Di puncak menara air, angin tengah malam menggeram melalui celah-celah baja seperti makhluk yang lapar. Damar berdiri di tepi galangan sempit yang melingkari tangki, punggungnya menempel pada dinding besi yang dingin dan basah oleh embun. Tiga meter di depannya, di sisi lain galangan, sosok itu berdiri tenang—lelaki bermata dingin yang sudah ia hadapi wajah ke wajah malam ini, yang selama berbulan-bulan hanya berupa suara di telepon. Wajah yang bisa berpapasan dengan siapa saja di pasar tanpa menyisakan jejak ingatan. Justru itu yang paling menakutkan.
Di antara mereka, di sisi jauh galangan, Lana terduduk bersandar pada pagar besi, pergelangan tangannya terikat ke besi, mulutnya dibekap lakban. Sosok itu tidak perlu ia bicara; ia hanya ingin Damar mendengar napas takut sahabatnya di balik lakban, ingin semua indra Damar penuh dengan beban yang akan datang.
"Tutup tangki di belakangmu sudah kubuka," kata sosok itu, masih dengan nada yang sama datarnya seperti malam pertama di frekuensi sepi. "Penuh. Sampai bibir. Tempat penuh air, Damar. Tak ada yang berenang." Ia memiringkan kepala. "Lucu, ya. Sepuluh tahun aku menunggu lelucon ini selesai."
"Kamu sudah selesai," kata Damar. Suaranya serak karena memanjat, karena teror, karena sesuatu di dadanya yang menolak menjadi setenang yang ia inginkan. "Rangga tahu lokasi ini. Mereka sedang naik."
"Aku tahu mereka akan datang." Sosok itu tidak gentar. "Tapi aku selalu dengar lebih dulu darimu. Itu sebabnya kita di atas, dan mereka di bawah. Pagar dalam kukunci. Tangga satu-satunya naik ke sini ada di belakangmu. Mereka butuh waktu. Waktu adalah satu-satunya hal yang selalu kupunya lebih banyak."
Lana mendongak di balik lakban, matanya merah, suara tertahan tak jadi kata.
Sosok itu tidak menoleh padanya. Ia tidak pernah meninggikan suara; itu yang membuat kehadirannya terasa mutlak. Lalu ia kembali ke Damar, dan untuk pertama kalinya ada sesuatu yang menyerupai kelelahan di wajahnya. "Kamu tahu kenapa ibumu menyimpan fotonya hitam-putih, padahal foto berwarna sudah ada saat dia masih hidup?"
Damar tidak menjawab. Pertanyaan itu menusuk dari arah yang tidak ia duga.
"Karena dia tidak punya uang untuk cetak warna," lanjut sosok itu. "Sama seperti ibuku. Kita lahir dari perempuan yang tidak punya uang untuk hal-hal kecil, Damar. Bedanya, ibumu mati pelan-pelan dimakan penyakit, dan ada yang menungguinya. Ibuku mati dalam satu malam, sendirian, lalu dicap bunuh diri oleh orang-orang yang dibayar ayahmu untuk bilang begitu di pengadilan."
"Aku bukan ayahku."
"Tidak." Sosok itu melangkah satu langkah ke samping, mengelilingi galangan perlahan, dan air gelap di dalam tangki di sebelahnya beriak, memantulkan bulan tipis. "Tapi kamu satu-satunya bagian dari dia yang masih bisa kusentuh. Ayahmu sudah lepas dariku—mati di ranjang sebelum tanganku sempat menjangkaunya, dan aku menontonnya pergi tanpa pernah membayar. Itu yang kamu baru saja mengerti, kan?" Untuk sekejap nadanya retak, sehelai benang halus dalam baja. "Aku kehabisan orang untuk membuat membayar. Sampai aku menemukanmu. Suara di radio yang berbisik ke foto ibunya saat dia pikir tidak ada yang dengar. Suara yang punya nama keluarga yang sama dengan lelaki yang membunuh ibuku tanpa pernah menyentuhnya."
Damar mencengkeram pegangan besi di belakangnya. Air dingin embun menetes di lehernya. Di bawah, jauh dan sunyi, kompleks mati itu masih gelap—tak ada lampu, tak ada sirene, hanya janji bahwa di suatu tempat di luar pagar, sinyal yang ia tekan tadi sedang menarik Rangga keluar dari selokan dan menyuruhnya berlari. Tangga ini, pikir Damar, tangga ini akan memakan menit-menit berharga untuk seseorang yang naik dalam gelap. Empat menit. Durasi rekaman pertama. Empat menit dua belas detik yang mengubah segalanya.
"Lepaskan Lana," kata Damar. "Dia tidak ada hubungannya dengan ini. Dia bukan utang siapa-siapa."
"Aku tahu." Sosok itu berhenti melangkah, tepat di belakang Lana sekarang, tangannya melayang di atas tali yang mengikat. "Itulah gunanya. Aku tidak butuh Lana mati. Aku butuh kamu memilih. Itu yang kupelajari sepuluh tahun ini, Damar—kematian tidak menyakiti orang yang masih hidup sebanyak pilihan menyakiti mereka. Ibuku mati cepat. Ayahku yang menanggungnya, dan ayahku yang hancur, karena dia harus terus memilih: menyerah atau melawan, melupakan atau mengingat, hidup untuk anaknya atau mati bersama istrinya." Ia menatap Damar. "Sekarang giliranmu memilih. Aku, atau dia."
Angin menggeram lagi. Air di tangki tak pernah diam, beriak terus seolah ada yang bernapas di bawah permukaannya. Damar menatap Lana yang gemetar di balik lakban, menatap lelaki yang telah merampas tidurnya selama berbulan-bulan, menatap kegelapan menganga di mulut tangki. Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa pilihan yang ditawarkan padanya bukan pilihan yang sebenarnya dimaksud sosok itu. Ia ingin Damar memilih nyawa. Tapi yang sesungguhnya ditawarkan, yang sudah ditawarkan sejak malam pertama, adalah memilih menjadi apa.
"Tidak," kata Damar pelan. "Aku tidak akan memilih cara itu."
Sosok itu menunggu. "Lalu apa yang akan kamu pilih?"
Di bawah, langkah pertama berderak di tangga besi. Naik.