Surat Jaya diperiksa sebelum disebut sukarela. Tulisan dan kebiasaan bahasanya cocok, tetapi ia mungkin menulis di bawah tekanan. Kamera memperlihatkan Jaya keluar sendiri membawa tas kecil. Sebuah mobil mengikuti dari jarak dua kendaraan.
Pelat mobil terdaftar pada Badan Layanan Rute, baru diterbitkan sehari sebelumnya. Badan segera membekukan kartu kendaraan dan menyerahkan data pengemudi. Mobil dipinjam petugas administrasi bernama Tono, yang mengaku menerima perintah menjemput dokumen.
Tono tidak mengenal Jaya. Ia meninggalkan mobil di stasiun sesuai pesan aplikasi. Jaya kemudian naik kereta menuju kota tempat kantor catatan sipil lama berada.
Petugas menemukan Jaya di ruang tunggu arsip. Ia tidak disekap. Ia meminta pengacara dan mengatakan pergi tanpa memberi tahu perlindungan karena yakin ada kebocoran.
'Nama siapa yang hendak Anda kembalikan?' tanya penyidik.
'Ningsih Utami. Akta kematiannya masih memakai nama Alina.'
Jaya membawa minuta kosong yang pernah dipakai Darya menerbitkan Ruth. Ia ingin menunjukkan pola nomor agar catatan sipil dapat membetulkan Ningsih tanpa menghapus seluruh riwayat.
Tindakannya membantu, tetapi kepergiannya membuat petugas kehilangan kontak dan membuka peluang pelacakan. Jaya mengakui ia seharusnya memakai pengacara. Ia takut akun PULANG menahan permohonan bila jalur resmi dipakai.
Mobil pengikut bukan penculik. Data stasiun menunjukkan pengemudinya Miko, yang telah dibebaskan terbatas untuk menunjukkan server berdasarkan perintah penyidik lain. Koordinasi yang buruk membuat dua operasi bertemu tanpa saling tahu.
Ketua penyidikan menghentikan seluruh tugas lapangan Miko. Orang yang sedang diperiksa tidak boleh bergerak menuju saksi tanpa satu komando dan pemberitahuan perlindungan.
Minuta Jaya membuktikan satu fakta baru. Nomor akta Ruth berasal dari halaman yang seharusnya mencatat bayi perempuan tanpa nama, tetapi halaman berikutnya dipakai untuk mengubah kematian Ningsih menjadi Alina. Kedua pemalsuan dilakukan dalam sesi sama memakai kode Darya dan saksi HW-1.
Alina mengetahui akta Ruth palsu, tetapi mengatakan tidak tahu nama Ningsih dipindahkan. Dokumen menunjukkan foto serta kartu pegawainya dilampirkan. Ia mungkin tidak melihat proses, namun menerima hasil tanpa bertanya siapa yang menggantikannya.
Keluarga Ningsih menyetujui koreksi dua tahap. Pertama, akta kematian menyebut Ningsih berdasarkan hasil forensik. Kedua, status Alina diubah hidup dengan alias Ruth yang sedang dibekukan. Makam tidak dibongkar sampai keluarga siap.
Jaya menyerahkan salinan yang disimpan Kartika kepadanya sebelum meninggal. Isinya daftar tiga belas nama yang pernah dipisahkan oleh PULANG. Dua belas telah dicocokkan dengan korban K-2. Nama ketiga belas hanya berupa nomor bayi yang menjadi sumber Ruth.
Penyelidik sempat mengira bayi itu korban lain. Catatan rumah sakit menunjukkan bayi meninggal saat lahir dan orang tuanya telah wafat. Nomor tersebut dipakai karena dianggap tidak ada keluarga yang akan bertanya.
Namun surat bidan menyebut seorang kakak yang masih hidup di luar kota. Tim tidak menghubunginya sebelum pengadilan menentukan apakah pembukaan relevan. Pemulihan Ningsih tidak harus menyeret keluarga bayi ke media.
Jaya juga membawa surat Kartika kepada Seno. Cap penerimaan tidak ada karena surat ditolak petugas depan. Tulisan Kartika menyebut Darya mengambil kotak dengan janji P-0 akan diaktifkan kembali.
P-0 tidak pernah aktif lagi. Sebaliknya, dua minggu sesudahnya Herlina membuat akun Mediator dan memberi Yudhistira kewenangan biaya. Darya menyediakan jalur polisi. Kartika menerima perintah pertama.
