Sementara laboratorium memulihkan nama mediator, operasi penerbangan tidak menunggu misteri selesai. Empat pesawat lain menyelesaikan uji. Dua dapat kembali terbang setelah komponen diganti, satu membutuhkan pemeriksaan struktur, dan satu tetap dikandangkan karena riwayat beban tidak dapat dipastikan.
Komite mengumumkan keputusan per pesawat. Tidak ada angka aman keseluruhan yang menyembunyikan unit bermasalah. Teknisi yang menandatangani mendapat salinan alasan dan jalur keberatan.
Keluarga penumpang dapat melihat status armada melalui halaman publik yang tidak menampilkan nomor pribadi teknisi. Warna hijau hanya muncul setelah tiga persetujuan. Warna kuning berarti pemeriksaan belum selesai, bukan hampir aman. Penggunaan istilah diperiksa organisasi konsumen agar tidak menjadi pemasaran.
Enam laporan anonim baru ditutup dengan alasan tertulis. Empat salah nomor seri, satu mengulang laporan lama, dan satu tidak dapat diverifikasi. Penutupan tidak menghapus arsip; bila bukti baru masuk, kasus dapat dibuka kembali.
Model Rute Tanpa Pemilik memasuki sidang niaga. Nama diubah menjadi Badan Layanan Rute agar tidak terdengar seperti aset tanpa tanggung jawab. Masa kerjanya enam bulan, dapat diperpanjang hanya oleh regulator, serikat, dan wakil penumpang bersama.
Calon pengurus harus membuka konflik tiga tahun terakhir. Satu wakil konsumen mundur karena saudaranya bekerja di Astera; penggantinya dipilih terbuka. Mundur karena konflik tidak diperlakukan sebagai pengakuan bersalah.
Notulen badan diterbitkan dalam dua versi. Versi publik menutup data tiket dan pekerja, sedangkan versi lengkap disimpan pengadilan. Setiap penutupan memiliki alasan serta tanggal peninjauan agar kata rahasia tidak menjadi tempat persembunyian permanen.
Atlas meminta satu kursi karena menyediakan kapasitas. Dirgantara meminta dua karena memegang izin lama. Hakim memberi masing-masing satu kursi tanpa hak veto. Keluarga Dirgantara tidak boleh mewakili perusahaan, dan pemegang saham Atlas yang terkait Dana Lintas tidak boleh mewakili Atlas.
Pendapatan rute masuk rekening terpisah. Prioritasnya biaya operasi, hak pekerja, pengembalian tiket, lalu dana korban. Dividen ditunda sampai audit komponen selesai.
Wakil keluarga korban menolak dana mereka ditempatkan setelah seluruh biaya tanpa batas. Kesepakatan diperbaiki: biaya operasi diberi pagu, dana korban memiliki persentase minimum, dan setiap pengeluaran darurat di atas batas membutuhkan persetujuan publik. Badan tidak boleh menciptakan krisis biaya untuk menunda kompensasi.
Serikat meminta perlindungan bagi pelapor. Pekerja yang mengungkap komponen tidak dapat diputus kontrak selama pemeriksaan kecuali ada pelanggaran terpisah yang dibuktikan. Aturan tersebut tidak membuat mereka kebal dari kelalaian sendiri.
Brawijaya menyebut aturan itu hukuman bagi pemegang saham yang tidak terlibat. Salma menjelaskan bahwa penundaan bukan penyitaan. Pemegang saham masih dapat membuktikan hak setelah kewajiban keselamatan dihitung.
Armand menandatangani pernyataan pelepasan tuntutan pribadi atas lima rute selama badan berjalan. Pengacaranya memastikan pelepasan tidak menghapus hak atas nama, benda pribadi, atau ganti rugi kematian palsu.
Media menyebut tindakan itu penebusan keluarga. Armand mengoreksi bahwa rute bukan dosa pribadi yang dapat ia tebus. Itu izin layanan yang harus dijaga. Ia juga menolak wawancara berbayar tentang hidup sebagai orang mati karena proses Suradipa dan Haris belum selesai.
'Anda tidak perlu melepaskan semuanya untuk membuktikan tidak serakah,' kata Livia.
'Saya tidak melepaskan diri saya,' jawab Armand. 'Saya melepaskan jalan pintas menuju kuasa.'
Livia tidak ikut menandatangani. Ia bukan ahli waris rute meski dokumen palsu menyebutnya istri pengendali. Mereka hadir di meja berbeda dan pulang bersama setelah sidang.
