Darmawan Kusnadi tidak berada di kantor Atlas Aero ketika penyelidik datang. Jadwalnya menyebut rapat di Singapura, tetapi catatan imigrasi tidak menunjukkan keberangkatan. Mobilnya ditemukan di gedung parkir dekat pelabuhan, dengan lencana penasihat tertinggal di dasbor.
Livia menolak menyebutnya kabur sebelum kamera dan transaksi diperiksa. Gilang pernah memakai luka sebagai perlindungan, sedangkan Ratri pergi tanpa memberi kabar karena mencari bukti. Satu kendaraan kosong tidak membuktikan kehendak pemiliknya.
Naya menelusuri foto identitas palsu Darmawan. Nama yang dipakai adalah Rendra Kusuma, teknisi feri yang pernah dinyatakan meninggal lalu kembali hidup. Nomor kependudukannya berbeda dua digit, tetapi sertifikat digital menautkan keduanya.
Maya segera menelepon Rendra. Lelaki itu masih berada di rumah dan tidak pernah memberi Darmawan izin. Setelah identitasnya dipulihkan, ia menerima kartu baru. Enam bulan kemudian sistem kembali menyatakan dirinya meninggal karena klaim lama dibuka ulang.
'Saya harus pulang dua kali,' katanya. 'Pertama dari kecelakaan, kedua dari kematian yang dibuat kantor.'
Pengadilan memulihkan statusnya lagi, tetapi sertifikat kedua tidak pernah dihapus sepenuhnya. Darmawan memakai celah tersebut untuk membuat kredensial petugas klaim tanpa meminjam wajah orang yang masih dianggap hidup.
Rendra membawa dua kartu kematiannya ke kantor pengadilan. Tanggal, sebab, dan nomor kasus berbeda, tetapi keduanya memakai foto yang sama. Salah satu sertifikat bahkan terbit ketika ia sedang bersaksi dalam perkara pemulihan pertama.
'Saya pikir setelah hakim melihat saya, semuanya selesai,' katanya kepada Livia melalui video. 'Ternyata kantor lain tetap menjual versi saya yang mati.'
Livia meminta izin memakai kasusnya sebagai bukti pola. Rendra setuju dengan syarat alamat dan informasi keluarganya ditutup. Ia tidak ingin kembali menjadi tokoh berita hanya karena sistem gagal dua kali.
Naya menemukan kredensial bayangan tidak dapat membuat rekening baru, tetapi dapat membuka klaim lama. Darmawan memakainya seperti kunci bekas: pintu modern menolak, sedangkan arsip tua masih percaya.
'K-2 menyimpan bayangan identitas setelah pemiliknya kembali,' kata Livia. 'Bayangan itu dipakai orang lain.'
Armand meminta audit semua akun yang terhubung pada empat perkara serupa. Maya mengingatkan bahwa mereka tidak berhak membuka data korban tanpa izin. Tim mengirim pemberitahuan dan menawarkan pemeriksaan sukarela. Dua keluarga setuju, satu menolak, dan satu belum dapat ditemukan.
Penolakan tidak dicatat sebagai kecurigaan.
Kamera parkir menunjukkan Darmawan meninggalkan mobil bersama seorang perempuan berseragam Astera. Ia tidak tampak dipaksa. Keduanya masuk taksi menuju kantor notaris tua di kawasan kota. Polisi tiba ketika pertemuan masih berlangsung.
Darmawan menyerahkan diri tanpa melawan. Perempuan bersamanya adalah putri Herlina Wardana, Ayu Wardana, yang selama ini tinggal di Australia. Ayu mengaku pulang setelah menerima pesan bahwa identitas ibunya dipakai untuk membahayakan pesawat.
'Saya tidak mengoperasikan HW-1,' katanya. 'Saya datang membawa akta pemusnahan kunci yang asli.'
Akta menunjukkan Herlina memang memerintahkan seluruh akses dihentikan sebelum meninggal. Nomor kunci aktif ditulis lengkap dan cocok dengan yang sekarang dipakai. Berita acara pada Astera mengganti digitnya agar seolah kunci lain yang dimusnahkan.
Darmawan meminta pengacara sebelum menjawab. Dalam pemeriksaan awal, ia mengakui memakai identitas bayangan Rendra untuk mengakses AD-0. Ia berdalih ingin mengawasi sistem dari dalam setelah menemukan kunci HW-1 belum mati.
'Mengapa membukanya pada hari saya melamar Livia?' tanya Armand melalui penyelidik.
'Karena pasangan pengawas mengaktifkan perlindungan baru. Saya perlu tahu apakah K-2 menyiapkan pengalihan.'
'Mengapa tidak melapor?'
