Maya menyusun protokol sebelum satu nama pun dicari. Data sembilan kode tetap berada pada komputer tanpa jaringan. Tim hanya boleh menghubungi orang melalui lembaga yang sudah mereka gunakan, tanpa menyebut K-2 kepada keluarga, majikan, atau tetangga.
Setiap orang mendapat tiga pilihan awal: menerima informasi, menunda, atau menolak kontak. Penolakan mengakhiri pencarian kecuali ada ancaman langsung terhadap keselamatan.
Pemberitahuan tidak dikirim dengan logo Dirgantara, Astera, atau pengadilan agar penerima tidak merasa sudah menjadi pihak perkara. Sebuah lembaga bantuan korban independen membuka percakapan dengan kalimat bahwa ada arsip lama yang mungkin menyangkut hak mereka dan jawaban tidak wajib diberikan.
Maya menambahkan masa tunggu tujuh hari sebelum dokumen apa pun dibuka. Nomor kontak hanya dapat dipakai penerima, tidak anggota keluarga. Bila penerima telah meninggal, ahli waris tidak otomatis mendapat seluruh data; pengadilan menilai bagian mana yang berkaitan dengan hak mereka.
Livia meminta prosedur tersebut dipublikasikan tanpa nama korban. Tujuannya agar orang mengetahui cara menolak dan dapat melapor bila dihubungi melalui jalur berbeda.
Armand menjadi orang pertama. Ia menandatangani bahwa centang kembalikan pada AD-0 palsu dan meminta statusnya tetap dalam verifikasi sampai akibat bagi delapan orang lain dipisahkan. Pengacaranya memastikan pilihan itu dapat diubah.
'Anda bisa meminta identitas dipulihkan sekarang,' kata hakim dalam sidang singkat.
'Saya meminta catatan bahwa saya hidup diperpanjang,' jawab Armand. 'Saya belum meminta sistem lama diaktifkan atas nama saya.'
Hakim memberi perpanjangan enam puluh hari. Armand tetap tidak memiliki jabatan CEO atau hak suara, tetapi layanan dasar tidak boleh mencabut identitas sementaranya.
Dari delapan kode lain, dua tidak memiliki jejak orang hidup. Tiga terhubung ke korban yang identitasnya telah dipulihkan, termasuk Rendra. Satu menunjuk anak yang saat kecelakaan berusia enam tahun. Dua sisanya berada di luar negeri.
Rendra memilih menerima seluruh informasi tentang kodenya. Ia menemukan bahwa K-2 masih memegang klaim rumah yang telah dijual saat ia dinyatakan meninggal. Ia tidak langsung menuntut pembatalan penjualan karena keluarga pembeli tinggal di sana selama sepuluh tahun.
'Saya ingin hak saya diperiksa tanpa mengusir orang yang tidak tahu apa-apa,' katanya.
Maya mencatat pilihan tersebut. Pemulihan bukan tombol yang mengembalikan waktu; setiap akibat membutuhkan pihak dan bukti sendiri.
Korban kedua bernama Mira Adiningrum, mantan petugas kargo yang selamat dari kebakaran gudang enam tahun lalu. Catatan resmi mengatakan Jati Reksana meninggal dalam kebakaran yang sama. Ketika dihubungi melalui pengacaranya, Mira meminta pertemuan tanpa keluarga Dirgantara.
Ia datang memakai tongkat dan membawa kartu kontraktor atas nama Seno Ardana.
'Saya yang menukar buku Mahesa,' katanya sebelum duduk.
Penyelidik mengingatkan haknya didampingi pengacara. Mira menunggu penasihat bantuan hukum tiba, lalu mengulang pengakuan di depan kamera.
Jati Reksana adalah suaminya. Ia benar meninggal dalam kebakaran. Sebelum wafat, Jati bekerja di ruang retensi Astera dan menemukan sertifikat Helena. Mira menggunakan kredensial bayangan suaminya untuk mengawasi perangkat HW-1 karena laporan kepada atasan selalu kembali kepada orang yang sama.
Mira tidak memakai kredensial itu terus-menerus. Log menunjukkan tiga akses selama enam tahun, semuanya setelah perangkat HW-1 memindahkan klaim. Ia menyimpan tangkapan layar, tetapi beberapa memuat data korban yang tidak pernah memberi izin.
Penyelidik menyegel salinan dan melarang tim membaca bagian yang tidak relevan sampai pengadilan menentukan pemiliknya. Menjadi pelapor tidak memberi Mira hak membawa kehidupan orang lain ke ruang pemeriksaan.
'Saya kira kalau tujuannya menghentikan sistem, semua data boleh diambil,' katanya.
