Mereka memutuskan untuk membaca seluruh buku itu, dengan teliti, dari awal sampai akhir. Bukan untuk satu malam di bawah selimut, melainkan dengan perhatian penuh, seperti Dani membaca soal ujian—mencari pola, mencari hal yang janggal, mencari kebenaran yang bersembunyi di sela-sela tinta.
Mereka melakukannya di perpustakaan, di sudut paling belakang di antara rak-rak album tua, tempat yang sama di mana Sena dulu menemukan wajah buram Asti. Pak Wiyono, petugas tua itu, tahu mereka ada di sana—Bayu yakin ia tahu—tapi ia tidak mengusir mereka. Ia hanya duduk di mejanya di depan, mengawasi pintu, seakan menjaga agar tak seorang pun mengganggu. Sekutu diam, untuk alasan yang belum mereka pahami.
Dani membuka buku itu di halaman pertama daftar PERSEMBAHAN dan mulai menghitung. Bibirnya bergerak tanpa suara. Setelah lama, ia berhenti, dan wajahnya pucat.
"Berapa?" tanya Reza.
"Aku berhenti di dua ratus tiga puluh," kata Dani pelan. "Dan masih ada lagi. Tulisannya makin lama makin pudar di halaman-halaman awal, susah dibaca. Tapi—" Ia menelan. "Lebih dari dua ratus tiga puluh nama. Dua puluh tiga tahun. Hampir sepuluh anak setahun."
Keheningan di antara rak-rak debu itu terasa seperti tekanan air. Sepuluh anak setahun. Sepuluh keluarga setahun yang menerima surat "dipindahkan atas permintaan keluarga". Sepuluh kursi kosong di aula yang gelasnya tetap diisi sampai daftar diperbarui.
Mereka membaca catatan di samping nama-nama. Sebagian besar dicoret dengan satu garis dan kata selesai. Tapi semakin Bayu membaca, semakin ia menyadari bahwa "selesai" tidak berarti apa yang ia kira. Di sebelah beberapa nama, ada catatan tambahan dengan tinta berbeda, ditulis bertahun kemudian, seakan pengasuh menindaklanjuti: lulus, pulang. Bekerja di pabrik tekstil. Menikah. Meninggal usia 31. Tidak ada kabar. Hilang setelah lulus.
"Mereka melacak," bisik Dani, ngeri. "Lihat. Mereka mengikuti ke mana anak-anak ini pergi setelah lulus. Kenapa?"
"Untuk memastikan," kata Bayu pelan, dan rasa dingin merayap di tulangnya saat ia memahaminya. "Untuk memastikan tidak ada yang sembuh. Tidak ada yang ingat. Tidak ada yang bicara. Anak yang 'kosong' aman bagi mereka—dia tidak akan pernah menceritakan apa yang terjadi, karena dia bahkan tidak tahu ada yang terjadi padanya."
Ia membaca lebih jauh, dan menemukan hal yang membuatnya berhenti. Sebuah catatan, dengan tinta yang berbeda dan tulisan tangan yang lebih tua: subjek kembali sebagian. mulai bertanya. dipantau. Lalu, di bawahnya, beberapa bulan kemudian: tidak lagi jadi masalah.
"Reza." Suara Bayu tercekat. "Lihat ini."
Mereka bertiga menatap kalimat itu. Tidak lagi jadi masalah. Tak ada penjelasan. Tapi mereka tidak butuh penjelasan. Anak ini, entah siapa, suatu hari mulai "kembali sebagian"—seperti Gilang, seperti diri mereka sendiri—dan mulai bertanya. Dan kemudian, dengan cara yang tidak dicatat, ia "tidak lagi jadi masalah".
"Mereka nggak cuma kasih makan ke atas," kata Reza, suaranya hampir tak terdengar. "Mereka juga—mereka jaga rahasianya. Di luar sini. Bertahun-tahun."
Bayu menutup buku itu, tangannya gemetar. Apa yang mereka pikir adalah satu hantu di satu lantai ternyata adalah jaring yang jauh lebih luas: sebuah sistem yang menjangkau ke luar gerbang, melacak korbannya sampai ke kehidupan dewasa, memastikan keheningan dengan cara-cara yang bahkan tak berani ditulis lengkap. Lebih dari dua ratus nama. Sebagian "selesai". Sebagian "hilang". Sebagian, mungkin, masih hidup di suatu tempat sekarang juga—orang dewasa berusia tiga puluh, empat puluh, lima puluh tahun, berjalan di kota-kota jauh, kosong di dalam, tidak pernah tahu mengapa ada lubang di tempat seharusnya ada diri mereka.
"Kita harus cari mereka," kata Bayu akhirnya. "Yang masih hidup. Yang dicoret. Setidaknya satu. Kita harus tahu apa jadinya anak yang nggak pernah pulang utuh."
Di depan, di mejanya, Pak Wiyono mengangkat kepala. Matanya yang tua dan basah menatap mereka dari kejauhan, dan ia mengangguk sekali, sangat pelan, seperti orang yang sudah lama menunggu seseorang akhirnya bertanya.