Miko Ananta ditemukan di kantor layanan hukum dekat pengadilan. Ia tidak melarikan diri. Ketika polisi menunjukkan izin, ia menyerahkan telepon dan meminta pengacara. Ia membantah masuk rumah perawatan, tetapi kamera jalan menempatkan kendaraan medis di sana.
Sidik sepatunya cocok dengan debu ruang administrasi. Setelah bukti diperlihatkan, ia mengakui mengambil perangkat untuk memperbarui daftar saksi. Ia mengatakan perintah datang dari Mediator sebelumnya.
'Siapa?' tanya penyidik.
'Saya hanya menerima kotak dan aturan.'
Kotak diterima tujuh tahun lalu melalui kantor Kresna. Kresna memeriksa arsipnya dan menemukan paket tanpa pengirim yang ia teruskan karena mencantumkan nomor perkara sah. Ia tidak membuka isi. Kelalaiannya dicatat, tetapi belum ada bukti ia mengetahui jabatan Mediator.
Miko menjelaskan aturan: Mediator tidak boleh bertemu penjaga, hanya membaca status dan memilih jalur pengiriman. Jika tidak masuk selama tiga puluh hari, jabatan berpindah kepada orang yang ditentukan paket terakhir.
Tidak ada pelatihan etika atau saluran menolak. Paket pertama memberi Miko dua contoh keberhasilan, tanpa menunjukkan korban identitas. Ia menerima honor kecil melalui bantuan hukum. Setelah menemukan dampak, ia tetap meneruskan karena takut daftar dibuka otomatis. Ketakutan menjadi cara jabatan mempertahankan dirinya.
'Mengapa Anda menjalankannya?' tanya Livia.
'Awalnya saya pikir saya melindungi saksi. Saya mengirim berkas medis ke pengadilan tanpa nama.'
'Kapan Anda mulai membuat pernyataan palsu?'
'Saya tidak membuat templat. Sistem memberi dua pilihan: alihkan rute atau buka nama perlindungan.'
'Anda memilih memakai nama saya.'
Miko menunduk. 'Iya.'
Pilihan palsu tetap memiliki pelaksana nyata. Miko dapat menolak, memperingatkan pengadilan, atau meminta bantuan. Ia memilih fungsi yang mengorbankan Livia karena menganggap satu identitas lebih murah daripada daftar saksi.
Daftar aktivitasnya menguatkan sebagian keterangan. Ia pernah mengirim bukti penyiksaan identitas kepada hakim dan membantu dua korban memperoleh akta baru. Ia juga membuka register saksi, mengaktifkan suara palsu, dan memerintah pelepasan komponen.
Dua korban yang pernah dibantu diberi tahu tanpa membocorkan lokasi mereka. Bantuan mereka tidak dicabut. Akta yang sah tetap sah meski pengirim bukti kemudian melakukan kejahatan lain. Sistem pemulihan harus dapat memisahkan manfaat korban dari pertanggungjawaban penolong.
Perbuatan baik tidak menjadi saldo untuk membayar perbuatan buruk.
Miko menyerahkan paket warisan. Nama mediator sebelumnya dihapus secara digital, tetapi nilai hash merujuk pada salinan ketiga pita Anwar. Laboratorium memakai pola magnetik dari pita menara untuk mengenali indeks yang sama.
Salinan ketiga ditemukan dalam kotak Miko. Audio utamanya sama, tetapi sampul memuat surat Anwar kepada Mediator pertama. Surat menyatakan hasil uji harus diberikan kepada Mahesa dan regulator bila Anwar tidak dapat hadir.
Penerima awal menandatangani dengan huruf A.L.
Adrian Lesmana kembali menjadi kemungkinan, tetapi Alina Permadi juga dapat memakai nama belakang lamanya dalam identitas tertentu. Ayu Larasati memiliki inisial sama. Tim menolak memilih berdasarkan huruf.
Tinta tanda tangan cocok tahun sebelum DA-217. Tekanan tangan menunjukkan penulis kidal. Adrian menulis kanan. Ayu menulis kiri. Alina menulis kanan setelah patah tulang, tetapi arsip sekolah menunjukkan ia dahulu kidal.
Ketiganya harus diperiksa. Tidak ada pengumuman nama kepada media.
Ayu menyerahkan contoh tulisan lama dan agenda malam DA-217. Alina mengizinkan pemeriksaan catatan sekolah melalui pengadilan. Adrian meminta ahli pribadinya hadir saat uji tekanan tulisan. Ketiga hak dipenuhi agar kesimpulan tidak hanya dibangun laboratorium penyidik.
