Percobaan aktivasi gagal karena bagian ketiga belum terhubung. Namun sistem mencatat pilihan palsu sebagai draf. AD-0 dipilih kembali, MP-1708 dipilih lepaskan, dan kode Rania dipilih tahan.
'Mereka memakai tiga jenis pilihan yang dibutuhkan Kunci Helena,' kata Ayu. 'Kalau tabung Mira masih berada di dudukannya, K-2 sudah membeku atau berpindah sesuai perintah yang disisipkan.'
Maya meminta pengadilan melarang penyambungan ketiga bagian tanpa sidang korban. Regulator mengisolasi bagian kedua. Astera mengaku bagian pertama berada di pusat data, tetapi log menunjukkan perangkat dipindahkan ke server cadangan Atlas Aero.
Darmawan diperiksa kembali. Ia mengakui mengetahui perpindahan tersebut, tetapi mengatakan pusat utama Astera sering mati karena sistem lama. Atlas menyediakan tempat cadangan sejak tiga tahun lalu.
'Anda penasihat Atlas ketika kontrak dibuat,' kata penyelidik.
'Saya menyetujui penyimpanan, bukan pemakaian identitas korban.'
Pernyataan itu diuji melalui surel dan notulen. Darmawan memang meminta sertifikat tidak dapat diaktifkan dari Atlas. Seseorang menghapus larangan tersebut dari versi akhir.
Nama penyunting dokumen adalah Helena Dirgantara.
Helena sudah meninggal tiga tahun sebelum kontrak penyimpanan dibuat. Tanda tangan digitalnya sama dengan kunci yang menulis pesan pada buku Mahesa, bukan tanda tangan pribadi pada surat lama.
'Mereka tidak berpura-pura Helena masih hidup sebagai manusia,' kata Naya. 'Mereka menjadikan namanya akun layanan.'
Akun itu dibuat saat Helena membangun mekanisme pembekuan. Ia menamainya HELENA agar pemegang berikutnya mengetahui tujuan kunci. Setelah kematiannya, Astera mengubah akun menjadi otorisasi umum dan mempertahankan nama sebagai pelindung.
Versi awal akun hanya boleh membaca transaksi dan mengirim peringatan kepada notaris. Enam bulan setelah Helena meninggal, haknya bertambah menjadi membuat pilihan, memperbarui polis, serta mengesahkan operator. Setiap penambahan disetujui akun lain yang juga memakai nama orang mati.
Naya membuat peta hak tanpa membuka isi klaim korban. Ada dua belas akun layanan bernama manusia. Delapan pemilik nama telah wafat, dua tidak pernah bekerja di Astera, dan dua identitas belum terverifikasi.
'Kalau kita mematikan semua sekaligus, layanan sah bisa berhenti,' kata Ayu.
Mereka membatasi akun pada mode baca, menyimpan jejak, dan memindahkan fungsi penting ke petugas bernama jelas. Setiap perubahan diumumkan kepada pengawas korban agar Astera tidak menyebut perbaikan teknis sebagai alasan menghapus log.
Livia tidak ingin laporan menyebut Helena dalang digital. Nama perempuan mati itu dapat kembali dipakai untuk menutupi operator hidup. Ia meminta setiap tindakan akun diterjemahkan menjadi perangkat, lokasi, dan petugas yang benar-benar menekan tombol.
Ratri membaca rancangan laporan dan meminta nama Helena tidak dihapus sama sekali. 'Dia membuat kunci dan ikut mengambil Armand tanpa daftar. Tulis keduanya.'
Livia menyetujui. Mencegah Helena menjadi kambing hitam tidak berarti membersihkannya. Riwayat harus menyebut keputusan yang ia ambil, batas yang ia buat kemudian, dan kerusakan yang tetap berlangsung selama ia diam.
Percobaan terbaru berasal dari ruang rapat Atlas lantai sebelas. Kamera merekam empat orang masuk: Darmawan, dua teknisi, dan direktur Atlas, Surya Pranoto. Darmawan sudah berada dalam pemeriksaan pada jam aktivasi. Kedua teknisi bekerja di ruang lain dengan kartu tercatat. Surya keluar sendirian membawa laptop.
Dua teknisi tetap diwawancarai terpisah. Mereka mengaku Surya meminta ruang ditinggalkan untuk panggilan rahasia. Salah satunya melihat token logam dipasang ke pembaca, tetapi tidak mengetahui fungsinya. Keterangan cocok dengan log listrik perangkat.
Atlas berusaha memecat keduanya karena membahas ruang rapat. Pengadilan melarang tindakan balasan selama pemeriksaan dan memerintahkan gaji tetap dibayar. Perlindungan itu tidak menjadikan kesaksian mereka otomatis benar; rekaman serta perangkat masih harus membuktikannya.
