Mereka memilih satu nama. Dani yang memutuskan, dengan logikanya: bukan yang paling tua, karena jejaknya pasti sudah hilang, dan bukan yang terlalu baru. Sebuah nama dari sekitar dua belas tahun lalu, dengan catatan yang masih cukup terbaca, dan satu petunjuk berharga di sampingnya: pulang. Toko jahit. Nama jalannya, di sebuah kota kecil di lembah bawah, tertulis samar.
Surya Atmaja. Dicoret. Selesai. Toko jahit, Jalan Melati.
"Kita nggak bisa keluar asrama," kata Reza, menyuarakan yang sudah jelas. Gerbang dijaga. Izin keluar hanya untuk akhir pekan dengan persetujuan orang tua, dan tak satu pun dari mereka punya alasan yang akan lolos.
Tapi ada Mbak Laras.
Bayu tidak tahu namanya saat itu—mereka belum bertemu. Tapi minggu itu, ada desas-desus yang menjalar di antara murid: seorang perempuan, jurnalis, terlihat beberapa kali di kedai kopi di kaki bukit, bertanya-tanya pada warga tentang asrama. Tentang anak-anak yang "pindah". Tentang angka-angka yang tidak masuk akal. Pengasuh tampak gelisah. Pak Hartono—kepala asrama yang dingin, yang jarang menampakkan diri—turun sendiri ke gerbang suatu hari untuk memastikan tidak ada yang bicara dengan orang luar.
Itu memberi Bayu ide. Kalau mereka tak bisa keluar mencari Surya Atmaja, mungkin mereka bisa menitipkan nama itu pada seseorang yang bisa.
Tapi itu untuk nanti. Untuk sekarang, jawaban datang dari arah yang tak terduga: Pak Wiyono.
Petugas tua itu memanggil Bayu ke perpustakaan suatu sore, sendirian. Tangannya gemetar saat menuangkan teh ke dua gelas, dan ia tidak banyak basa-basi. "Surya Atmaja," katanya. "Aku ingat dia. Angkatan dua belas tahun lalu. Anak yang pintar menggambar. Selalu mencoret-coret di pinggir buku tugasnya." Matanya menerawang. "Aku menguncinya di lantai tiga juga, dengan cara yang sama aku mengunci yang lain. Dan aku tahu apa jadinya dia, karena tiga tahun lalu aku pergi ke kota itu. Aku—" Ia berhenti, suaranya bergetar. "Aku ingin tahu. Apakah ada satu saja yang baik-baik saja. Apakah ada yang aku tidak hancurkan sepenuhnya."
"Dan?" Bayu nyaris tak berani bertanya.
Pak Wiyono menatap tehnya. "Tokonya ada. Toko jahit kecil. Dia di sana, menjahit. Tangannya masih bisa membuat jahitan yang rapi—tubuhnya ingat keterampilan, tubuh selalu ingat. Tapi ketika aku masuk, ketika aku menyebut nama asrama, namaku, nama-nama teman seangkatannya—" Tangan tua itu meremas gelas. "Tidak ada. Bayu. Tidak ada apa pun di matanya. Dia tersenyum sopan, dia menjahit kancingku karena aku berpura-pura datang sebagai pelanggan, dan dia tidak mengenal satu pun yang aku sebut. Bukan lupa. Lebih dalam dari lupa. Seperti bagian dirinya yang seharusnya menyimpan masa muda, masa di asrama, dirinya yang dulu—bagian itu tidak pernah turun. Tinggal di atas. Yang pulang ke kota itu hanya tubuh yang menjahit, yang makan, yang tersenyum, yang menjalani hidup tanpa pernah tahu bahwa ada lubang sebesar masa remajanya di dalam dirinya."
Bayu duduk diam, tehnya dingin. Ia memikirkan dirinya sendiri. Ia kembali—isinya kembali. Tapi Surya tidak, dan tidak akan pernah, karena Asti telah istirahat membawa serta apa yang ia simpan, dan Sena tak bisa menyelamatkan apa yang sudah pergi terlalu lama. Yang mati tetap mati. Yang hilang sebelum malam itu tetap hilang.
"Apakah dia bahagia?" tanya Bayu, dan ia tidak yakin kenapa ia bertanya, kecuali bahwa ia perlu tahu.
Pak Wiyono lama tidak menjawab. "Dia tampak tenang," akhirnya katanya. "Tidak tersiksa. Tidak takut. Mungkin itu yang Bu Marni dan yang lain bilang pada diri mereka sendiri—lihat, mereka baik-baik saja, mereka tenang, kami memberi mereka ketenangan. Tapi Bayu—" Ia menatap anak itu dengan mata yang penuh dua puluh tiga tahun penyesalan. "Ketenangan yang dipaksakan dengan mencuri seseorang dari dirinya sendiri itu bukan ketenangan. Itu kematian yang berjalan-jalan, yang menjahit kancing, dan tersenyum pada orang yang dulu menguncinya. Dan aku adalah orang yang menguncinya."
Sore itu, berjalan kembali ke kamar dalam temaram, Bayu membawa pulang kebenaran yang lebih berat daripada hantu mana pun: bahwa di luar sana, tersebar di kota-kota, ada lebih dari dua ratus orang yang berjalan dengan lubang di dalam dirinya. Bahwa membebaskan Asti tidak mengembalikan mereka. Bahwa beberapa luka, sekali ditorehkan, hanya bisa dihitung, tidak disembuhkan. Dan ia bersumpah, dengan kemarahan dingin yang kini telah menjadi tekadnya, bahwa nama-nama itu tidak akan tinggal jadi coretan dalam buku. Seseorang akan menyebutnya kembali. Suatu hari, seseorang akan memanggil mereka pulang—setidaknya dengan nama, kalau tidak dengan diri mereka.