Maya tidak menyembunyikan alamatnya. Ia membeli rumah itu delapan tahun lalu melalui agen dan tidak pernah mengenal Kartika. Begitu hubungan ditemukan, ia mengundurkan diri sementara dari pemeriksaan Mediator agar tidak mengawasi bukti yang mungkin berada di rumahnya.
Pengadilan menunjuk pengacara lain untuk Livia dan keluarga korban pada jalur tersebut. Maya tetap mendampingi perkara lain yang tidak bersinggungan, dengan daftar batas tertulis.
Akta jual beli menunjukkan Kartika menjual rumah melalui kuasa. Harga diterima rekening rumah sakit. Tetangga lama mengingat seorang perempuan sakit tinggal di sana bersama adiknya, tetapi tidak tahu pekerjaan mereka.
Maya memberi izin pencarian terbatas setelah pengacaranya hadir. Tim tidak membongkar seluruh rumah. Mereka mencari nomor kotak yang tercantum pada arsip Astera memakai pemindai dinding dan daftar renovasi.
Di bawah lantai kamar kerja ditemukan pelat logam, tetapi rongganya kosong. Debu menunjukkan benda persegi pernah disimpan dan dipindahkan sebelum Maya membeli rumah. Pada sisi pelat tergores tanggal enam bulan setelah DA-217.
Arsip agen menemukan foto penjualan. Sebuah kotak hitam terlihat di rak belakang. Labelnya cocok dengan paket Mediator. Foto lain menunjukkan seorang perempuan berkursi roda yang diyakini Kartika.
Catatan rumah sakit menyebut Kartika menderita penyakit ginjal dan meninggal tujuh tahun lalu. Identifikasi serta keluarga cocok. Tidak ada kematian palsu kedua.
Adiknya, Laras Senoaji, masih hidup di kota pesisir. Ia meminta wawancara dilakukan di rumah dan tidak direkam video. Kartika pernah membawa kotak dari pengadilan karena atasannya mengatakan berisi salinan perkara yang akan dimusnahkan.
'Apakah ia tahu tentang PULANG?' tanya penyidik.
'Dia menyebut dirinya pengantar, bukan penjaga.'
Kartika membuka kotak setelah membaca berita yang terus menyalahkan Mahesa. Isinya pita Anwar, daftar saksi, dan aturan memilih bukti. Ia mencoba mengembalikannya kepada Seno, tetapi ditolak petugas regulator.
Enam bulan setelah laporan, seseorang dari Astera datang menawarkan biaya pengobatan bila Kartika menyimpan kotak dan meneruskan dokumen tertentu ke hakim. Laras mengingat nama Yudhistira pada kartu tamu.
Kartika menerima biaya karena membutuhkan dialisis. Ia juga mengirim dua bukti kepada pengadilan. Salah satunya membuat klaim keluarga awak kabin dibuka kembali. Setelah itu, perintah makin sering meminta data ditahan.
'Dia berhenti ketika diminta menghapus nama penumpang,' kata Laras. 'Lalu biaya rumah sakit dihentikan.'
Kartika menjual rumah untuk pengobatan. Sebelum pindah, ia menyerahkan kotak kepada orang yang berjanji mematikan sistem. Laras tidak melihat wajah, hanya surat serah terima berinisial D.W.
Inisial tersebut dapat berarti Darya Wicaksana. Kertas memakai kop regulator dan stempel kantor Seno. Analisis tulisan menemukan tanda tangan Darya asli.
Darya mengakui menerima kotak dari Kartika, tetapi mengatakan ia bertindak atas perintah Seno. Seno melihat surat dan mengeja tidak. Kemampuan ingatannya terbatas, tetapi penolakan tersebut dicatat.
Log kendaraan menempatkan Darya di kota pesisir pada tanggal serah terima. Ia membawa kotak kembali ke Astera dan menyerahkannya kepada Herlina. Setelah itu, jabatan Mediator muncul pada sistem.
Kartika bukan pencipta jabatan. Ia manusia pertama yang dipaksa menjalankan fungsi sebelum fungsi tersebut diberi nama. Ia pernah membantu, lalu menolak dan kehilangan biaya pengobatan.
Keluarganya diberi pilihan membuka peran itu. Laras meminta nama Kartika disebut karena ia tidak ingin kakaknya dikenang sebagai penerima suap tanpa alasan. Catatan juga tetap menyebut Kartika menerima uang dan menyimpan bukti. Tekanan tidak menghapus keputusan; keputusan tidak menghapus tekanan.