Hasil awal menunjukkan bentuk huruf paling dekat dengan Alina sebelum patah tulang, tetapi kemiripan tidak mencapai ambang identifikasi. Surat Anwar mungkin ditandatangani penerima atau petugas serah terima. Posisi Mediator pertama tetap terbuka.
Alina tidak menggunakan hasil yang belum pasti untuk menawar keringanan. Ia hanya mengakui pernah menerima paket Anwar melalui orang lain. Nama pengantar tidak ia ingat, dan penyidik menandai jawaban itu untuk diuji terhadap buku gerbang.
Buku gerbang disita dari gudang perusahaan pada malam yang sama. Beberapa halaman rapuh sehingga tidak langsung dibuka. Ahli kertas membuat citra lapis demi lapis; hasilnya akan dibandingkan dengan tanggal surat sebelum Alina kembali ditanya.
Seno melihat tiga foto tanpa label. Ia menunjuk Ayu, lalu mengeja bukan pertama. Ia menunjuk Alina dan mengeja simpan. Ketika menunjuk Adrian, ia mengeja anak.
Jawaban itu belum jelas. Adrian memang penyelidik muda. Alina menyimpan pita. Ayu bekerja untuk Astera. Sesi dihentikan sebelum tim memaksa makna.
Miko mengatakan Mediator sebelumnya seorang perempuan yang suaranya lebih tua, tetapi ia hanya berbicara sekali lewat telepon. Sampel Alina dan Ayu sama-sama mungkin. Kualitas tidak cukup.
Di sisi lain perkara, Dewangga menyelesaikan audit proses laporan final. Ia menyatakan bukti teknis dapat dilacak dan Livia tidak perlu menjadi saksi independen. Formulir kedua belas resmi tidak sah. Temuan tersebut memutus satu jalur PULANG tanpa membuka data korban.
Panel menetapkan laporan final akan diterbitkan setelah masa tanggapan. Mahesa dinyatakan mencoba menghentikan penerbangan dan kembali. Faktor penyebab tetap berlapis. Tanggung jawab pidana serta perdata tidak digabung menjadi satu nama.
Siska memilih menghadiri pembacaan hanya bila nama semua korban disebut. Ia tidak meminta Mahesa ditempatkan sebagai penyelamat tunggal. Awak, teknisi yang memperingatkan, dan penumpang yang kehilangan hidup mendapat ruang yang sama.
Badan Layanan Rute mulai bekerja. Tiga rute dijalankan pesawat sewaan, satu oleh pesawat Dirgantara yang lolos, dan satu berbagi kapasitas dengan maskapai daerah. Atlas tidak memperoleh hak permanen. Dividen ditahan.
Armand tetap di luar jabatan. Ia mulai membantu kelompok penyintas mengurus koreksi dokumen, bukan sebagai direktur. Livia mengingatkan bahwa pengalaman pribadi tidak menjadikannya pengacara. Ia bekerja di bawah lembaga bantuan dan tidak menyentuh berkas tanpa persetujuan.
Hubungan mereka memperoleh ruang kecil di antara sidang. Mereka makan malam tanpa membahas manifest selama tiga puluh menit. Ketika waktu habis, Armand bertanya apakah aturan itu perlu. Livia menjawab iya, lalu tertawa karena mereka mengukur kedamaian dengan jam.
Miko menawarkan membuka daftar pengganti berikutnya sebagai pertukaran keringanan. Jaksa menolak menjanjikan hasil, tetapi menerima informasi untuk diuji.
Daftar itu tidak memuat nama. Hanya syarat: pegawai regulator, pernah menolak laporan, memiliki akses keluarga korban, dan tidak mengetahui dirinya dipilih.
Empat orang memenuhi syarat. Adrian salah satunya. Ratih juga. Dua lainnya adalah Dewangga dan Maya.
Sistem menyiapkan pengganti dari orang yang paling mungkin dipercaya penyelidikan. Bila Miko berhenti, salah satu akun mereka akan menerima undangan palsu dan kewenangan Mediator.
Naya memutus seluruh pengiriman sebelum undangan keluar. Namun satu paket sudah meninggalkan server dua hari lalu.
Tujuannya bukan empat nama itu.
Paket dikirim ke alamat surel lama Mahesa dan diteruskan otomatis ke akun keluarga yang masih aktif.
Penerimanya adalah Siska.