Surya adalah konsultan Atlas yang dahulu bekerja sebagai pemeriksa klaim Astera. Namanya muncul pada daftar akses HW-1, tetapi fotonya berbeda. Identitas tersebut termasuk empat catatan yang tidak cocok.
Polisi menemukan rumah Surya kosong. Di meja ada salinan laporan Livia tentang DA-408 dan rancangan surat yang menyatakan Mahesa sengaja mengubah manifest demi memperoleh rute. Pelaku masih menyiapkan cerita lama untuk dipublikasikan jika pemeriksaan mendekati pemilik akun.
Surya belum dapat disebut operator. Laptop yang terlihat di kamera bisa milik siapa pun. Permintaan pencarian dibatasi pada perangkat dan dokumen, bukan seluruh keluarga atau rekan kerjanya.
Sementara itu, identitas sementara Armand kembali ditolak oleh sistem rumah sakit ketika ia datang untuk pemindaian bahu. Petugas melihatnya berdiri di depan meja tetapi meminta surat kematian dibatalkan lebih dulu.
Livia meminta supervisor membaca perintah pengadilan. Armand menunggu tanpa memakai nama Dirgantara untuk mengancam. Setelah satu jam, rumah sakit mendaftarkannya sebagai pasien verifikasi dan mencatat prosedur manual agar orang lain dengan konflik status tidak ditolak.
'Kau tidak harus menunggu,' kata Armand ketika mereka duduk di lorong.
'Saya ingin melihat akibat catatan ini di luar ruang sidang.'
'Bukan karena kau merasa menjadi janda yang bertanggung jawab?'
Livia menatapnya. 'Jangan gunakan istilah sistem untuk menguji perasaan saya.'
Armand meminta maaf tanpa membela leluconnya. Ia mengakui takut Livia tetap tinggal hanya karena kasus membuat mereka terikat.
'Saya bisa meninggalkan apartemen dan tetap menjadi saksi,' kata Livia. 'Saya tinggal karena belum ingin pergi. Kalau itu berubah, saya akan mengatakan.'
Jawaban tersebut menenangkan lebih banyak daripada janji panjang. Armand tidak menyentuhnya sampai Livia lebih dulu menyandarkan kepala sebentar pada bahunya yang sehat.
Pemindaian membuktikan cedera lama Armand konsisten dengan benturan DA-217, tetapi tidak dapat menentukan lokasi. Hasil ditambahkan sebagai bukti pendukung, bukan dasar tunggal identitas.
Rumah sakit mengirim permintaan maaf kepada Armand. Ia meminta mereka menggantinya dengan prosedur tertulis bagi pasien lain. Permintaan maaf pribadi tidak mencegah meja berikutnya mengulang penolakan yang sama.
Ayu menelusuri arsip ibunya. Herlina dan Helena pernah bertukar surat tentang tiga pilihan. Herlina khawatir mekanisme dapat dipakai memaksa korban kembali. Helena menjawab bahwa tidak ada pilihan boleh dimasukkan tanpa saksi independen dan masa tunggu tujuh hari.
Aturan masa tunggu hilang dari sistem sekarang.
Mira memberikan nama notaris yang menyaksikan tabung HD-3, seorang perempuan bernama Ratna Hapsari. Ratna masih hidup dan menyimpan buku akta. Ia mengonfirmasi Helena menandatangani mekanisme sebagai penjamin korban, bukan pemilik rute.
'Helena mengatakan bila namanya dipakai setelah ia mati, cari orang yang mendapat uang dari pemakaian itu,' ujar Ratna.
Naya mengikuti pembayaran akun HELENA. Biaya layanannya masuk tiap tahun ke perusahaan perawatan data bernama Langit Sembilan. Pemegang saham perusahaan disembunyikan melalui tiga badan, tetapi salah satu alamat korespondensi sama dengan rumah Darya Wicaksana.
Ayah Gilang kembali muncul, kali ini setelah kematiannya.
Gilang mengaku tidak pernah mendengar Langit Sembilan. Polisi memeriksa warisan Darya dan menemukan satu kunci lemari yang belum pernah dipakai. Nomornya cocok dengan loker dokumen di stasiun kargo.
Loker dibuka di depan Gilang, pengacaranya, dan penyelidik. Di dalamnya ada laporan pembayaran Langit Sembilan serta daftar operator akun HELENA selama enam tahun.
Nama terakhir bukan Surya, Darmawan, atau anggota keluarga Dirgantara.
Operator yang tercatat adalah Naya Lestari.