"Aku memilih untuk berhenti," kata Damar.
Suara itu tidak bergerak, tapi sesuatu di matanya bergeser—seekor predator yang mendengar bunyi yang tidak ada dalam perhitungannya. "Berhenti."
"Kamu menyusun semua ini supaya aku memilih satu nyawa di atas yang lain." Damar berbicara cepat sekarang, karena ia tahu setiap detik adalah satu anak tangga, dan ia harus mengisi galangan ini dengan kata-kata seperti dulu ia mengisi malam kota dengan suaranya. "Kamu mau aku merasakan apa yang ayahmu rasakan. Memilih, dan kalah apa pun yang kupilih. Supaya aku jadi seperti dia. Seperti kamu. Supaya rantainya nyambung satu generasi lagi. Anak menggantikan ayah. Aku menggantikan ayahku. Kamu sudah menggantikan ayahmu—bukan begitu, Wibawa sudah tiada, kan?"
Untuk pertama kalinya, Suara diam terlalu lama.
"Wibawa mati tiga tahun lalu," lanjut Damar, lebih lembut. "Kamu sendiri yang menemukannya, kamu yang menguburnya, sendirian. Dan kamu meneruskan daftarnya, karena itu satu-satunya cara membuatnya tidak benar-benar mati." Ia menelan ludah. "Aku mengerti itu. Sumpah aku mengerti. Aku juga berbisik ke foto orang mati supaya dia tidak benar-benar pergi. Kita sama dalam hal itu. Kamu benar dari dulu—kita tidak jauh berbeda."
"Jangan," kata Suara, dan suaranya retak lebih lebar sekarang. "Jangan kamu sok mengerti."
"Tapi di sinilah kita berbeda." Damar melepaskan pegangan besi di belakangnya dan melangkah ke depan, ke tengah galangan, ke tempat yang tidak terlindungi, ke jarak di mana lelaki itu bisa mendorongnya ke tangki dalam dua langkah. Ia melakukannya dengan sengaja. "Ayahmu mengajarimu membalas. Ayahku mengajariku satu hal juga, tanpa pernah dia tahu—dia mengajariku apa jadinya orang yang lari dari yang dia rusak. Aku tidak mau jadi salah satunya. Aku tidak akan membalas, dan aku tidak akan lari." Ia menatap lurus ke mata dingin itu. "Kalau kamu mau membunuh Lana, kamu harus melewati aku. Kalau kamu mau membunuhku, lakukan. Tapi aku tidak akan memilih siapa yang mati. Permainanmu butuh aku ikut bermain. Aku berhenti bermain. Sekarang, di sini, malam ini, permainanmu mati di tanganku—bukan karena aku menang, tapi karena aku tidak mau main."
Anak tangga di bawah berderak lebih cepat. Dua orang sekarang. Mungkin tiga.
Suara menatap Damar lama sekali. Air di tangki beriak. Bulan tipis menyelinap di balik awan, dan untuk sesaat galangan itu nyaris gelap total, hanya dua siluet dan satu perempuan terikat di antara mereka.
"Kamu pikir itu kemenangan," bisik Suara akhirnya. "Tidak memilih. Itu juga pilihan, Damar. Dan ada konsekuensinya."
Ia menarik kembali cutter kecil itu dari saku jaketnya, yang tadi ia simpan saat mereka mulai bicara. Bulan menyelinap dari balik awan, dan mata pisau geser itu berkilat saat ia mendorongnya keluar dengan ibu jari. Suara berlutut di belakang Lana, dan untuk satu detik mengerikan Damar mengira ia akan menebas tenggorokan sahabatnya.
Tapi tangan kirinya menarik lepas lakban dari mulut Lana dengan satu sentakan, dan pisau itu turun ke tali. Memotongnya. Lana terlepas, terjatuh ke depan, terbatuk.
"Pergi," kata Suara pada Lana, tanpa memandangnya. "Turun. Sekarang. Sebelum aku berubah pikiran."
Lana merangkak, lalu bangkit, lalu menatap Damar dengan mata penuh pertanyaan dan teror. "Mar—"
"Pergi, Lana," kata Damar. "Tolong."
Ia menghilang ke mulut tangga, berpapasan dengan langkah yang naik—ada teriakan, suara Rangga, lalu Lana ditangkap tangan-tangan di kegelapan tangga dan ditarik turun ke keselamatan. Tinggal mereka berdua di puncak menara. Damar dan Suara. Pengaku dan pengakuan. Anak dari lelaki yang berutang nyawa, dan anak dari perempuan yang nyawanya tak pernah dibayar.
"Kenapa kamu lepaskan dia?" tanya Damar.
Suara menutup cutter itu dengan bunyi klik kecil. Ia berdiri menghadap kota yang berkelip jauh di bawah, punggungnya pada Damar, bahu yang tiba-tiba terlihat sangat lelah untuk seseorang yang masih muda.
"Karena kamu benar," katanya, nyaris tak terdengar di antara angin. "Aku butuh kamu ikut bermain. Dan kamu tidak mau. Tanpa kamu, ini cuma aku, di atas menara, dengan air dan sebuah daftar yang tidak pernah benar-benar menghidupkan ibuku kembali." Ia menoleh sedikit, profilnya keras dalam cahaya bulan. "Sepuluh tahun, Damar. Dan ujungnya cuma ini. Bukan keadilan. Cuma kelelahan."
Langkah-langkah hampir sampai di puncak. Senter menyapu dinding besi dari bawah.