Rantai asal kini cukup jelas tanpa satu pencipta tunggal: Bram membuat penyimpanan, Alina mengelola lokasi, Herlina memasukkan polis, Darya memasukkan perlindungan polisi, Seno membatalkan pemulangan otomatis, dan Yudhistira membiayai fungsi perantara. Generasi berikutnya menambah pasangan, kandidat, serta rute.
Livia meminta bagan itu masuk laporan dengan kata kerja spesifik. Tidak ada nama ditempatkan di puncak piramida seolah orang lain hanya alat.
Jaya kembali ke perlindungan baru setelah memilihnya sendiri. Ia tidak dijadikan pahlawan tanpa catatan bahwa ia melanggar protokol. Keluarga Ningsih menerima minuta melalui pengacara.
Pada sore yang sama, masa tanggapan laporan DA-217 ditutup. Atlas mengajukan keberatan terhadap istilah komponen tidak terlacak. Darya menolak uraian tekanan manusia. Haris menerima data teknis tetapi menolak niat. Keluarga korban mengajukan sebelas catatan berbeda.
Panel mempertahankan perbedaan sebagai lampiran. Laporan final dijadwalkan dibacakan dua hari lagi.
Siska membuka kotak milik Mahesa yang tidak terhubung internet. Di antara surat keluarga, ia menemukan catatan tentang Jaya. Mahesa menulis bahwa bila namanya dihancurkan, Jaya harus membantu Livia memperoleh berkas tanpa mewarisi tugasnya.
Mahesa tidak memilih Siska sebagai Mediator. Ia justru meminta agar tugas berhenti pada dirinya.
Di bawah catatan terdapat kode pemutusan PULANG yang berbeda dari P-0. Kode itu hanya memutus warisan jabatan, tidak membuka data korban.
Untuk menjalankannya diperlukan persetujuan tiga orang: pemilik akun keluarga, penjaga pertama, dan Mediator aktif.
Siska, Alina, dan Miko harus memilih bersama apakah jabatan dapat dihentikan tanpa menghapus bukti.
Sebelum pertemuan, ketiganya mendapat penasihat berbeda. Siska bukan keluarga yang otomatis mewakili Mahesa dalam semua perkara. Alina bukan penjaga yang boleh memilih korban. Miko bukan pemilik sistem hanya karena memegang jabatan terakhir.
Kode pemutusan dibaca baris demi baris pada layar tanpa data hidup. Ada fungsi yang mengirim tanda terima kepada setiap pemilik bukti. Rania memilih tanda terimanya hanya melalui pengacara. Rendra memilih surat langsung. Keluarga Ningsih belum dimasukkan karena perkaranya memiliki arsip sendiri.
Jaya menjelaskan Mahesa pernah meminta jalur ini dibuat setelah mengetahui P-0 dapat membuka semua nama. Ia tidak sempat menguji sebelum kecelakaan. Karena itu kode bukan kehendak terakhir yang wajib ditaati, melainkan rancangan teknis yang masih harus diperiksa.
Livia menolak media menyebutnya pesan terakhir Mahesa. Ayahnya dapat benar tentang tujuan dan tetap meninggalkan kode yang cacat. Pengujian pertama memang membuktikan cacat tersebut.
Panel laporan final diberi tahu bahwa pemutusan PULANG tidak boleh menjadi syarat penerbitan. Kebenaran DA-217 berdiri pada bukti teknis, bukan keberhasilan tiga orang menekan tombol yang benar.
Simulasi kode ketiga dilakukan oleh tim yang tidak menulis perbaikan kedua. Mereka mencoba kegagalan listrik, token ganda, dan penolakan salah satu pihak. Jika Siska berhenti, tidak ada calon baru dipilih. Jika Alina berhenti, lokasi tetap disegel. Jika Miko berhenti, jabatan membeku tanpa berpindah. Hasil tersebut memberi ketiganya hak menarik persetujuan sampai detik terakhir. Jaya meminta catatan Mahesa ditempatkan sebagai latar, bukan perintah mengikat. Siska menyetujui rumusan itu. Ia tidak ingin nama suaminya sekali lagi dipakai membuat orang hidup merasa tidak boleh berkata tidak.
Alina dan Miko juga diberi kesempatan menolak tanpa hukuman otomatis. Kerja sama mereka dinilai berdasarkan tindakan yang benar-benar dilakukan, bukan kesediaan menerima peran baru dalam sistem yang sedang dihentikan.
Keputusan mereka tetap dapat diperiksa dan dipersoalkan kemudian.
Itu wajib.