'Itulah alasan sistem ini tumbuh,' jawab Livia. 'Setiap orang merasa tujuannya cukup baik untuk melewati persetujuan.'
'Mengapa memakai nama Seno dan menyentuh barang Siska?' tanya Livia.
'Saya perlu memastikan kalian menemukan kunci sebelum Astera memindahkannya. Pesan biasa akan dianggap umpan.'
'Anda menandai AD-0 tanpa izin Armand.'
Mira menunduk. 'Saya pikir mengembalikan identitas pasti benar.'
'Itu bukan pilihan Anda.'
Mira menerima bahwa tindakannya melanggar. Ia menyerahkan kartu palsu, pakaian petugas pemadam, serta daftar orang yang membantunya masuk. Penyidik tidak menjanjikan kekebalan. Risiko terhadap dirinya dinilai terpisah dari pemalsuan dan penyusupan.
Mira menjelaskan ancaman tentang mati ketiga kali. Bagi orang yang pernah dinyatakan mati dua kali, aktivasi massal Kunci Helena akan mengirim koreksi ke semua lembaga sekaligus. Sebagian hidup dengan nama baru yang sah, sebagian menyembunyikan alamat dari pelaku kekerasan, dan sebagian memiliki keluarga yang tidak tahu masa lalu.
'Kalau semua catatan lama muncul, pemulihan bisa menjadi penyerangan,' katanya.
Korban ketiga memilih menolak informasi. Tim menghapus jalur kontak dari berkas kerja dan hanya menyimpan catatan bahwa pilihan belum diberikan kepada pihak lain. Tidak ada nama dalam laporan publik.
Kode anak mengarah kepada perempuan bernama Rania Putri yang kini berusia dua puluh tiga. Pada usia enam tahun ia berada dalam bus bandara yang terbakar, tetapi tidak pernah tercatat sebagai penumpang. K-2 membayar perawatan melalui identitas anak lain yang meninggal.
Catatan medisnya memuat dua tanggal lahir dan golongan darah yang salah. Kesalahan tersebut pernah membuat dokter menunda transfusi saat Rania remaja. Ia ingin bagian medis diperbaiki meskipun belum siap membuka asal identitas kepada keluarga.
Tim memisahkan koreksi keselamatan kesehatan dari pemulihan sipil. Rumah sakit menerima perintah sementara untuk memakai hasil tes langsung Rania, bukan data K-2, tanpa menambahkan nama lama pada berkas publik.
Rania menerima penjelasan dasar dan meminta waktu tiga puluh hari. Ia tidak ingin orang tua angkatnya mengetahui dari wartawan. Tim menyetujui tanpa menanyakan alasan adopsinya.
Sembilan baris mulai menunjukkan pola berbeda. Tidak semua orang dihapus untuk mengambil aset. Ada yang disembunyikan demi perawatan, perlindungan, atau kemudahan administrasi, lalu status sementara dipakai pihak lain bertahun-tahun kemudian.
'K-2 mungkin bermula sebagai jalan darurat,' kata Naya. 'Penyalahgunaannya tumbuh karena tidak ada pemilik data yang bisa memeriksa.'
Livia memikirkan Helena. Perempuan itu dapat membangun Kunci Helena sebagai penawar setelah menyadari jalur perlindungan berubah menjadi mesin kepemilikan. Namun ia juga ikut membawa Armand pulang tanpa nama dan membiarkan kebenaran Mahesa terkubur.
Perbuatan baik yang terlambat tidak menghapus kerusakan awal.
Mira menyerahkan satu salinan surat Jati. Surat itu menyebut tiga bagian sertifikat hanya membekukan K-2 bila minimal tiga pemilik baris nol memilih secara sah. Satu memilih kembali, satu menahan, dan satu melepaskan. Sistem membutuhkan tiga pilihan berbeda agar tidak menganggap semua korban ingin hal sama.
'Helena sengaja membuat kunci bergantung pada perbedaan,' kata Maya.
Mereka sudah memiliki pilihan Armand untuk menahan sementara. Rendra belum menentukan perlakuan akhir. Korban yang menolak kontak tidak boleh dipakai sebagai suara melepaskan.
Mira membuka tas dan mengeluarkan tabung logam kecil. Ia menemukannya dalam barang Jati setelah kebakaran.
Ukiran pada tabung berbunyi HD-3.
Bagian ketiga Kunci Helena selama ini berada pada seorang janda yang memakai identitas suaminya yang mati untuk menjaganya.
Saat tabung disegel, ponsel Ayu menerima peringatan dari pusat data Astera. Seseorang baru saja mencoba mengaktifkan bagian pertama sertifikat dan memasukkan tiga pilihan palsu untuk AD-0, MP-1708, serta kode milik Rania.