'Saya tidak tahu siapa di regulator yang masih terhubung Astera.'
Alasan itu tidak menjelaskan mengapa Darmawan memakai identitas korban. Ia mengaku perbuatannya salah, tetapi menyangkal mengirim perintah sabotase. Log menunjukkan aksesnya hanya membaca AD-0, bukan menulis pesan Sabina.
Naya membuktikan perangkat HW-1 aktif pada waktu sama dari lokasi lain. Seseorang mengetahui Darmawan masuk dan memakai perhatiannya sebagai penutup.
Penyelidik menahan paspornya, menyita perangkat, dan melarang kontak dengan Atlas Aero. Ia tidak ditahan karena bukti belum menunjukkan keterlibatan DA-408, tetapi perkara pemalsuan identitas berjalan terpisah.
Di kantor Maya, Livia menerima pemberitahuan bahwa statusnya pada penyelidikan DA-408 resmi berubah menjadi korban pemalsuan kredensial sekaligus saksi ahli. Dirgantara Air menawarkan mengembalikannya ke jabatan lama.
Surat tawaran menyertakan klausul komunikasi publik yang melarang Livia membahas penyelidikan tanpa izin direksi. Ia mencoret klausul itu sebelum menyerahkannya kepada Maya.
'Mereka membersihkan nama dengan satu tangan dan menyiapkan penutup mulut dengan tangan lain,' katanya.
Armand meminta Kresna tidak ikut menegosiasikan pekerjaannya karena konflik kepentingan. Livia memilih pengacara ketenagakerjaan sendiri. Ia menuntut unit keselamatan melapor kepada komite independen, perlindungan Naya, dan hak menerbitkan perbedaan pendapat teknis.
Jawaban perusahaan belum datang. Livia tidak menganggap diam sebagai penolakan atau persetujuan.
Ia menolak menjawab sebelum syarat audit independen dipenuhi. Armand tidak lagi memiliki jabatan untuk memengaruhi keputusan tersebut.
'Jika kau kembali, itu pilihanmu,' katanya. 'Jika kau keluar, perusahaan tetap wajib membersihkan namamu.'
'Anda ingin saya kembali?'
'Aku ingin keselamatan diawasi orang sepertimu. Tetapi keinginanku bukan kontrak kerja.'
Livia menyimpan surat tawaran. Ia belum memutuskan apakah dapat bekerja di perusahaan yang memakai ayahnya sebagai kedok selama tujuh belas tahun.
Malam itu, Siska datang ke kantor membawa buku kecil Mahesa yang sebelumnya dianggap hanya catatan keluarga. Setelah mendengar istilah daftar pemilik rute, ia mengingat sebuah halaman berisi nama kota dan dua tanggal pulang untuk setiap penerbangan.
Buku itu disimpan di kotak jahit dalam rumah aman. Kamera koridor tidak merekam penyusup, dan segel pintu tetap utuh. Siska mengingat seorang petugas pemadam memeriksa ventilasi setelah ancaman foto, tetapi identitasnya belum diverifikasi.
Tim forensik mengambil sidik jari dari sampul, memisahkan milik Siska dan Livia, lalu menemukan bekas sarung tangan pada halaman terakhir. Serat kertas pesan baru membawa debu logam yang sama dengan ruang arsip Astera. Pelaku mungkin tidak memasuki rumah; buku dapat ditukar ketika barang Siska dipindahkan antarhotel.
Livia meminta daftar setiap orang yang menyentuh kotak tanpa menuduh pengawal. Ada dua puluh tiga nama, termasuk staf Maya, polisi, petugas hotel, dan kurir. Pemeriksaan akan dilakukan berdasarkan akses, bukan jabatan.
Naya membandingkannya dengan lima rute. Tanggal pertama adalah jadwal pesawat. Tanggal kedua selalu beberapa hari setelah klaim kematian penumpang tertentu dibayar. Mahesa telah melihat pola orang yang secara hukum dipulangkan dua kali.
Di halaman belakang, terdapat sembilan kode baris nol, bukan hanya AD-0. Sebagian berasal dari kecelakaan yang tidak pernah diberitakan sebagai fatal.
Salah satu kode bertanggal enam tahun lalu, sesudah Helena meninggal. Di sampingnya, Mahesa menulis nama yang tidak mungkin ia tambahkan karena dirinya sudah lama wafat.
HELENA DIRGANTARA — KUNCI MASIH HIDUP.
Forensik memastikan tulisan tersebut bukan milik Mahesa. Tinta dibuat kurang dari sebulan lalu.
Seseorang baru saja membuka buku lama Siska, menambahkan pesan, lalu mengembalikannya tanpa diketahui.