Pak Wiyono memutuskan untuk bercerita pada suatu malam ketika hujan turun deras dan asrama tenggelam dalam suara air. Ia mengirim pesan lewat Gilang—anak kecil yang ingatannya kadang bukan miliknya—agar Bayu, Reza, dan Dani datang ke perpustakaan setelah belajar wajib, saat pengasuh sibuk dengan kebocoran atap di sayap barat.
Mereka menemukannya duduk di antara rak album, ditemani lampu minyak kecil karena ia tak mau menyalakan lampu utama. Wajahnya, dalam cahaya kuning yang bergoyang, tampak seperti peta luka. Ia sakit-sakitan akhir-akhir ini, mereka tahu; batuknya dalam, tangannya makin gemetar. Tapi malam itu ada ketegasan baru di matanya, ketegasan orang yang memutuskan bahwa ia tak punya banyak waktu lagi untuk diam.
"Aku menguncinya," ia memulai, tanpa basa-basi, "dua puluh tiga tahun lalu. Pintu jeruji itu. Rantai itu. Aku yang memasangnya. Dengan tanganku." Ia mengangkat kedua tangannya, menatapnya. "Aku masih ingat dingin besinya. Aku ingat suara rantai. Dan aku ingat suara dari atas, di balik pintu yang baru kukunci—suara seorang anak perempuan, menggedor, menjerit, memanggil minta dikeluarkan. Asti. Tapi saat itu aku tidak tahu dia sudah mati. Aku pikir aku mengunci anak yang masih hidup di atas sana."
Reza terkesiap. "Bapak mengunci dia hidup-hidup?"
"Aku diperintah," kata Pak Wiyono, dan suaranya pecah. "Oleh kepala asrama saat itu. Pak Broto. Dia bilang Asti sudah gila, berbahaya, harus diisolasi sebelum 'menulari' yang lain. Aku percaya. Aku muda, aku takut kehilangan pekerjaan, dan aku percaya. Aku mengunci pintu, dan aku turun, dan aku mencoba tidak mendengar jeritan itu. Tiga malam. Tiga malam jeritan itu terdengar dari atas, makin lemah, makin lemah. Lalu pada malam ketiga, tepat pukul tiga—berhenti." Ia menutup matanya. "Dan keesokan paginya, ketika Pak Broto menyuruhku naik untuk 'membereskan', kamar itu kosong. Tidak ada tubuh. Tidak ada Asti. Hanya jendela yang tirainya tertutup rapat, dan udara yang dingin, dan bau bunga busuk. Dia tidak mati seperti manusia biasa. Dia mati menjadi sesuatu yang lain."
Dani, yang biasanya tenang, bicara dengan suara serak. "Kenapa Pak Broto melakukan itu? Kenapa nggak panggil dokter, polisi—"
"Karena dia tahu," kata Pak Wiyono, "bahwa kalau ada yang tahu seorang murid mati karena diforsir sampai gila di asrama kebanggaannya, sekolah ini selesai. Reputasinya, dananya, segalanya. Lebih mudah menguncinya. Lebih mudah berkata dia pindah. Lebih mudah—" ia menatap mereka satu per satu, "—memburamkan satu wajah dari foto, daripada mengakui bahwa keunggulan yang mereka jual ini dibangun di atas anak-anak yang diremukkan."
Hujan menderu di luar. Lampu minyak bergoyang.
"Tapi ada yang lebih buruk," lanjut Pak Wiyono, dan suaranya turun, hampir tak terdengar di atas hujan, sehingga mereka harus mencondongkan tubuh. "Sesuatu yang aku tidak pernah katakan pada siapa pun. Sesuatu yang aku temukan setelahnya, ketika langkah-langkah mulai datang pukul tiga, ketika Asti mulai memanggil." Ia menelan. "Aku pergi ke arsip lama. Ruang bawah tanah, di bawah gedung, yang dikunci sebelum aku lahir. Aku ingin tahu apakah ada cara melepaskan apa yang sudah kami buat. Dan di sana aku menemukan catatan. Tua. Jauh lebih tua dari Asti." Ia menatap api lampu minyak. "Asti bukan yang pertama, anak-anak. Dia bukan asal dari semua ini. Dia adalah yang paling kita ingat, karena dia yang paling baru, karena fotonya masih ada untuk diburamkan. Tapi sebelum Asti, ada yang lain. Dan sebelum mereka, ada lagi. Lantai tiga ini sudah lapar bahkan ketika gedung ini masih baru. Asti hanya makanan paling besar yang pernah ia dapat—anak yang penderitaannya begitu dalam sehingga ia tidak hanya hilang, ia tinggal."
Tiga anak itu duduk membeku. Di luar, petir membelah langit, dan untuk sesaat perpustakaan tua itu menyala putih, memperlihatkan rak-rak album seperti barisan batu nisan.
"Kalian ingin menghentikan ini," kata Pak Wiyono, dan ia menatap mereka dengan mata yang basah dan tua dan penuh sesuatu yang nyaris seperti harapan. "Aku bisa melihatnya. Sena membuka pintu yang aku kunci. Dia memberi kalian kesempatan yang tidak pernah dimiliki siapa pun dalam dua puluh tiga tahun. Tapi kalau kalian benar-benar ingin menghentikannya—bukan menidurkan satu hantu, tapi menyembuhkan tanah ini—kalian harus tahu apa yang ada di bawah Asti. Kalian harus turun ke arsip. Kalian harus mencari tahu siapa yang pertama. Dan kalian harus siap, karena apa yang kalian temukan di sana akan jauh lebih tua, dan jauh lebih lapar, daripada seorang gadis berkepang dua yang hanya ingin ditemani."