Maya bertanya apakah rumahnya perlu disita. Ahli mengatakan tidak. Rongga sudah kosong dan seluruh permukaan telah dicitra. Kepemilikan sekarang tidak berasal dari hasil kejahatan yang terbukti. Maya dapat tetap tinggal tanpa dianggap mewarisi jabatan.
Temuan itu penting bagi semua calon pengganti. PULANG mencoba membuat tempat, akun, dan hubungan menjadi warisan kewenangan. Hukum harus menolak perpindahan otomatis tersebut.
Di rumah, Maya menemukan satu benda yang terlewat bukan karena tersembunyi. Sebuah pengganjal pintu logam telah ada sejak ia membeli rumah. Nomor di bawahnya cocok dengan kotak Mediator.
Pengganjal dibuka di laboratorium. Di dalamnya ada gulungan kertas kecil yang ditulis Kartika. Pesannya menyebut Yudhistira membawa perintah Herlina, Darya mengambil kotak, dan Seno tidak pernah menerima surat pertamanya.
Kalimat terakhir berbunyi: bila mereka memakai keluarga sebagai pengganti, cari salinan pada orang yang tidak punya keluarga.
Laras mengatakan Kartika sering menyebut seorang petugas catatan sipil yang hidup sendiri dan membantu memisahkan identitas tanpa menggantinya. Namanya Jaya Pranoto, orang yang kemudian menolak daftar calon pasangan.
Jaya pernah bersaksi dan kini dalam perlindungan. Paket Siska membuat alamatnya mungkin telah terlihat.
Ketika petugas menghubungi, Jaya tidak menjawab frasa verifikasi. Rumah perlindungannya kosong, tetapi tidak ada tanda kekerasan.
Di meja tertinggal surat bahwa ia pergi atas kehendak sendiri untuk mengembalikan satu nama sebelum laporan final terbit.
Perlindungan mengeluarkan pemberitahuan hilang terbatas tanpa foto publik. Stasiun, rumah sakit, dan pengacara menerima ciri melalui jalur tertutup. Dita memprotes ketika media menduga Jaya membawa daftar calon. Regulator mengoreksi bahwa tidak ada bukti ia mengambil data mereka.
Maya tetap tidak memimpin pencarian. Dari rumahnya, ia membuat daftar semua renovasi yang mungkin memindahkan benda Kartika. Tukang lama mengingat pengganjal pintu sudah ada dan pernah diminta tidak dibuang oleh agen. Kesaksian itu menguatkan asal benda tanpa menjadikan tukang mengetahui isi.
Laras Senoaji menerima salinan foto kotak sebelum menjawab. Ia mengenali goresan yang dibuat Kartika saat kursi rodanya menabrak rak. Detail kecil tersebut membantu identifikasi. Laras juga menyerahkan rekening dialisis agar pembayaran Astera dapat dihitung, tetapi menutup diagnosis lain yang tidak relevan.
Keluarga Kartika menolak pemindahan makam atau upacara baru. Mereka hanya meminta catatan pekerjaannya diperbaiki dan uang Astera disebut tekanan, bukan gaji Mediator. Panel setuju mempertahankan kedua fakta: Kartika menerima dana dan kemudian kehilangan dana ketika menolak.
Rekening menunjukkan pembayaran dialisis langsung menuju rumah sakit, bukan ke Kartika. Dua transfer tunai kecil masuk kemudian sebagai biaya pengiriman dokumen. Laras mengakui kakaknya memakai sebagian untuk transportasi. Rincian tersebut mencegah satu angka besar disebut suap tanpa membedakan tujuan. Pada saat sama, penghentian dialisis setelah penolakan menjadi bukti tekanan ekonomi yang disengaja. Rumah sakit mengatakan hanya mengikuti pemberitahuan penjamin. Pemeriksa etik membuka perkara tersendiri untuk menentukan siapa yang memerintah penghentian dan apakah dokter mengetahui alasannya. Kartika tidak lagi hidup untuk memberi keterangan, sehingga surat, rekening, dan pilihan Laras harus diuji tanpa mengarang isi pikirannya.
Maya membayar sendiri perbaikan kecil rumah setelah pencarian. Pengadilan hanya mengganti kerusakan yang benar-benar dibuat pemeriksa berdasarkan aturan umum. Kepemilikan rumah tidak menimbulkan utang kepada perkara Kartika.
Maya menerima batas tersebut tanpa meminta perlakuan khusus.