Tiga minggu kemudian, Damar kembali ke studio.
Radio Suara Kota tidak berubah. Gedung tua dua lantai itu masih berbau kopi murahan dan kabel yang menua. Lampu meja masih membentuk lingkaran kuning di atas mixer. Kursi itu masih hafal lekuk tubuhnya. Pak Hasan menyambutnya di pintu dengan wajah yang berusaha biasa tapi gagal, lalu memeluknya canggung, seorang lelaki tua yang tidak terbiasa memeluk tapi malam ini membuat pengecualian.
"Yakin sudah siap, Mar?" tanya Pak Hasan, menepuk bahunya.
"Yakin, Pak." Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Damar mengucapkannya tanpa berbohong.
Lana ada di sana juga, padahal ini bukan shift-nya, membawa sekantong gorengan dan kecerewetan yang sama yang dulu membuat Damar lelah dan kini terdengar seperti musik. "Aku duduk di ruang teknisi," katanya. "Bukan karena aku takut. Aku cuma mau dengar kamu siaran lagi. Sudah lama."
Pukul sebelas malam, Damar memasang headphone-nya. Di luar jendela kaca kedap suara, kota terbenam dalam keremangan, lampu-lampu jalan berbaris seperti deretan mata yang setengah terpejam—sama seperti malam pertama, sama seperti ratusan malam sebelumnya. Tapi sesuatu di dalam Damar berbeda. Beban yang selama berbulan-bulan menekan tengkuknya, perasaan diawasi yang menjadi bagian dari napasnya, sudah tidak ada. Hanya ada studio, mikrofon, dan kota yang menunggu suaranya.
Ia menarik napas dan membuka saluran.
"Selamat malam. Anda mendengarkan Lentera Malam, satu-satunya yang menemani Anda sampai fajar. Saya Damar, dan kalau Anda belum bisa tidur juga malam ini, kita senasib."
Suaranya mengalir keluar ke udara kota, rendah dan hangat, suara yang sudah bertahun-tahun ia pinjamkan kepada para insomnia, para pekerja shift, para pengemudi truk lintas provinsi, orang-orang patah hati yang menelepon hanya untuk didengar. Ia merasakan sesuatu yang nyaris ia lupa rasanya: bukan ketegangan menunggu garis merah yang salah, melainkan kehangatan sederhana menemani orang asing melewati malam.
Penelepon datang. Seorang ibu yang merindukan anaknya di perantauan. Seorang sopir yang ingin lagu untuk menemani jam sepi. Seorang mahasiswa yang galau soal masa depan. Damar melayani mereka satu per satu, dan setiap kali garis merah menyala, ia melirik layar log—dan setiap kali, ada nomor di sana. Nomor yang nyata. Tidak ada strip kosong. Tidak akan pernah ada lagi.
Menjelang pukul dua belas, Damar memutar sebuah lagu lama dan menyandarkan punggungnya. Ia mengeluarkan dompetnya. Dari balik KTP, foto hitam-putih ibunya, tersenyum lembut, sama seperti selalu. Dan dari lipatan di sebelahnya, foto seorang lelaki tua di teras menghadap matahari sore.
"Sudah selesai, Bu," bisiknya pelan, hampir tak bersuara, seperti yang biasa ia lakukan—tapi kali ini ia tahu tidak ada perekam di bawah laci, tidak ada telinga lain yang menyimak, hanya dirinya dan dua wajah yang ia bawa. "Tidak ada yang harus membayar lagi. Aku menghentikannya di sana. Aku tidak menggantikannya." Ia menatap foto ayahnya sejenak lebih lama. "Aku tidak tahu apakah aku memaafkanmu. Tapi aku berhenti membawamu sebagai luka. Sekarang kamu cuma… foto. Cuma orang yang dulu ada." Ia menyelipkan keduanya kembali, berdampingan tapi tak menyatu, dan menutup dompet.
Jam menunjukkan pukul dua belas lewat tujuh menit.
Untuk sepersekian detik, kebiasaan lama menegangkan tengkuknya. Matanya melayang ke papan kendali, ke garis merah yang dulu selalu menyala di menit ini, di angka ini, di frekuensi yang sama. Napas yang lambat dan teratur. Suara datar yang membaca dosa keluarganya seperti membaca cuaca.
Tidak ada garis merah.
Tidak ada telepon.
Hanya lagu lama yang mengalun mengisi udara kota, dan kota yang tidur dengan tenang, dan jam yang lewat dari dua belas lewat tujuh menit ke dua belas lewat delapan, ke dua belas lewat sembilan, tanpa apa-apa. Malam pertama yang benar-benar sunyi. Malam pertama tanpa Suara.
Damar memejamkan mata dan mendengarkan kesunyian itu—bukan kesunyian yang penuh, yang menyimpan napas di ujungnya, melainkan kesunyian biasa, kesunyian kota yang tidur, kesunyian yang ia cintai dulu sebelum semua ini dimulai. Ia membuka mikrofon lagi saat lagu berakhir.
"Buat Anda yang masih terjaga di luar sana," katanya pelan ke udara, "yang membawa sesuatu yang terlalu berat untuk dipikul sendirian—saya di sini. Saya tidak menghakimi. Saya tidak menghukum. Saya cuma mendengarkan. Itu saja, dan kadang itu cukup." Ia tersenyum tipis, untuk diri sendiri, untuk kota, untuk dua foto dalam dompetnya. "Selamat malam. Tidurlah, kalau Anda bisa. Saya temani sampai fajar."
Di luar jendela, lampu-lampu jalan berkedip pelan dalam gelap, dan untuk pertama kalinya, satu yang dulu padam di malam pertama menyala kembali. Lentera Malam terus menyala, hangat dan biasa, sampai abu-abu fajar datang ragu-ragu di ufuk timur, menyapu kota yang akhirnya, benar-benar, tidur dengan tenang.