Berita resmi keluar tiga hari kemudian, ditempel di papan pengumuman lobi dengan huruf cetak yang rapi dan dingin: Sena Aditama telah dipindahkan atas permintaan keluarga karena alasan kesehatan. Kami mendoakan yang terbaik untuknya.
Bayu membaca pengumuman itu dua kali. Kalimatnya halus, sopan, tak bercela—dan setiap kata di dalamnya bohong. Ia tahu, karena ia di sana malam itu. Tak ada keluarga yang meminta. Tak ada perpindahan. Sena tidak sakit. Sena tidak ada di mana-mana yang bisa dikunjungi, dialamati, ditelepon. Tapi di sini, di papan kayu di tengah lobi yang mengilap, kebohongan itu sudah punya stempel dan tanggal, dan mulai hari ini ia adalah kebenaran resmi.
"Mereka cepat sekali," gumam Reza di sampingnya, membaca di atas bahu Bayu. "Kayak udah punya kalimatnya dari dulu. Tinggal isi nama."
"Memang punya," kata Dani datar. Ketiganya saling pandang, dan tak satu pun perlu menjelaskan. Tentu mereka punya. Berapa banyak nama yang sudah pernah mengisi kalimat itu selama dua puluh tiga tahun? Dipindahkan atas permintaan keluarga. Alasan kesehatan. Kami mendoakan yang terbaik. Sebuah formulir untuk menghilang.
Hari itu hujan turun tipis sejak siang, membuat cemara basah dan gelap, dan kabut menggantung rendah di bukit. Menjelang sore, ketika anak-anak berkumpul di aula untuk belajar wajib, seorang petugas dapur datang berbisik kepada pengasuh, dan Bayu—yang kebetulan duduk dekat jendela yang menghadap halaman depan—melihat sesuatu yang membuat dadanya mengencang.
Di gerbang besi, di balik tirai hujan, berdiri seorang laki-laki.
Bayu mengenalinya. Bukan karena pernah bertemu, tapi karena ia pernah mendengar suaranya—lewat ingatan Sena yang sempat menyentuh ingatannya di malam terakhir, samar seperti gema. Kemeja yang disetrika terlalu rapi. Bahu yang turun. Ayah Sena. Laki-laki yang dulu menggenggam bahu anaknya terlalu erat dan berkata jangan bikin malu, dan kini berdiri di luar gerbang yang dikunci, di bawah hujan, memegang sebuah surat di tangan.
Bayu bangkit tanpa berpikir. Reza menarik lengannya. "Bay, kamu mau ngapain—"
"Dia datang nyari Sena," kata Bayu pelan. "Dia belum tahu."
Mereka tak bisa keluar—pintu asrama dijaga, dan pengasuh sudah bergerak cepat menuju gerbang. Tapi dari jendela aula, Bayu menonton. Bu Marni dan seorang pengasuh laki-laki keluar dengan payung, berjalan ke gerbang, tidak membukanya. Mereka bicara melalui jeruji. Bayu tak bisa mendengar, tapi ia tak perlu. Ia melihat tangan Bu Marni terangkat dalam gerak menenangkan. Ia melihat ayah Sena menyodorkan surat lewat sela jeruji. Ia melihat bahu laki-laki itu, yang sudah turun, turun lebih dalam lagi. Ia melihat kepala Bu Marni menggeleng, pelan, penuh penyesalan yang dilatih, dan bibirnya membentuk kata-kata yang sudah Bayu hafal tanpa mendengarnya: dipindahkan, kesehatan, permintaan keluarga.
Ayah Sena berdiri di sana lama sekali setelah pengasuh kembali masuk. Hujan membasahi kemejanya yang disetrika rapi. Ia menatap gedung tiga lantai itu, dari bawah ke atas, dan untuk sesaat—Bayu bersumpah ia melihatnya—pandangan laki-laki itu naik sampai ke jendela-jendela lantai tiga yang tertutup tirai gelap, lalu berhenti di sana, seolah ada bagian dirinya yang merasakan sesuatu, sesuatu yang tak bisa dijelaskan logika, sesuatu yang membisikkan bahwa anakku ada di atas sana dan aku tak akan pernah bisa menjemputnya pulang.
Lalu ia berbalik, dan berjalan menuruni jalan setapak menuju kota, sosok kecil yang menghilang ke dalam kabut.
"Suratnya," kata Dani. "Dia ngasih surat ke Bu Marni."
Mereka menemukan jawabannya malam itu, atau setidaknya bayangannya. Saat lewat depan kantor untuk mengambil air, Bayu melihat lewat celah pintu: Bu Marni duduk sendiri di mejanya, kacamata di meja, dan di tangannya, surat yang basah oleh hujan. Ia tidak membukanya. Ia hanya memegangnya, menatapnya, seperti memegang sesuatu yang panas dan tak berani dilepaskan maupun dibuka.
Bayu mundur sebelum ketahuan. Di koridor gelap, ia berdiri sejenak, dan untuk pertama kalinya sejak kembali, rasa takut lamanya digantikan oleh sesuatu yang lebih tajam dan lebih berguna. Kemarahan. Bukan kemarahan yang meledak—Bayu tak punya tenaga untuk itu—melainkan kemarahan yang dingin dan sabar, yang berkata: kebohongan ini baru saja dimulai. Dan mereka akan terus menulisnya, nama demi nama, kalau tak ada yang menghentikan.
Ia kembali ke kamar 207, dan untuk pertama kalinya, ia tidak hanya ingin selamat. Ia ingin tahu. Ia ingin membongkar. Demi Sena, yang ayahnya pulang membawa surat yang takkan pernah terbaca.