Mereka memperkirakan akan ada kehebohan ketika Bu Marni menyadari bukunya hilang. Penggeledahan kamar, ancaman, mungkin pemanggilan satu per satu. Tapi yang terjadi justru lebih meresahkan: tidak terjadi apa-apa.
Hari berlalu. Bu Marni tidak menggeledah. Ia tidak mengumumkan kehilangan. Ketika Bayu berpapasan dengannya di koridor, perempuan itu menatapnya—lama, langsung, dengan mata yang lelah di balik kacamata—dan dalam tatapan itu Bayu membaca sesuatu yang membuatnya lebih takut daripada kemarahan. Pengetahuan. Bu Marni tahu siapa yang mengambil buku itu. Dan ia memilih diam.
Pertanyaan kenapa menggantung di kepala Bayu selama berhari-hari, sampai akhirnya, pada suatu sore mendung, Bu Marni sendiri yang menjawabnya.
Bayu sedang sendirian di taman belakang, di bangku tempat dulu Sena pernah mencoba mengobrol dengannya, di hari-hari ketika ia masih kosong. Bu Marni datang, duduk di ujung lain bangku, tanpa diminta, tanpa menatapnya. Untuk beberapa lama ia hanya memandangi cemara. Lalu ia bicara, suaranya pelan, tanpa senyum terlatih yang biasa.
"Aku tahu kamu yang ambil," katanya. "Tidak apa-apa. Mungkin memang seharusnya di tangan kalian. Aku—" Ia berhenti, menelan. "Aku mencoba membakarnya. Tiga kali. Setiap kali aku berhenti. Tahu kenapa?"
Bayu tidak menjawab. Ia hanya menunggu, jantungnya berdebar, merasa bahwa satu kata yang salah bisa menutup pintu yang baru saja terbuka ini.
"Karena membakar nama-nama itu," lanjut Bu Marni, "rasanya seperti membunuh mereka untuk kedua kalinya. Mereka pernah ada. Bayu Pratama. Sena Aditama. Anak-anak sebelum kalian yang aku—" Suaranya pecah, dan ia menutup mulutnya dengan punggung tangan, lalu menariknya turun dengan susah payah. "Yang aku serahkan. Dengan tanganku sendiri. Aku menulis nama mereka, aku memilih mereka, aku memberi mereka 'vitamin' supaya mereka tidak melawan. Dua puluh tiga tahun, Bayu. Aku sudah lupa berapa banyak."
Bayu merasakan kemarahan dingin itu naik lagi, tapi ia menahannya. Karena di balik kemarahan ada pertanyaan yang lebih penting. "Kenapa, Bu?"
"Karena aku takut." Untuk pertama kalinya ia menoleh menatap Bayu, dan matanya basah. "Bukan alasan. Hanya kebenaran. Aku takut padanya. Pada apa yang ada di atas. Aku melihat apa yang terjadi sebelum sistem ini ada—aku masih muda, pengasuh baru, dan suatu malam dia turun karena tidak ada yang diberikan, dan yang kulihat keesokan paginya—" Ia menggeleng keras, seakan mengusir gambar. "Aku tidak akan menceritakannya. Tapi setelah itu, ketika mereka bilang ada cara untuk menjaganya tetap tenang, ada sistem, ada daftar—aku ikut. Aku bilang pada diriku sendiri itu kebaikan. Bahwa lebih baik kehilangan sebagian anak daripada semua anak. Aku percaya itu selama dua puluh tiga tahun supaya aku bisa tidur."
"Tapi bukan Bu yang mulai," kata Bayu, pelan, menebak. "Sistem ini. Daftar ini. Bu cuma melanjutkannya."
Bu Marni terdiam lama. Cemara bergoyang. Di kejauhan, bel sore berbunyi.
"Tidak," akhirnya ia berkata. "Bukan aku yang mulai. Ada yang sebelum aku. Dan sebelum dia, ada yang lain lagi. Aku hanya satu tangan dalam rantai yang panjang." Ia menatap tanah. "Tapi kalau kamu ingin tahu siapa yang pertama memberi perintah—yang menyuruh mengunci pintu, yang membuat daftar pertama, yang memutuskan bahwa anak-anak ini bisa ditukar—maka kamu tidak akan menemukannya di buku itu. Kamu harus bertanya pada orang yang masih ingat malam pintu itu dikunci. Pada orang yang menguncinya dengan tangannya sendiri."
Bayu menahan napas. "Pak Wiyono. Petugas perpustakaan."
Bu Marni mengangguk pelan, seperti melepaskan beban yang telah ia panggul terlalu lama. "Dan kalau dia mau bicara—" suaranya hampir berbisik sekarang, dan ada ketakutan baru di dalamnya, ketakutan yang berbeda dari ketakutan akan Asti, "—dia akan memberitahumu sesuatu yang bahkan aku berusaha tidak memikirkannya selama dua puluh tiga tahun. Bahwa Asti bukan yang pertama, Bayu. Anak itu bukan awal dari semua ini. Dia hanya yang paling kita ingat."
Ia bangkit, merapikan roknya dengan tangan yang gemetar, dan berjalan pergi—tidak seperti penjaga, tidak seperti arsitek sistem yang dingin, melainkan seperti perempuan tua yang baru saja mengaku, untuk pertama kalinya, dan menemukan bahwa pengakuan tidak meringankan, hanya memindahkan beban ke tempat yang lebih dalam.
Bayu duduk sendirian di bangku itu sampai gelap, kata-kata Bu Marni berputar di kepalanya. Asti bukan yang pertama. Dan ia tahu, dengan kepastian yang dingin, bahwa pintu yang baru saja dibuka oleh pengakuan ini menuju ke tempat yang jauh lebih gelap daripada satu kamar di lantai tiga.