Dua puluh tiga nama pada daftar penguasaan kotak tidak diperiksa sebagai tersangka. Maya membaginya berdasarkan kesempatan: orang yang melihat buku, orang yang mengangkat kotak tertutup, dan orang yang hanya menandatangani perpindahan ruangan.
Sebelas orang tidak pernah menyentuh segel. Enam terekam bekerja berpasangan. Empat memiliki akses beberapa menit tanpa kamera. Dua identitas tidak ditemukan pada daftar pegawai mana pun.
Salah satunya petugas pemadam yang memeriksa ventilasi rumah aman. Nomor lisensinya milik anggota yang sedang bertugas di kota lain. Foto pada catatan kunjungan memperlihatkan wajah tertutup masker dan helm.
Identitas kedua adalah kurir bernama Seno Ardana. Ia membawa kotak jahit dari hotel pertama ke rumah aman Maya. Perusahaan kurir mengaku tidak memiliki pegawai dengan nama tersebut, tetapi kode pengirimannya valid dan ditagihkan kepada Astera.
Kode pengiriman dibuat dari terminal hotel dua menit sebelum petugas asli datang. Rekaman memperlihatkan seseorang menelepon meja depan dan membatalkan kurir resmi atas nama Maya. Staf hotel tidak melanggar aturan tertulis karena penelepon dapat menyebut nomor pemesanan, nama kamar, dan isi kotak.
'Informasi itu ada pada formulir pemindahan kita,' kata kepala keamanan Maya.
Maya tidak membiarkan staf menanggung kesalahan sendirian. Formulir mereka mengirim terlalu banyak rincian kepada hotel dan kurir. Mulai hari itu, isi barang diganti nomor segel, pembatalan membutuhkan panggilan balik, dan petugas rumah aman tidak boleh menjadi satu-satunya pihak yang menyetujui perubahan.
Siska membaca laporan tanpa menyalahkan pengawal. Ia marah karena kotak jahitnya kembali dipakai untuk mendekati Mahesa. Namun ia menolak semua barang keluarga disita permanen.
'Melindungi bukti tidak berarti mengambil seluruh hidup kami,' katanya.
Tim memotret dan menyegel hanya buku yang relevan. Kotak jahit dikembalikan setelah diperiksa, dengan daftar siapa yang memegangnya.
'Pelaku tidak perlu masuk ke rumah aman,' kata Livia. 'Buku ditukar dalam perjalanan.'
Tim forensik membandingkan jilid. Lem pada punggung buku mengandung bahan baru. Tiga halaman asli Mahesa dipindahkan ke sampul pengganti, lalu halaman pesan disisipkan. Pelaku ingin mereka mempercayai buku cukup lama untuk membaca kalimat Helena.
'Pesannya mungkin petunjuk atau umpan,' ujar Naya.
'Kita perlakukan sebagai keduanya sampai ada bukti.'
Debu logam dari ruang arsip Astera mengandung campuran nikel yang hanya digunakan di lorong retensi bawah tanah. Ayu Wardana mengenali tempatnya. Setelah kematian Herlina, ia pernah dibawa ke sana untuk menyaksikan pemusnahan kunci HW-1.
Ayu menggambar tata letak tanpa memasuki gedung. Ada dua ruang: satu untuk dokumen polis, satu untuk perangkat otorisasi. Kunci yang disebut staf bukan benda tunggal, melainkan sertifikat yang dibagi menjadi tiga bagian. Satu dipegang Astera, satu regulator, dan satu penjamin keluarga atau organisasi korban.
Pembagian tiga bagian dimaksudkan agar tidak ada lembaga bertindak sendiri. Namun audit menemukan bagian regulator hanya diperiksa keberadaannya, bukan riwayat pemakaian. Astera menganggap bagian penjamin hilang, lalu tetap mengizinkan pembaruan sistem dengan dua bagian.
'Pengaman tidak gagal karena kurang banyak kunci,' kata Livia. 'Ia gagal karena orang mengubah aturan ketika satu kunci tidak tersedia.'
Regulator mengakui pemeriksaan tahunan hanya memastikan segel fisik. Tidak ada petugas yang membandingkan nomor sertifikat dengan transaksi. Mereka membuka audit internal dan menempatkan pengawas dari luar unit penerbangan.
'Bagian ibu saya seharusnya dihancurkan,' kata Ayu. 'Tetapi Helena punya bagian penjamin untuk perkara DA-217.'
Itulah kemungkinan makna pesan. Kunci Helena masih hidup berarti bagian sertifikatnya belum mati, bukan Helena beroperasi setelah kematian.
