Mereka membawanya turun perlahan, satu anak tangga setiap kali, lelaki yang menggigil itu diapit dua petugas, tangannya kini diborgol di depan tubuh agar bisa berpegangan. Damar turun terakhir, di belakang Rangga, kakinya gemetar bukan karena ketinggian melainkan karena adrenalin yang surut meninggalkan kekosongan yang dingin. Di setiap pijakan, ia menunggu lelaki di bawahnya melawan, menjatuhkan diri lagi, melakukan sesuatu yang mengerikan. Tapi tidak. Lelaki itu turun dengan patuh, kepala tertunduk, seseorang yang telah meletakkan beban yang terlalu lama ia panggul dan kini tidak tahu harus berbuat apa dengan tangan yang kosong.
Di kaki menara, kompleks PT Mukti Sandang yang mati itu kini hidup oleh cahaya. Lampu biru memantul di dinding-dinding beton berkarat, di seng-seng longgar yang dulu hanya menggesek angin. Tiga mobil polisi. Sebuah ambulans, pintunya terbuka. Dan di antara semua itu, dibungkus selimut darurat di bahu seorang petugas perempuan, berdiri Lana—gemetar, basah oleh keringat dingin, tapi hidup, utuh, tak tersentuh seperti janji yang dipungkiri dan ditepati sekaligus.
Begitu melihat Damar muncul dari kegelapan tangga, Lana menghambur. Selimut itu jatuh dari bahunya. Ia memeluk Damar erat, dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan—mungkin dalam bertahun-tahun—Damar membiarkan dirinya dipeluk tanpa menghitung pintu keluar, tanpa mengawasi bayangan, tanpa mencari kamera tersembunyi dalam gelap.
"Aku kira aku akan mati di atas sana," bisik Lana ke bahunya. "Aku kira kamu akan memilihku atau memilih dia dan apa pun pilihanmu salah."
"Aku tidak memilih," kata Damar pelan. "Itu satu-satunya cara menang."
Mereka membawa lelaki itu ke salah satu mobil. Sebelum kepalanya ditundukkan masuk ke kursi belakang, ia menoleh sekali ke arah Damar. Tidak ada kata-kata. Tidak ada nada datar, tidak ada teka-teki, tidak ada janji tengah malam besok. Hanya tatapan—dua anak yang menanggung dosa orang tua yang sudah lama pergi, bertemu di puncak menara air dan turun bersama. Lalu pintu mobil tertutup, dan wajah itu lenyap di balik kaca yang memantulkan lampu biru.
Rangga datang menghampiri, menyeka wajahnya yang berkilat keringat dengan punggung tangan. Pistolnya sudah disarungkan. Untuk beberapa saat ia hanya berdiri di samping Damar, menatap menara yang menjulang gelap di atas mereka, tangki air yang tak pernah ada yang berenang di dalamnya.
"Empat menit," kata Rangga akhirnya.
"Apa?"
"Kami sampai gerbang dalam empat menit setelah panggilanmu. Gembok itu memakan satu menit lagi. Tangga itu memakan tiga." Ia menggeleng, lelah. "Kamu menahan dia bicara di atas sana. Aku dengar suaramu sayup-sayup waktu memanjat. Kamu mengisi waktu dengan kata-kata, persis seperti di radio. Itu yang membuat kami sempat." Ia menatap Damar. "Kalau kamu masuk sendirian dan diam seperti yang dia minta, kami terlambat. Lagi."
Damar tidak menjawab. Ia menatap tanah di kaki menara, batu datar tempat dulu ia menemukan puntung rokok yang ditata berjajar rapi—malam pertama ia merasa diawasi, malam pertama permainan menjadi nyata baginya. Batu itu kosong sekarang. Tidak ada yang mengintai dalam gelap. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, kegelapan kompleks pabrik itu hanya kegelapan biasa.
"Pak Rangga," kata Damar. "Dia melepaskan Lana sebelum kalian sampai. Dia memotong talinya sendiri. Dan di atas tangki tadi… dia tidak menarik tanganku. Dia ingin tenggelam. Aku yang menariknya naik."
Rangga menatapnya lama. "Kamu mau dia hidup."
"Aku mau dia diadili," kata Damar. "Dengan benar, kali ini. Bukan digugurkan, bukan ditutupi, bukan diselesaikan dengan air di menara. Dengan benar. Itu hal yang tidak pernah didapat ibunya. Mungkin… mungkin kalau dia melihat keadilan bekerja sekali saja, untuk siapa pun, sesuatu di dalamnya akan—" Damar berhenti. Ia tidak tahu cara menyelesaikan kalimat itu. Mungkin tidak ada yang akan sembuh. Mungkin sebagian luka memang tidak menutup. Tapi rantainya, setidaknya, sudah terputus. Tidak akan ada anak berikutnya yang menggantikan.
Sirene-sirene mulai padam satu per satu saat mobil-mobil bergerak keluar dari celah pagar yang roboh. Damar berdiri di antara reruntuhan pabrik tekstil yang mati sepuluh tahun lalu, di kota yang akhirnya tidur dengan tenang, dan menatap langit yang mulai memucat di ufuk timur. Subuh datang seperti biasa, abu-abu dan ragu-ragu. Tapi kali ini, untuk pertama kalinya sejak telepon di frekuensi sepi itu, fajar terasa seperti milik Damar lagi.