Ruang arsip bawah tanah tidak ada dalam pengetahuan murid mana pun. Pak Wiyono yang menggambarkannya: di bawah gedung utama, di balik dapur tua yang tak lagi dipakai, ada pintu logam yang dikunci sejak ia masih muda. Ia tidak punya kunci—kuncinya disimpan kepala asrama, dulu Pak Broto, sekarang Pak Hartono. Tapi ia tahu jalan masuk lain, ventilasi lama, cukup besar untuk anak kurus, yang dulu ia gunakan sendiri ketika mencari catatan tentang asal-usul kelaparan lantai tiga.
Mereka turun pada malam berikutnya, ketika hujan masih turun dan suara air menyamarkan langkah. Dani yang paling kurus masuk lewat ventilasi, lalu membuka pintu dari dalam—gembok tua yang berkarat, ia hanya perlu menggeser palang. Reza dan Bayu menyusul, senter ponsel diredupkan, jantung berdebar.
Ruang itu basah dan berdebu, penuh rak besi yang melengkung oleh berat dokumen. Bau kertas lapuk dan jamur. Di sini, ternyata, tersimpan sejarah asrama yang tidak pernah dipajang di lobi: dokumen pendirian, denah-denah lama yang menguning, buku-buku besar berisi catatan tahun demi tahun, jauh melampaui dua puluh tiga tahun yang mereka kira.
Pak Wiyono telah memberi mereka petunjuk: cari yang paling tua. Cari sebelum nama Asti pernah ditulis.
Dani membuka buku-buku besar dengan tangan hati-hati, menyusuri tahun mundur. Reza memegang senter. Bayu membaca. Dan perlahan, gambaran yang lebih tua mulai terbentuk—lebih tua dan lebih dingin daripada yang mereka bayangkan.
Asrama ini, ternyata, berdiri di atas bekas bangunan yang lebih lama. Sebuah sekolah berasrama dari zaman dahulu, dengan filosofi yang ditulis pendirinya dengan tinta yang kini cokelat pudar: keunggulan dibentuk dari tekanan, seperti intan dari arang. Anak yang tidak tahan tekanan tidak pantas berada di sini. Dan di lantai paling atas—selalu lantai paling atas, di setiap zaman—ada "ruang kehormatan" untuk yang terbaik. Yang dipacu paling keras. Yang diberi paling sedikit tidur, paling banyak tuntutan.
Dan di catatan yang paling tua, jauh sebelum Asti, Bayu menemukannya. Sebuah nama, ditulis dengan tinta yang nyaris hilang, di samping catatan tentang seorang murid yang "menghilang dari kamar kehormatan, tidak ditemukan, diduga melarikan diri". Tanggalnya—Bayu menghitung—lebih dari enam puluh tahun lalu. Dan di bawahnya, dengan tulisan tangan yang berbeda, ditambahkan bertahun kemudian: bukan yang terakhir. lantai atas tidak melepaskan yang diberikannya.
"Enam puluh tahun," bisik Reza, suaranya teredam di ruang basah itu. "Bay. Ini—ini bukan dua puluh tiga tahun. Ini—"
"Berlapis," kata Bayu pelan. Ia menatap nama yang nyaris pudar itu, dan merasakan sesuatu yang lebih dingin daripada takut: pemahaman. "Bukan cuma Asti. Asti naik ke tempat yang sudah lapar. Yang sudah menelan anak-anak sebelum dia. Dia yang paling kuat, paling dalam lukanya, jadi dia yang paling kita ingat—tapi dia bukan awalnya. Tempat ini... lantai ini... sudah memilih anak terbaik dan meremukkannya jauh sebelum Asti lahir."
Dani menutup buku tua itu perlahan, dan di keheningan ruang bawah tanah, mereka bertiga memahami sesuatu yang mengubah segalanya. Mereka pikir mereka telah menang. Mereka pikir Sena telah mengakhirinya, menidurkan hantu, membebaskan mereka. Tapi yang Sena tidurkan hanyalah satu lapisan—lapisan paling atas, yang paling baru, yang punya nama dan kisah. Di bawahnya, di dasar yang dalam, ada lapisan demi lapisan kesepian dan tekanan yang menumpuk selama puluhan tahun, mungkin lebih, anak demi anak yang dipaksa jadi terbaik sampai retak, dan tak satu pun dari mereka pernah ditemani, pernah diakui, pernah dipanggil pulang.
Asti bukan kelaparan itu sendiri. Asti hanya wajah terakhirnya.
Di atas mereka, jauh, melalui lantai dan lantai gedung tua, Bayu merasa—atau membayangkan ia merasa—lantai tiga menggeser sesuatu dalam tidurnya. Bukan langkah. Bukan suara. Hanya pergeseran, seperti binatang besar dan tua yang berbalik di kedalaman, dalam mimpi yang telah berlangsung enam puluh tahun, dan belum benar-benar berakhir.
"Kita harus keluar dari sini," kata Bayu, dan suaranya tenang meski dadanya dingin. Ia menggulung beberapa lembar catatan tertua, menyelipkannya ke balik seragam, di samping tempat ia dulu menyembunyikan buku PERSEMBAHAN. Bukti baru. Lapisan baru. "Kita harus cerita ke yang lain. Karena ini—" ia menatap rak-rak besi yang melengkung oleh berat enam puluh tahun rahasia, "—ini baru permulaan. Sena membebaskan kita dari Asti. Tapi tanah ini belum selesai. Belum sama sekali."
Mereka memanjat keluar lewat ventilasi satu per satu, kembali ke gedung yang tidur, dan di koridor lantai dasar, ketika Bayu menengadah—naik, melewati lantai dua, ke arah lantai tiga yang gelap dan diam—ia tahu, dengan kepastian yang membatu di dadanya, bahwa keheningan di atas sana bukan damai. Itu hanya napas yang ditahan. Dan cepat atau lambat, sesuatu yang lebih tua dari nama mana pun akan mengembuskannya kembali.