Rongga menara memiliki dua jalur. Pintu beton dibuka kunci fisik, sedangkan buku log dapat ditulis melalui celah sempit tanpa membuka kotak. Debu menunjukkan kotak belum dipindahkan bertahun-tahun, tetapi celah baru dipakai.
Tulisan minggu lalu bukan milik Alina. Isinya hanya nomor perkara DA-217 dan huruf S-12. Forensik membandingkan tinta dengan pena ruang administrasi rumah perawatan. Jenisnya sama, bukan bukti penulis sama.
Kamera menara tidak ada, tetapi sensor kota mencatat pintu pagar dibuka memakai kode pemeliharaan. Kode tersebut berada pada sistem Cakra Rekam karena vendor pernah mendokumentasikan lokasi untuk sidang lapangan. Bayu mengatakan ia tidak tahu fungsi menara. Perangkatnya menerima permintaan lokasi dari akun Mediator.
Jejak sepatu di dasar tangga lebih kecil daripada milik Alina. Polanya cocok dengan sepatu kerja umum yang dijual ribuan pasang. Penyidik menolak menyebut Melati atau Miko hanya berdasarkan ukuran.
Alina menyerahkan kunci P-1 setelah pengacara memastikan penyerahan tidak membuka data korban lain. Kunci tidak cocok dengan kotak menara. Ia membuka laci kecil pada buku log. Di dalamnya ada daftar tempat salinan bukti disimpan.
Beberapa sudah ditemukan: kotak komunikasi Mahesa, arsip Seno, laboratorium Atlas. Dua lokasi belum diperiksa. Satu diberi kode API, satu lagi NAMA.
Sebelum pencarian dilanjutkan, identitas korban kebakaran diperiksa. Daftar pekerja kontrak memuat Ningsih Utami, petugas salinan yang tidak pernah tercatat pulang malam itu. Keluarganya diberi kabar oleh perusahaan bahwa ia melarikan diri setelah mencuri dokumen.
Adik Ningsih masih hidup. Ia menyerahkan sikat rambut dan surat lama untuk pembandingan keluarga. Hasil awal menguatkan tubuh yang dikubur sebagai Alina adalah Ningsih.
Keluarga diberi pilihan pemindahan makam, perubahan nisan, atau menunggu hasil final. Mereka memilih menunggu. Mereka juga meminta perusahaan mencabut tuduhan pencurian sekarang, karena daftar kehadiran dan lokasi tubuh sudah cukup membuktikan Ningsih tidak melarikan diri.
Adik Ningsih meminta nama kakaknya tidak sekadar dipakai untuk menambah dakwaan Alina. Ia ingin riwayat kerja, gaji yang ditahan, dan surat kepada ibunya dipulihkan. Arsip perusahaan menemukan dua bulan upah tidak dibayar karena status melarikan diri. Nilainya dihitung dengan bunga dan ditempatkan pada rekening keluarga tanpa perjanjian diam.
Livia meminta bagian komunikasi tidak membuat video duka. Koreksi satu halaman dinilai cukup sampai keluarga menentukan bentuk pengenangan sendiri.
Dirgantara menerbitkan koreksi tanpa menyebut penyelidikan Alina. Dana bantuan ditawarkan melalui pengawas independen, bukan sebagai syarat melepaskan tuntutan.
'Saya mencuri kematiannya,' kata Alina ketika diberi tahu.
'Anda juga membiarkan tuduhan pencurian tetap hidup,' jawab Livia.
Alina mengakui pernah membaca berita internal tentang Ningsih, tetapi tidak menghubungi keluarga. Ia takut satu surat akan mengungkap Ruth. Keputusan berulang itu membuat pelarian awal berubah menjadi pemeliharaan kebohongan.
Pengacaranya meminta perkara identitas Ningsih dipisahkan dari DA-217. Maya setuju karena keluarga Ningsih tidak boleh menunggu seluruh kecelakaan selesai untuk memperoleh nama. Bukti yang bertumpang tindih dapat disalin dengan rantai resmi, bukan ditahan dalam satu berkas raksasa.
Alina tetap diperiksa tentang kemungkinan kelalaian saat kebakaran. Ahli api belum menentukan apakah ia dapat menyelamatkan Ningsih. Tidak ada tuduhan dibuat hanya dari rasa bersalahnya sendiri.
Keterangan Alina tentang asal PULANG diuji melalui buku Bram. Catatan tertua memakai istilah JALAN PULANG untuk empat salinan pengadaan. Tidak ada calon pasangan, identitas bayangan, atau rute. Setahun kemudian, tulisan Herlina menambahkan asuransi sebagai penjaga kelima.
