Surel kepada Siska belum dibuka. Naya menahan penerusan di server, membuat citra terenkripsi, lalu memutus akun lama Mahesa dari jaringan. Siska diberi tahu sebelum tim membaca subjek.
'Apakah saya harus membukanya agar orang lain aman?' tanyanya.
'Tidak,' jawab Maya. 'Bukti dapat diperiksa tanpa menjadikan Ibu penerima kewenangan.'
Siska memilih pengadilan membuka salinan teknis tanpa menampilkan isi pribadi kepadanya. Ia juga mencabut penerusan otomatis yang dibuat Mahesa bertahun-tahun lalu. Pencabutan tidak menghapus surat keluarga lain; semuanya diekspor ke penyimpanan yang hanya ia kuasai.
Paket berisi undangan menjadi Mediator berikutnya. Sistem memilih Siska karena akun Mahesa pernah menerima bukti, ia keluarga korban, dan publik percaya kesaksiannya. Tombol menerima disamarkan sebagai konfirmasi keamanan. Jika ditekan, perangkat akan memperoleh daftar saksi dan hak memilih jalur.
Ada tombol menolak, tetapi kode di belakangnya mengirim data calon berikutnya ke Atlas. Kedua pilihan dirancang merugikan orang lain.
Naya tidak menekan apa pun. Ia membuat lingkungan tiruan dengan alamat kosong. Di sana, tombol menerima membuka templat laporan final, sedangkan tombol menolak membuka daftar tiga belas keluarga. Sistem menganggap setiap orang harus memilih salah satu.
'Pilihan ketiga adalah tidak menjalankan aturannya,' kata Livia.
Paket disegel dan server pengirim diputus melalui perintah pengadilan. Miko mengatakan seharusnya sistem mencari calon lain setelah dua belas jam. Tim mengganti tujuan dengan penampung kosong agar tidak berpindah ke manusia baru.
Siska menolak konferensi pers. Ia mengirim satu pernyataan tertulis: nama Mahesa tidak memberi siapa pun hak memakai dirinya sebagai pengganti. Media diminta tidak menyebutnya penjaga baru.
Armand datang malam itu membawa makanan. Ia tidak meminta melihat surel. Siska bertanya apakah hidupnya juga pernah dipilih sistem melalui tombol yang tampak biasa.
'Berkali-kali,' jawab Armand. 'Tetapi itu tidak membuat keputusan mereka menjadi keputusan saya.'
Livia mendengar dari dapur. Kalimat itu juga berlaku pada perkawinan mereka. Sistem pernah menyiapkan jalur, tetapi keduanya masih harus mempertanggungjawabkan pilihan nyata yang mereka buat.
Forensik paket menemukan nilai hash yang sama dengan kotak Miko dan salinan ketiga pita Anwar. Di metadata ada penanda pengantar pertama: nomor kartu pengunjung Dirgantara sebelum DA-217.
Buku gerbang yang rapuh selesai dicitrakan. Pada hari Anwar menyerahkan paket, kartu tersebut dipakai perempuan bernama Ayu Larasati. Dua menit kemudian, Alina masuk melalui pintu staf. Adrian berada di regulator.
Ayu mengakui datang membawa dokumen polis, tetapi membantah menerima pita. Ia menunjukkan agenda yang mencatat pertemuan dengan Bram dan Anwar. Catatan di sampingnya berbunyi serahkan kepada AL bila saya gagal.
'AL bisa Anda sendiri,' kata penyidik.
'Atau Alina. Anwar suka menulis jabatan dengan nama penerima.'
Ayu menjelaskan dirinya hanya membawa amplop dari Anwar ke meja Bram. Ketika Bram tidak ada, Alina menandatangani buku penerimaan memakai paraf A.L. Kebiasaan itu dapat menjelaskan tanda pada surat Mediator.
Alina mengakui menerima amplop, tetapi mengatakan ia menyerahkannya kepada Ayu malam sama karena Astera mempunyai penyimpanan tahan api. Kedua perempuan saling menunjuk sebagai penerima akhir.
Buku gerbang mencatat Ayu keluar membawa tabung. Kamera tidak tersimpan. Faktur kurir Astera menunjukkan satu tabung masuk brankas Herlina keesokan hari. Salinan ketiga kemungkinan berpindah Alina ke Ayu, lalu Herlina.
Posisi Mediator pertama belum tentu salah satu dari mereka. Surat Anwar mungkin ditandatangani petugas penerima, sedangkan jabatan diberikan kemudian oleh Herlina.