Fira, Dita, dan Salma meminta nama empat belas calon dihapus dari seluruh aturan badan. Keahlian mereka boleh digunakan hanya bila dikontrak dengan persetujuan baru. Pengadilan mengabulkan dan memerintahkan audit templat lain.
Dua calon memilih bekerja sebagai konsultan setelah membaca syarat. Keputusan menerima pekerjaan sekarang tidak mengesahkan pemetaan lama. Sepuluh menolak, dua belum menjawab.
Fira menolak tawaran medis karena sedang menjadi ahli sidang. Salma menerima tugas menghitung pagu selama satu bulan dengan honor terbuka. Dita tidak memiliki keahlian operasi dan meminta namanya tidak ditempel sekadar untuk mewakili pemegang saham. Pilihan mereka menunjukkan pemulihan bukan berarti harus kembali ke ruangan yang pernah menekan mereka.
Livia menunjuk auditor lain memeriksa kontrak Salma. Kedekatan mereka dalam perkara calon dapat menimbulkan keberpihakan meski keduanya percaya satu sama lain.
Di hanggar, pekerja menemukan tiga komponen yang harus dibuang berasal dari bengkel berbeda, tetapi seluruhnya melewati satu pemeriksa Atlas. Pemeriksa itu Prasetyo Kamil, penerima terakhir kartu HW-1 yang tercatat sebelum cap PULANG.
Catatan kematiannya diperiksa. Berbeda dari Alina, tubuh Prasetyo teridentifikasi gigi dan DNA. Ia benar-benar meninggal. Akunnya tetap dipakai setelahnya oleh perangkat Atlas.
Rudi menyerahkan daftar administrator perangkat. Salah satunya Melati, satu Yudhistira, dan satu akun Mediator tanpa nama. Akun terakhir hanya dapat dibuka dengan kunci P-1 milik Alina.
Alina setuju membuka di hadapan pengadilan setelah data korban dipisahkan. Kunci mengungkap daftar keputusan, bukan identitas mediator. Setiap kali PULANG menghadapi konflik, Mediator memilih bukti mana dikirim ke pengadilan dan mana ditahan.
Pada malam DA-217, Mediator memilih menahan manifest lengkap, uji komponen, serta klaim awal. Pada minggu identitas Armand pulih, Mediator memilih membuka register saksi. Minggu ini, Mediator mengaktifkan pernyataan Livia palsu.
Setiap pilihan memiliki alasan sistem. Penahanan malam DA-217 diberi label lindungi nama. Pembukaan register diberi label cegah bukti hilang. Pemalsuan Livia diberi label pertahankan layanan. Bahasa keselamatan digunakan untuk tindakan yang berlawanan, sehingga auditor harus menilai akibat dan kewenangan, bukan nama menu.
Satu jabatan menghubungkan penyembunyian lama dengan serangan sekarang, tetapi penggunanya dapat berganti seperti HW-1.
Naya membandingkan pola waktu. Keputusan lama terjadi dari regulator. Keputusan setelah Herlina meninggal berpindah antara Atlas dan Cakra Rekam. Keputusan terbaru berasal dari rumah perawatan Seno.
Polisi memeriksa perangkat ketiga dan menemukan dua pengguna. Pengunjung Alina hanya membuka arsip Seno. Pengguna lain masuk malam hari memakai kartu administrasi.
Kamera belakang memperlihatkan kendaraan layanan medis. Nomornya milik klinik Suradipa, kini berada dalam penyitaan. Kendaraan dipinjam sebelum penyitaan oleh pegawai bernama Miko Ananta.
Suradipa mengenali Miko sebagai kurir berkas, tetapi mengaku tidak pernah memberinya akses medis. Log klinik menunjukkan Miko mengambil formulir kosong beberapa kali. Hal itu membuka pemeriksaan baru tanpa menjadikan semua pasien klinik bagian perkara.
Keluarga pasien diberi pemberitahuan umum bahwa dokumen sedang diaudit. Nama mereka tidak dikirim kepada Dirgantara atau Astera.
Miko bukan dokter. Ia petugas hubungan pengadilan yang dahulu membawa dokumen kematian Armand dari klinik ke catatan sipil.
Inisialnya M, dan pekerjaannya cocok dengan jabatan Mediator.
Namun catatan kepegawaian menunjukkan Miko baru berusia lima belas tahun saat DA-217. Ia tidak mungkin menjadi pengguna pertama.
Seseorang mewariskan jabatan Mediator kepadanya, sama seperti kartu HW-1 diwariskan setelah Herlina.