang baru saja diperbaiki, tak yakin papannya sudah cukup kering untuk dipijak.
Bayu menurunkan tangannya. "Aku naik ke atas tadi malam," katanya tiba-tiba, dan dua temannya menoleh tajam. "Diam-diam. Cuma sebentar. Aku cuma mau lihat."
"Bay." Reza mencengkeram lengannya. "Kamu janji nggak akan—"
"Aku tahu. Maaf." Bayu menelan ludah. "Tapi nggak ada apa-apa, Za. Kamarnya kosong. Dua cekungan di debu masih di sana, persis seperti pagi itu. Nggak berubah sama sekali, satu butir debu pun nggak pindah. Seperti waktu berhenti di kamar itu." Ia menatap foto sekali lagi. "Tapi aku merasa diperhatikan. Bukan oleh sesuatu. Oleh—oleh keheningannya. Susah dijelasin. Seperti kamar yang menahan napas."
Bel masuk berbunyi, memecah kerumunan kecil mereka. Reza menarik napas dan menepuk punggung Bayu. "Udah, jangan dipikirin. Mereka tidur. Itu bagus. Itu yang Sena mau, kan? Biar tenang." Ia memaksakan senyumnya kembali. "Ayo, telat nih. Pak Hartono masuk gerbang lima menit lagi dan dia hafal muka anak yang telat."
Mereka bergerak menaiki tangga, melewati foto angkatan demi angkatan, wajah-wajah yang tersenyum kaku dari tahun-tahun lampau. Dani berjalan paling belakang. Di anak tangga terakhir, ia berhenti sekali lagi dan menoleh ke foto baru itu, ke dua bayang di jendela lantai tiga. Lama. Lalu, dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia bergumam, "Kalau kalian memang masih di atas sana—jangan bangun lagi." Dan ia menyusul yang lain, meninggalkan koridor kosong dan satu foto baru yang menggantung di tempatnya, dua bayang berdampingan menatap matahari yang sama yang menatap mereka kembali.