Miko menyerahkan aturan pewarisan paling awal. Mediator pertama harus bekerja dekat pengadilan, tidak memiliki saham, dan memahami pemisahan data. Ayu seorang petugas klaim, Alina sekretaris, Adrian penyelidik muda. Ketiganya memenuhi sebagian, tidak seluruh syarat.
Seno diberi tiga kartu jabatan tanpa nama. Ia menunjuk kartu penyimpan ketika melihat Alina, pengirim ketika melihat Ayu, dan pencatat ketika melihat Adrian. Saat ditanya siapa Mediator, ia mengeja belum ada.
Jawaban itu membuka kemungkinan lain: Mediator belum menjadi orang pada malam DA-217. Jabatan mungkin diciptakan setelah kecelakaan untuk menggantikan P-0 yang dibatalkan.
Dokumen Ruth menunjukkan cap P-0 lebih tua, sedangkan kata Mediator pertama muncul enam bulan setelah laporan final. Tanda A.L. pada surat Anwar hanyalah penerimaan Alina. Herlina kemudian memakai surat itu sebagai dasar membentuk jabatan baru.
Jika demikian, pertanyaannya bukan siapa Mediator malam kecelakaan. Pertanyaannya siapa orang pertama yang menerima jabatan enam bulan kemudian.
Arsip Astera mencatat penyerahan sebuah kotak kepada petugas pengadilan bernama Kartika Senoaji. Ia berhenti bekerja seminggu sesudahnya dan tidak pernah muncul dalam daftar PULANG.
Alamat terakhir Kartika adalah rumah yang kini ditempati Maya.
Sebelum menghubungi Maya, tim memeriksa rantai kepemilikan agar alamat tidak berubah menjadi tuduhan. Rumah berpindah dua kali melalui agen umum, bukan pemberian Astera. Pembayaran Maya berasal dari pinjaman bank dan penghasilannya sendiri. Tidak ada aliran dana PULANG.
Livia diberi tahu bahwa pengacaranya mungkin memiliki konflik. Ia memilih pendamping sementara untuk keputusan pencarian, tetapi tidak memutus hubungan profesional pada perkara lain. Konflik dikelola sesuai ruangnya, bukan dijadikan alasan menghapus seluruh kerja Maya.
Siska meminta paket Mediator tidak dikirim ke rumah sebagai barang bukti. Pengadilan menyimpannya di fasilitas terpisah. Ia juga mengganti frasa verifikasi dengan kata yang tidak dikenal Mahesa, karena arsip suaminya telah dibaca terlalu banyak orang.
Audit akun keluarga menemukan sembilan penerusan lama. Delapan menuju alamat Siska sendiri. Satu menuju kotak surat Jaya Pranoto dengan label bila manifest berubah. Penerusan itu tidak pernah aktif karena akun Jaya sudah dipindahkan ke perlindungan. Naya menyimpan aturannya tanpa mencoba alamat baru.
Armand meminta apakah pemutusan otomatis dapat dilakukan saat itu. Ahli menolak karena paket mungkin mempublikasikan nama bila urutan salah. Menahan tombol bukan keraguan; itu cara mencegah korban membayar harga ketergesaan sekali lagi.
Tim juga memeriksa apakah paket mengandung pelacak. Saat salinan dibuka di ruang tiruan, ia mencoba mengirim lokasi dan nomor perangkat kepada Cakra Rekam. Permintaan ditangkap penampung kosong. Siska tidak pernah memakai telepon pribadinya, sehingga rumahnya tetap tidak terkirim. Bayu mengenali format pelacak sebagai modul dukungan yang dapat diaktifkan administrator. Ia tidak tahu siapa mengaktifkannya pada paket ini. Naya mencatat bahwa pemilik infrastruktur tetap harus bertanggung jawab meski nama pengirim belum ditemukan. Regulator lalu memperingatkan semua penerima lama agar tidak membuka undangan keamanan dari akun perkara. Peringatan tidak menyertakan contoh tombol aktif, supaya orang tidak mencobanya karena ingin tahu.
Setiap penerima lama mendapat jalur pemeriksaan terpisah. Tidak ada kewajiban meneruskan pesan mencurigakan kepada perusahaan. Penasihat pengadilan dapat mengambil citra langsung dan mengembalikan perangkat tanpa membaca data pribadi lain.
Semua langkah itu dicatat dalam berita acara yang dapat diperiksa.