Pemulihan, ternyata, tidak seperti lampu yang dinyalakan. Lebih seperti fajar yang lambat, tidak rata, dengan bagian-bagian yang tetap gelap meski matahari sudah naik.
Selama minggu-minggu berikutnya, Bayu memperhatikan anak-anak "kosong" di seluruh asrama mulai "menyala" lagi, satu per satu. Ada yang tiba-tiba tertawa di tengah pelajaran karena lelucon yang sudah lama tak bisa mereka tangkap. Ada yang menangis tanpa sebab di kamar mandi, isak yang panjang dan lega seperti sumbat yang akhirnya terlepas. Ada yang mulai bertengkar kecil soal antrean kamar mandi—dan Bayu, anehnya, merasa lega mendengar pertengkaran itu, karena bertengkar berarti merasa, dan merasa berarti hidup.
Tapi tidak semua kembali utuh.
Ada seorang anak kelas satu bernama Gilang, kurus dengan rambut ikal, yang dulu duduk di sudut kelas seperti bayangan. Sekarang Gilang bicara lagi, tertawa lagi, tapi kadang ia berhenti di tengah kalimat dan menatap kosong ke titik di udara, lalu berkata hal-hal yang tidak masuk akal. Suatu siang di kantin, Bayu mendengarnya bergumam, "Aku harus selesaikan soal kimia sebelum jam tiga, kalau tidak Bu Ratna marah." Tapi tak ada Bu Ratna di asrama ini. Tak ada guru bernama itu. Ketika Reza bertanya siapa Bu Ratna, Gilang mengerjap, bingung, dan berkata ia tidak tahu, ia tidak pernah bilang begitu.
Bayu merasakan dingin merayap di tengkuknya. Ia mengenali pola itu, samar, dari pengalamannya sendiri.
Malam itu, di kamar 207, ia mencoba menjelaskannya pada Reza dan Dani. "Waktu kita ditarik ke atas," katanya pelan, memilih kata-kata dengan hati-hati karena bahkan menyebutnya pun terasa berbahaya, "isi kita disimpan di sana. Bareng. Banyak anak, bertahun-tahun. Dan waktu... waktu Sena membuat dia melepaskan, semua isi itu turun sekaligus. Cepat. Mungkin terlalu cepat."
"Maksudmu," Dani menyipitkan mata, otak analitisnya bekerja, "isinya ketuker? Sebagian?"
"Aku nggak tahu." Bayu memandangi tangannya. "Tapi kadang aku ingat hal-hal yang bukan punyaku. Ulang tahun yang nggak pernah aku rayain. Wajah orang yang nggak pernah aku kenal. Kemarin aku hampir nangis nyium bau melati, dan aku nggak tahu kenapa, aku nggak pernah punya kenangan apa-apa soal melati." Ia menelan. "Aku rasa pas turun, sebagian dari kita bawa pulang potongan yang bukan milik kita. Dan sebagian... sebagian mungkin nggak dapat semua potongannya balik."
Keheningan menggantung di kamar. Di luar, cemara bergesek angin.
Reza yang akhirnya memecahnya, suaranya kecil. "Gilang. Dia ngomong soal guru yang nggak ada. Bu Ratna."
"Mungkin Bu Ratna nyata," kata Bayu. "Buat seseorang. Bertahun-tahun lalu. Anak yang dulu ditarik, yang nggak pernah balik utuh, yang isinya nyangkut di atas sampai sekarang. Dan pas semua dilepas, potongan ingatan itu nyasar ke Gilang."
Dani menggosok wajahnya. "Jadi kita nggak cuma punya satu masalah. Kita punya—berapa banyak? Puluhan anak yang pulih, tapi sebagian bawa ingatan orang mati."
Bayu tidak menjawab. Ia tidak perlu. Mereka bertiga tahu bahwa Sena telah memutus rantai—tapi rantai itu telah berkarat selama dua puluh tiga tahun, dan memutusnya tidak menghapus karatnya. Bekas luka tidak hilang instan. Asti telah istirahat, sistem telah runtuh, tapi tanah ini telah menyerap terlalu banyak penderitaan, dan penderitaan tidak menguap begitu saja. Ia mengendap. Ia menunggu.
Beberapa hari kemudian, Bayu melihat Gilang di taman belakang, duduk sendirian, menggambar sesuatu di tanah dengan ranting. Ia mendekat perlahan. Di tanah, Gilang telah menggambar denah—sebuah ruangan, koridor, dan di ujungnya satu kamar yang diberi tanda silang. Tangannya bergerak sendiri, matanya kosong.
"Gilang?" panggil Bayu lembut.
Anak itu mendongak, dan untuk sesaat matanya bukan mata anak kelas satu, melainkan mata seseorang yang jauh lebih tua dan jauh lebih lelah. "Kamarnya nggak ada di denah," kata Gilang, suaranya datar, bukan suaranya sendiri. "Yang di balik dinding. Tempat dia benar-benar pergi." Lalu ia berkedip, dan keanehan itu lenyap, dan ia hanya seorang anak yang bingung kenapa ada orang berdiri di depannya. "Eh, Kak Bayu. Aku ngapain ya tadi?"
Bayu menatap denah di tanah, dan rasa dingin itu kembali, lebih dalam dari sebelumnya. Ia menghapus gambar itu dengan kakinya, pelan, tapi ia tidak akan melupakannya. Kamar yang tidak ada di denah. Yang di balik dinding. Ada sesuatu yang lebih dalam dari yang sudah mereka ketahui. Dan potongan-potongan dari anak-anak yang kembali ini, ternyata, membawa pesan dari masa lalu yang belum selesai bicara.