Hari-hari setelah menara air bergerak lambat, kabur di tepinya, seperti kota yang dilihat dari balik kaca berembun. Damar menghabiskan dua hari di ruang interogasi—bukan sebagai tersangka kali ini, melainkan sebagai saksi utama, satu-satunya manusia yang menyimpan seluruh rangkaian cerita dari telepon pertama sampai puncak menara. Ia menceritakan semuanya: rekaman empat menit dua belas detik, tiga petunjuk seperti puisi, menara air, perekam mini di bawah laci kamarnya, foto dirinya menaiki tangga besi dalam gelap, malam-malam yang ia kira ia memburu padahal ia diburu.
Rangga mencatat dengan tekun, dan kali ini tidak ada pulpen yang berputar di antara jari-jarinya. Lelaki yang dulu menolak menggerakkan satu tim berdasarkan teka-teki dari penelepon anonim kini menyusun berkas setebal dua jengkal, menautkan setiap helai bukti yang dulu ia abaikan.
"Identitasnya sudah pasti," kata Rangga di hari ketiga, meletakkan secangkir teh di depan Damar di sebuah ruang yang lebih nyaman dari sel interogasi. "Anak Wibawa dan Sari. Dia mengaku—lengkap, tertulis, ditandatangani. Korban pertama di gudang utara, dia akui. Dua nama lain dari masa pabrik yang mati beberapa bulan lalu, yang kami kira tidak berhubungan, ternyata juga dia." Rangga menatap Damar. "Tapi banyak dari 'permainan'-mu itu memang umpan, seperti katanya. Korban kedua yang kamu kejar berbulan-bulan—tidak pernah ada. Dia membuatmu berlari di labirin kaca."
"Aku tahu," kata Damar pelan. "Dia memberitahuku sejak di menara, malam itu. Korban kedua tidak pernah ada. Itu cuma cara menarikku makin dalam."
"Dan kematian Sari?"
Damar mengangkat wajahnya.
"Dia memberi kami sesuatu," kata Rangga. "Sebuah rekaman lama. Suara seorang lelaki—mandor, atau manajer, kami masih mengonfirmasi—mengaku ikut menutupi malam Sari mati. Bukan bunuh diri. Dia dipaksa diam soal kondisi kerja yang membunuh istrinya, lalu saat dia mengancam buka mulut ke pengadilan, dia… dibungkam. Dan disusun supaya terlihat seperti gantung diri." Rangga menggeleng pelan. "Pabrik itu mengubur lebih dari sekadar utang, Damar. Dan ayahmu yang menggugurkan gugatan keluarga itu di meja hijau—dia mungkin tidak menarik talinya. Tapi dia memastikan tidak ada yang pernah bertanya siapa yang menarik."
Damar menatap teh di depannya yang mengepul dan mendingin. Selama berbulan-bulan ia membayangkan ayahnya sebagai sosok abu-abu, seorang pengecut yang lari, luka tumpul yang ia kunci di balik foto ibunya. Sekarang sosok itu menajam menjadi sesuatu yang lebih buruk dan lebih nyata. Bukan sekadar lari. Tangan yang merapikan kebohongan agar terlihat seperti kebenaran. Tangan yang, dengan satu tanda tangan, memastikan seorang anak laki-laki tumbuh tanpa ibu dan tanpa keadilan, lalu tumbuh menjadi suara di telepon yang menghantui kota selama berbulan-bulan.
"Di mana ayahku sekarang, Pak?" tanya Damar. Suaranya hampir tak terdengar. "Dia hidup atau mati?"
Rangga menatapnya lama, dan ada sesuatu di matanya yang membuat perut Damar mengencang.
"Itu," kata Rangga, "yang akan kita bicarakan besok. Kami menemukan sesuatu di antara berkas-berkas yang dia simpan. Sang pelaku. Dia mencari ayahmu sepuluh tahun, Damar. Dan ternyata dia menemukannya lebih dulu daripada kita semua."
Di luar jendela kantor polisi, kota bergerak seperti biasa—angkot, pedagang kaki lima, anak sekolah, kehidupan yang tidak tahu betapa dekat ia tadinya dengan sesuatu yang gelap. Lana menunggu di lobi, membawakan Damar nasi bungkus dan kopi, marah karena Damar tidak makan, cerewet seperti dulu, hidup seperti dulu. Pak Hasan menelepon dua kali untuk memastikan Damar baik-baik saja, suaranya pecah oleh kelegaan seorang lelaki tua yang selama ini hanya bisa menyaksikan dari ruang teknisi. Benang-benang kehidupan Damar yang dulu, satu per satu, kembali ke tempatnya. Tapi satu benang masih menggantung di kegelapan, menunggu pagi besok untuk ditarik sampai habis.