Seno mengeja satu kalimat pada sesi ketiga: jangan percaya salinan api. Setelah istirahat, ia menunjuk kode API dalam daftar P-1.
API bukan kebakaran kantor. Itu nama ruang tahan api di kantor notaris lama. Gedungnya masih ada sebagai toko alat tulis. Pemilik mengizinkan pemeriksaan setelah surat pengadilan menunjukkan nomor ruang tertentu.
Di balik lemari ditemukan tabung logam berisi minuta awal PULANG. Dokumen menyebut setiap bukti harus dikembalikan kepada orang yang datanya tercantum. Bila pemilik meninggal, keluarga atau pengadilan menentukan pembukaan. Tidak ada penjaga yang boleh memakai isi untuk mengarahkan keputusan pemilik.
Tanda tangan Bram, Alina, Seno, dan Anwar ada. Herlina menandatangani sebagai penyimpan cadangan enam bulan kemudian, dengan catatan tambahan bahwa biaya perlindungan dapat dibayar polis.
Minuta memiliki halaman pemeriksaan tahunan. Dua tahun pertama, keempat pendiri menandatangani bahwa tidak ada bukti dibuka tanpa izin. Tahun ketiga hanya Alina dan Herlina. Sesudah kebakaran, kolom Alina diisi cap Ruth. Seno berhenti menandatangani setelah laporan DA-217. Perubahan itu memperlihatkan PULANG kehilangan pengawasan bertahap, bukan direbut dalam satu malam.
Sebuah lampiran Anwar memperingatkan bahwa perlindungan saksi tidak boleh menjadi penggantian identitas permanen. Lampiran tersebut hilang dari versi digital Astera. Nilai hash pada buku log membuktikan dokumen pernah termasuk paket awal.
Catatan biaya itulah pintu yang membesar menjadi K-2. Astera membiayai perlindungan, lalu menuntut hak menentukan siapa yang layak dilindungi. Darya memakai daftar untuk memindahkan saksi. Haris memakai rute perjalanan. Marlina membangun skenario. Alina menjaga akses sambil diam.
'Anda melihat perubahan itu?' tanya penyidik.
'Sedikit demi sedikit.'
'Kapan Anda tahu sudah melanggar tujuan awal?'
'Ketika nama pertama diganti.'
Nama pertama adalah Rendra. Alina mengetahui identitasnya dipakai sebagai bayangan, tetapi memilih mempertahankan sistem karena bukti DA-217 belum aman. Ia menukar hak satu orang dengan harapan membuka kebenaran lebih besar.
Mira serta Rania menerima pemberitahuan terpisah karena keputusan Alina mungkin menyentuh catatan mereka. Rania tetap menolak identitas lama dibuka, termasuk di sidang Alina. Hak itu dihormati. Penyidik memakai kode korban dan hanya membuka transaksi yang relevan.
Alina meminta mengetahui apakah mereka selamat. Jawaban yang diberikan hanya bahwa petugas telah menghubungi mereka. Rasa bersalah tidak memberinya akses baru ke kehidupan korban.
Rendra diberi ringkasan dan memilih memberi pernyataan. Ia tidak ingin bertemu Alina.
'Saya bukan biaya penyimpanan bukti mereka,' katanya.
Alina menerima kalimat itu tanpa mengirim permintaan maaf langsung.
Kode NAMA mengarah ke kantor catatan sipil lama tempat akta Ruth diterbitkan. Arsip kertas menunjukkan formulir kosong dicuri dari kumpulan anak yang meninggal sebelum diberi nama. Ruth Anindya tidak pernah menjadi orang lain; ia identitas yang dibangun dari kekosongan.
Petugas penerbit adalah Darya menggunakan surat polisi. Persetujuan penjamin ditandatangani HW-1. Foto awal Alina ditempel setelah api.
Namun halaman belakang memuat cap lain yang tidak pernah muncul dalam berkas K-2: P-0, penjaga sebelum pertama.
Alina mengatakan P-0 bukan orang. Itu status darurat yang hanya aktif bila keempat pendiri gagal. Menurut rancangan, P-0 seharusnya mengembalikan semua bukti kepada pengadilan dan mematikan PULANG.
Log menunjukkan P-0 pernah aktif sekali, pada malam DA-217, lalu dibatalkan tiga menit kemudian.
Pembatalnya menggunakan sertifikat Seno Adiguna.
Waktunya tercatat jelas.