Armand meminta Ratri menjelaskan. Neneknya mengaku Helena menyimpan tabung kecil di kotak dokumen rumah, lalu membawanya ketika pindah setelah DA-217. Setelah Helena meninggal, tabung tidak ditemukan.
'Mengapa Nenek tidak melapor?' tanya Armand.
'Aku tidak tahu isinya kunci. Helena menyebutnya perlindungan terakhir untukmu.'
'Keluarga ini selalu memberi nama perlindungan pada rahasia.'
Ratri tidak membantah.
Pengadilan mengizinkan audit ruang retensi Astera dengan pengawas korban. Livia hadir sebagai ahli keselamatan, Ayu sebagai ahli waris Herlina, dan Rendra melalui perwakilan. Armand tidak ikut karena identitas sementaranya tidak memberi hak mengakses polis orang lain.
Di lorong bawah tanah, debu lantai cocok dengan serat pada halaman pesan. Kamera menunjukkan Seno Ardana masuk tiga minggu lalu memakai kartu kontraktor. Wajahnya tidak tertutup. Naya menjalankan pencocokan lokal tanpa mengunggah gambar ke sistem publik.
Wajah itu milik salah satu dari empat identitas HW-1 yang tidak cocok: seorang pria bernama Jati Reksana. Catatan menyebut ia meninggal dalam kebakaran gudang enam tahun lalu. Tidak ada keluarga yang mengambil tubuhnya.
Livia meminta pencarian orang hidup, bukan pembukaan kubur. Bila identitas Jati juga bayangan, mengumumkannya dapat membahayakan pemilik nama yang sebenarnya.
Ruang perangkat memiliki tiga lemari. Lemari Astera kosong. Berita acara menyebut sertifikat dipindahkan ke pusat data dua hari setelah DA-408. Lemari regulator masih bersegel. Lemari penjamin menyimpan dudukan tabung dengan ukiran HD-3.
Helena Dirgantara, bagian ketiga.
Pemeriksaan sidik menemukan bekas sarung tangan baru. Di bawah dudukan ada kertas tipis berisi sembilan kode baris nol yang sama dengan buku Mahesa. Di samping setiap kode terdapat pilihan: kembalikan, tahan, atau lepaskan.
'Ini bukan daftar perintah,' kata Livia. 'Belum ada pilihan yang ditandai.'
Bagian bawah menjelaskan sertifikat hanya dapat diaktifkan bila pemilik tiap identitas menentukan sendiri perlakuan terhadap catatan lama. Helena tampaknya membuat jalan pembekuan K-2 yang bergantung pada persetujuan korban, bukan keputusan keluarga.
Formulir juga melarang pasangan, ahli waris, atau pengacara memilih tanpa kuasa khusus. Bahkan keluarga yang berniat baik tidak boleh menggantikan suara pemilik baris nol. Ketentuan tersebut memperkuat bahwa centang AD-0 tidak sah sekalipun Livia tercatat sebagai janda.
Namun satu baris telah diberi tanda baru. AD-0 dicentang pada kolom kembalikan, meski Armand belum pernah melihat formulir tersebut.
'Seseorang mencoba memakai persetujuan atas namanya lagi,' ujar Ayu.
Tinta tanda itu sama dengan pesan di buku. Jati atau orang yang memakai identitasnya mungkin menanam petunjuk sekaligus keputusan palsu.
Di sisi belakang kertas ada nomor telepon sekali pakai. Penyelidik menghubunginya melalui jalur rekam. Seorang lelaki menjawab tanpa menyebut nama.
'Kunci Helena tidak membuka K-2,' katanya. 'Kunci itu dapat menguburnya. Tetapi jika kalian memanggil sembilan orang sekaligus, beberapa dari mereka akan mati untuk ketiga kalinya.'
Sambungan terputus sebelum lokasinya ditemukan.
Livia menatap sembilan kode. Menemukan korban bukan izin membuka hidup mereka. Sebelum menghubungi siapa pun, tim harus membuat cara agar mereka dapat menolak tanpa dicatat sebagai pihak yang bersembunyi.
Di luar gedung, Armand menunggu di trotoar karena kartunya tidak melewati lobi. Livia menyerahkan salinan bagian AD-0.
'Saya tidak menandai ini,' katanya.
'Saya tahu.'
'Bagaimana kau bisa yakin?'
'Karena Anda tidak akan memilih kata kembalikan tanpa bertanya apa yang ikut kembali.'
Armand melipat salinan. Untuk pertama kalinya, seseorang mempercayainya bukan karena darah, jabatan, atau sistem mengenali wajahnya, melainkan karena kebiasaan yang telah Livia lihat sendiri.