Rangga muncul pertama di mulut tangga, pistol terangkat, napas memburu setelah memanjat dua belas meter dalam gelap. "Berhenti! Polisi! Angkat tangan, menjauh dari tepi!"
Suara tidak mengangkat tangan. Ia juga tidak bergerak ke arah Damar. Ia berdiri di tepi galangan, di sisi tangki yang terbuka, air gelap beriak di belakang betisnya, dan menatap moncong pistol Rangga dengan ketenangan seseorang yang sudah lama berhenti takut pada kematian karena ia telah hidup berdampingan dengannya selama sepuluh tahun.
"Pelan-pelan," kata Rangga, melangkah ke galangan, satu petugas lain di belakangnya. "Tidak ada yang perlu mati lagi malam ini. Turun bersama kami. Kamu sudah dengar, kan? Damar sudah membebaskan gadis itu. Ini sudah selesai."
"Selesai," ulang Suara, dan ada sesuatu yang nyaris seperti tawa di kata itu. Ia menatap Damar, bukan Rangga. "Dia tidak mengerti, ya. Mereka tidak pernah mengerti. Bagi mereka selesai berarti borgol, berkas, sidang, sel. Bagi mereka ini cerita yang ditutup." Ia memiringkan kepala. "Tapi kamu mengerti, Damar. Kamu yang dengar semuanya dari awal. Kalau aku turun ke sana, mereka akan menanyaiku, mengadiliku, memenjaraku. Dan orang-orang seperti ayahmu akan selalu punya pengacara seperti dirinya dulu, dan keadilan akan kembali tergelincir, lagi, seperti selalu." Air di belakangnya beriak. "Aku tidak mau menyerahkan akhir ceritaku ke tangan yang sama yang menggugurkannya pertama kali."
"Jangan," kata Damar, melangkah maju. "Tidak harus begini. Kamu melepaskan Lana. Itu—itu artinya masih ada bagian dari kamu yang—"
"Yang apa? Yang baik?" Suara menggeleng pelan. "Tidak ada yang baik tersisa, Damar. Cuma capek. Aku cuma ingin berhenti." Ia menatap Damar lama, dan untuk satu detik terakhir nada datar itu menghilang sepenuhnya, dan yang tersisa hanya suara seorang anak laki-laki yang kehilangan ibunya dalam satu malam sepuluh tahun lalu dan tidak pernah benar-benar tidur sejak itu. "Kamu tahu yang paling lucu? Aku ingin kamu menggantikanku. Tapi kamu menolak. Dan dengan menolak, kamu membayar utang ayahmu lebih lunas daripada nyawa siapa pun yang bisa kuambil. Kamu memutus rantainya. Sialnya, kamu benar."
Lalu ia mencondongkan tubuhnya ke belakang.
"Tidak!" Damar melompat. Rangga melompat. Tapi galangan itu sempit dan basah dan licin, dan jarak tiga meter menjadi tak terbatas. Suara jatuh ke belakang, ke mulut tangki yang terbuka, dan air gelap menelannya dengan suara yang anehnya pelan—bukan debur besar, hanya cipratan tumpul, lalu riak yang menyebar dan memantul ke dinding logam.
Damar menumbukkan dirinya ke bibir tangki, tangannya menjulur ke dalam kegelapan dingin. "Pegang tanganku! Pegang—" Jari-jarinya menyentuh kain, menyentuh lengan, mencengkeram. Untuk sesaat ia merasakan berat manusia di ujung tangannya, merasakan air es yang menyengat sampai ke tulang. Ia menarik. Lengannya terbakar. Rangga sudah di sampingnya, ikut meraih, mencengkeram bahu jaket itu.
Tapi tangan di genggaman Damar tidak meraih balik.
Suara tidak melawan air. Ia tidak memegang tangan Damar erat-erat seperti orang tenggelam. Ia membiarkan dirinya berat, membiarkan air menariknya, dan satu-satunya yang menahannya adalah cengkeraman Damar yang mulai kehilangan kekuatan di logam basah. Mata mereka bertemu di bawah permukaan menara, di cahaya senter yang gemetar, dan Damar membaca di sana bukan teror, bukan permohonan, tapi sesuatu yang nyaris seperti kelegaan.
"Bantu aku menariknya!" teriak Damar. Petugas kedua menghambur. Empat tangan sekarang. Mereka menarik, dan air melepaskan korbannya dengan enggan, dan tubuh itu terangkat melewati bibir tangki, basah, dingin, lemas, batuk—hidup. Hidup. Damar dan Rangga membantingnya ke galangan, dan lelaki itu terbatuk-batuk memuntahkan air, dadanya naik turun, matanya terbuka menatap langit hitam tanpa bintang.
"Kamu—" lelaki itu terengah, suaranya kini pecah, tidak datar lagi, tidak pernah datar lagi. "Kenapa kamu menarikku."
Damar berlutut di sampingnya, lengannya bergetar, basah sampai bahu. "Karena aku hanya mendengarkan," katanya, terengah. "Aku tidak menghakimi. Aku tidak menghukum. Itu yang aku bilang tiap malam." Ia menatap mata yang basah itu. "Dan karena membiarkanmu mati di sini juga sebuah pilihan. Aku sudah bilang. Aku berhenti memilih siapa yang mati."