Esoknya Rangga membawa Damar ke sebuah ruang arsip kecil di belakang kantor, tempat barang bukti dari "sarang" pelaku disimpan dalam kotak-kotak berlabel. Dinding penuh foto, jadwal, dan rekaman yang dulu ditemukan polisi—cermin gelap dari ruang penyelidikan Damar sendiri, dengan satu perbedaan: di sini, di tengah-tengahnya, terpampang lebih banyak foto satu wajah daripada wajah lain. Wajah seorang lelaki paruh baya. Wajah yang, meski sepuluh tahun lebih tua dan jauh lebih lelah, Damar kenali dari satu-satunya foto keluarga yang tersisa dari masa kecilnya.
Ayahnya.
"Dia menemukannya empat tahun lalu," kata Rangga, membuka sebuah map. "Di sebuah kota kecil, jauh dari sini. Ayahmu mengganti nama—nama tengahnya saja, cukup untuk hilang dari pencarian biasa. Berhenti jadi pengacara. Kerja sebagai juru tulis di sebuah notaris kecil. Hidup sendiri. Tidak menikah lagi." Rangga menggeser map itu ke arah Damar. "Pelaku mengawasinya selama dua tahun. Foto-foto ini. Catatan jadwalnya. Sama persis seperti yang dia lakukan padamu."
Damar membuka map dengan tangan yang ia paksa tidak gemetar. Foto demi foto seorang lelaki tua membeli sayur di pasar, berjalan pulang membawa kantong plastik, duduk sendirian di teras rumah petak yang lebih kecil dari kontrakan Damar sendiri. Seorang lelaki yang lari, lalu menghilang, lalu menua dalam keheningan yang ia pilih sendiri.
"Lalu kenapa dia tidak membunuhnya?" tanya Damar serak. "Dia mencari ayahku sepuluh tahun. Dia menemukannya empat tahun lalu. Kenapa dia malah—malah memilihku?"
Rangga menarik napas. "Itu yang dia tulis dalam pengakuannya. Dan jujur, Damar, ini bagian yang aku belum tahu cara menyampaikannya." Ia membuka halaman terakhir map itu, sebuah salinan tulisan tangan yang rapi dan presisi, sama dinginnya seperti surat di kaki menara malam itu. "Ayahmu sudah sakit waktu dia menemukannya. Dua tahun lalu dia masuk rumah sakit. Kanker, sama seperti ibumu. Pelaku duduk di ruang tunggu yang sama, menyamar sebagai pengunjung pasien lain, dan menyaksikan lelaki yang merampas keadilan keluarganya mati pelan-pelan dimakan penyakit yang sama dengan yang membunuh perempuan yang dicintai musuhnya." Rangga menatap Damar. "Ayahmu meninggal dua tahun lalu, Damar. Dia tidak menghilang selamanya. Dia mati. Dan pelaku ada di sana, menyaksikan, dan menyadari bahwa kematian biasa—kematian pelan oleh penyakit, sama seperti ibumu—bukanlah hukuman yang dia rancang selama ini. Itu terlalu… adil. Terlalu manusiawi. Maka dia mengalihkan dendamnya ke satu-satunya bagian dari ayahmu yang masih bisa dia sentuh. Anaknya. Kamu."
Damar duduk diam sangat lama. Di luar, seekor burung berkicau di kabel telepon, tak peduli. Selama bertahun-tahun, di balik foto hitam-putih ibunya, ia menyimpan luka berbentuk ayah yang pergi—pengkhianat, pengecut, ruang gelap yang ia kunci. Ia membayangkan ribuan kemungkinan: ayahnya kaya di kota lain, ayahnya bahagia tanpa mereka, ayahnya yang suatu hari akan ia datangi dan tanyai kenapa, kenapa, kenapa. Ia tidak pernah membayangkan ini. Seorang lelaki tua yang sakit, sendirian, di kota kecil, mati dimakan penyakit yang sama dengan istrinya, tanpa pernah tahu bahwa anaknya masih menyimpan fotonya dan bahwa dosanya akan datang menagih lewat sebuah radio tengah malam.
"Aku tidak pernah sempat bertanya padanya," kata Damar akhirnya. Suaranya tidak marah. Hanya kosong, lalu pelan-pelan terisi sesuatu yang menyerupai dukacita yang sudah sepuluh tahun terlambat. "Aku tidak pernah sempat bertanya kenapa dia melakukannya. Apakah dia tahu Sari dibunuh. Apakah dia menyesal. Apakah dia memikirkan kami."
"Tidak ada yang akan tahu itu sekarang," kata Rangga pelan. "Dia bawa jawabannya."
Damar menutup map itu. Ia menatap wajah ayahnya yang lelah dalam foto paling atas untuk waktu yang lama, dan menyadari sesuatu yang aneh dan menyembuhkan sekaligus: ia tidak membenci lelaki itu lagi. Ia tidak memaafkannya juga—itu terlalu mudah, terlalu murah untuk dosa sebesar itu. Tapi membenci hantu hanya membuat hantu itu tetap hidup, dan Damar sudah cukup banyak menemani orang mati yang menolak benar-benar pergi. Ia tahu, sekarang, persis seperti yang pelaku tahu malam di menara itu: dendam tidak menghidupkan siapa pun kembali. Cuma kelelahan.
"Boleh aku minta satu foto ini, Pak?" tanya Damar. "Bukan untuk bukti. Hanya… aku tidak punya foto dia sama sekali. Cuma satu, yang waktu aku kecil."
Rangga ragu sejenak, lalu memilih sebuah foto dari tumpukan—ayahnya duduk di teras, wajahnya menghadap matahari sore, tenang dalam kesendirian yang ia pilih sebagai hukuman atau pelarian, tak ada yang tahu. "Ini bukan bukti inti," kata Rangga. "Ambillah."
Damar menyelipkan foto itu ke dompetnya. Bukan di balik KTP—tempat itu milik ibunya, akan selalu milik ibunya. Ia menyelipkannya di lipatan lain, dekat tapi tidak bersama. Dua orang tua, satu yang ia cintai dan satu yang ia coba pahami, kini sama-sama tinggal sebagai foto dalam dompet seorang lelaki yang akhirnya, setelah berbulan-bulan, bisa pulang dan tidur.