Pagi pertama setelah malam itu datang dengan cara yang ganjil: terlalu biasa. Bayu Pratama bangun pukul setengah enam karena bel, seperti ratusan pagi sebelumnya, tapi untuk pertama kalinya dalam entah berapa lama, ia benar-benar merasakan dinginnya lantai di bawah telapak kaki, mendengar gemericik air dari kamar mandi di ujung koridor, mencium bau roti gosong dari dapur bawah. Hal-hal kecil yang dulu lewat begitu saja melalui dirinya seperti melalui jendela kosong. Sekarang semua menempel. Sekarang ia ada di dalam tubuhnya sendiri lagi, dan itu terasa sesak dan asing, seperti memakai baju yang sudah lama digantung.
Reza sudah berdiri di depan cermin, menyisir rambut dengan jari, mengoceh tentang ulangan matematika yang akan datang. Dani melipat selimutnya dengan rapi, terlalu rapi, seperti yang selalu ia lakukan saat gugup. Mereka berlagak seperti tiga anak biasa yang bersiap untuk hari biasa. Tapi tak satu pun dari mereka menengok ke ranjang keempat. Ranjang atas, yang seprainya masih sedikit kusut, yang bantalnya masih sedikit cekung di tengah. Ranjang Sena.
Tidak ada yang membereskannya. Tidak ada yang mengusulkannya.
Di aula, sarapan berlangsung seperti biasa. Bubur, telur rebus, teh tawar dalam gelas seng. Ratusan anak duduk berderet, dan keheningan sopan yang dulu menyelimuti aula itu masih ada, tapi terasa berbeda sekarang—bukan keheningan yang ditakuti, melainkan keheningan orang-orang yang sama-sama tahu sesuatu telah berubah dan tak seorang pun berani menamainya. Bayu memperhatikan meja-meja lain. Di sana-sini, anak-anak yang dulu pucat dan diam—anak-anak "kosong" seperti dirinya dulu—kini menyuap buburnya dengan tangan yang sedikit gemetar, mata yang berkedip terlalu cepat, seperti orang yang baru bangun dari tidur panjang dan belum yakin ini bukan mimpi.
Tapi yang paling berat bukan itu.
Yang paling berat adalah satu kursi kosong di ujung meja mereka. Tempat Sena biasa duduk, baru beberapa hari, tapi cukup lama untuk meninggalkan bentuknya. Gelas teh diletakkan petugas dapur di sana, otomatis, karena daftar belum diperbarui. Gelas penuh. Tak tersentuh. Uapnya naik tipis lalu hilang.
"Mereka belum tahu harus apa," kata Dani pelan, suaranya nyaris tak terdengar. Ia menatap gelas itu. "Petugas dapur. Mereka masih masak untuk dia."
Reza menyodok telurnya tanpa makan. Tawa paginya sudah habis. "Dia baru di sini empat hari," gumamnya. "Empat hari. Kenapa rasanya kayak—" Ia tak menyelesaikan. Ia menelan, dan matanya memerah, dan ia memalingkan wajah ke jendela seakan ada yang menarik perhatiannya di luar sana, padahal hanya ada cemara dan kabut tipis.
Bayu mengerti sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan pada keduanya. Saat ia masih "kosong", saat isinya tertarik ke atas, ia sempat berada di tempat yang sama dengan Sena di malam terakhir. Bukan dengan mata, bukan dengan telinga—dengan sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang masih menempel di tepian ingatannya seperti bau yang tak mau hilang dari baju. Ia tahu Sena duduk di kamar ujung itu sampai pagi. Ia tahu Sena tidak menjerit. Ia tahu, entah bagaimana, bahwa anak yang baru empat hari mereka kenal itu telah naik supaya Bayu tidak perlu naik. Supaya Reza tidak perlu. Supaya Dani tidak perlu.
Utang seperti itu tidak bisa dibayar. Hanya bisa ditanggung.
Bu Marni lewat di antara meja-meja, memeriksa, tapi gerakannya kaku, seperti boneka yang talinya kendor. Ketika pandangannya bertemu mata Bayu, ia berhenti sejenak. Mulutnya bergerak seakan hendak berkata sesuatu, lalu menutup lagi. Ia berjalan pergi. Bayu menyadari, dengan kejutan kecil, bahwa untuk pertama kalinya perempuan itu tampak tua. Benar-benar tua. Seperti seseorang yang selama dua puluh tiga tahun menahan napas dan akhirnya mengembuskannya, hanya untuk menemukan bahwa di balik napas yang ditahan itu tidak ada kelegaan, melainkan ruang kosong yang harus diisi sesuatu yang lain. Rasa bersalah, mungkin. Bayu tak tahu, dan saat itu ia tak peduli.
Bel masuk berbunyi. Anak-anak bangkit serempak. Bayu berdiri terakhir, dan sebelum pergi, ia menyentuh tepi gelas teh di kursi kosong itu. Gelasnya sudah dingin.
Di kelas, di lapangan, di koridor, hari berjalan terus. Guru mengajar. Anak-anak menjawab. Asrama berpura-pura, dengan ketekunan yang nyaris heroik, bahwa tidak ada yang hilang. Tapi malam itu, ketika lampu padam pukul sepuluh dan kamar 207 tenggelam dalam gelap, Bayu berbaring terjaga, menunggu. Dani menunggu juga, ia tahu dari napasnya. Reza pura-pura tidur tapi sesekali menelan ludah keras.
Pukul tiga datang.
Dan tidak terjadi apa-apa.
Tidak ada Tuk. Tidak ada langkah hati-hati menyeberangi langit-langit. Tidak ada nama yang dipanggil dari atas dengan suara yang seperti pelukan dan jerat sekaligus. Hanya hening. Hening yang murni, hening yang biasa, hening yang seharusnya melegakan.
Tapi Bayu menemukan, sambil menatap kegelapan di mana langit-langit seharusnya berada, bahwa keheningan itu justru lebih berat daripada langkah kaki mana pun. Karena di balik langkah kaki dulu ada sesuatu—seorang gadis, kesepian, lapar, tapi nyata. Dan di balik keheningan ini ada kekosongan yang ditinggalkan oleh seseorang yang menukar dirinya untuk mengisi keheningan itu. Bayu menutup matanya, dan untuk pertama kalinya sejak isinya kembali, ia membiarkan dirinya menangis dalam diam, supaya yang lain tidak dengar.