Bayu tahu ia tidak seharusnya naik. Pintu jeruji memang masih menganga sejak malam itu, rantainya tergeletak di lantai seperti ular mati, dan tak seorang pun pengasuh berani menutupnya kembali—seakan menutupnya berarti mengakui bahwa masih ada sesuatu yang perlu dikurung. Tapi naik ke atas adalah hal lain. Naik adalah memasuki tempat yang telah menelan begitu banyak, tempat di mana Sena pergi. Setiap insting dalam diri Bayu menyuruhnya menjauh.
Tapi gambar Gilang di tanah itu tak mau lepas dari kepalanya. Kamar yang tidak ada di denah. Dan ia merasa, dengan keyakinan yang tak bisa ia jelaskan, bahwa jawaban-jawaban menunggu di atas. Maka pada suatu sore, ketika Reza dan Dani sedang piket dapur dan koridor sepi, Bayu naik sendiri.
Tangga itu tidak memanjang seperti yang diceritakan tentang malam terakhir. Dalam cahaya sore yang masuk dari jendela tangga, ia hanya tangga tua biasa, dengan papan kayu yang berderik di bawah kakinya dan debu yang menempel di pegangan. Bayu naik perlahan, jantungnya memukul, mengingat semua malam ia berdiri di kaki tangga ini, ditarik oleh suara yang memanggil namanya. Sekarang tidak ada suara. Hanya keheningan, dan keheningan itu, ia sadari saat mencapai puncak, punya tekstur tersendiri. Tebal. Memperhatikan.
Lantai tiga terbentang di hadapannya, persis seperti yang diceritakan Reza setelah pagi itu: kamar-kamar berderet, ranjang-ranjang tua, debu setebal salju abu-abu yang menutupi segalanya. Cahaya sore masuk lewat jendela yang tirainya kini tersibak, menerangi partikel-partikel debu yang melayang malas di udara. Tidak menyeramkan, tidak dalam arti yang biasa. Tapi ada yang salah dengan keheningannya, dan butuh beberapa saat bagi Bayu untuk memahami apa.
Tidak ada bunyi. Sama sekali. Tidak ada cicit tikus, tidak ada dengung lalat, tidak ada gesekan ranting di jendela meski di luar cemara bergoyang. Seakan suara itu sendiri ditolak masuk ke lantai ini. Seakan lantai tiga menahan napasnya.
Bayu berjalan menyusuri koridor, langkahnya meninggalkan jejak di debu—jejak pertama, ia sadari, sejak Sena. Tak ada yang berani naik selama berminggu-minggu. Ia tiba di kamar paling ujung, dan masuk.
Di sanalah ia. Dua cekungan di debu, di tepi ranjang tua, berdampingan. Bayu telah mendengar tentangnya dari Reza, tapi melihatnya sendiri adalah hal lain. Berminggu-minggu telah lewat. Debu turun setiap hari di seluruh asrama, di setiap permukaan. Tapi dua cekungan ini masih utuh, masih jelas, masih persis berbentuk dua orang yang duduk berdampingan—seakan debu baru menolak menutupinya, seakan waktu di titik ini berhenti. Di atas meja, tulisan jari Sena masih terbaca, tak tertutup debu. Dia tidak sendiri lagi. Sudah waktunya dia istirahat.
Bayu berdiri lama menatap dua cekungan itu. Tenggorokannya tercekat. Di sinilah Sena duduk, semalaman, di samping seorang gadis yang telah menderita lebih lama dari Bayu hidup, dan menemaninya sampai keduanya pergi bersama. Bayu mengulurkan tangan, ragu, lalu menyentuh tepi salah satu cekungan, hati-hati, seakan menyentuh sesuatu yang suci. Debunya dingin. Tapi tidak menggigit. Hanya dingin yang sedih.
"Terima kasih," bisik Bayu, dan suaranya teredam oleh keheningan yang tebal, seakan kata-katanya diserap sebelum sempat bergema. "Aku—kami—nggak akan lupa."
Dan saat itulah ia merasakannya. Bukan langkah kaki. Bukan suara. Bukan sosok pucat di sudut mata. Sesuatu yang lebih halus dan lebih menakutkan: perasaan diawasi. Bukan oleh seseorang—oleh keheningan itu sendiri. Seperti seluruh lantai ini, debu dan dinding dan udara yang tak bergerak, perlahan mengarahkan perhatiannya pada Bayu, satu titik kecil yang hangat dan bernapas di tengah ruang yang telah lama mati. Tengkuknya meremang. Bukan dingin gaib yang ia kenal dulu, bukan bau bunga busuk. Sesuatu yang lain. Lebih tua. Lebih sabar.
Bayu mundur perlahan, tidak berani berbalik membelakangi ruangan. Ia melangkah keluar kamar, menyusuri koridor, jejaknya sendiri di debu menuntunnya kembali. Sepanjang perjalanan ke tangga, perasaan diawasi itu tak melepaskannya. Bukan mengancam. Hanya menyadari. Seperti binatang besar yang membuka satu mata di kegelapan, melihat sesuatu kecil bergerak, lalu menutupnya lagi—belum lapar, belum bergerak, hanya tahu sekarang bahwa kau ada.
Di kaki tangga, kembali ke lantai dua, suara dunia kembali: angin, derit pintu jauh, langkah anak-anak. Bayu bersandar ke dinding, jantungnya berdebar. Asti telah pergi. Itu pasti. Keheningan di atas bukan keheningannya. Tapi keheningan itu bukan kekosongan. Ada sesuatu di bawahnya, di balik debu yang tak mau turun, sesuatu yang telah ada bahkan sebelum Bayu naik, bahkan mungkin sebelum Asti. Dan untuk pertama kalinya Bayu mengerti bahwa Sena mungkin telah menyelamatkan mereka dari satu hantu—tapi tidak dari tempat yang melahirkannya.