Dentang pertama menara jam kota merambat tipis lewat angin, dan sosok itu berhenti melangkah.
Tangannya sudah keluar dari saku, dan di cahaya lentera Damar melihatnya sekarang dengan jelas — bukan senjata api, bukan pisau besar, melainkan sebuah cutter kecil, sehelai mata pisau geser yang ia dorong keluar dengan ibu jari, logamnya berkilau dingin. Tapi sosok itu tidak menyerang. Ia berdiri di antara Damar dan Lana, cutter di tangan, dadanya naik turun, seperti orang yang tahu ia sudah sampai di tepi sesuatu dan belum memutuskan apakah akan melompat.
"Kamu pikir kata-kata bisa menghentikan ini," kata sosok itu, suaranya lebih muda, lebih putus asa, lebih manusiawi dari suara mana pun yang pernah Damar dengar lewat telepon. "Tidak ada yang tersisa, Damar. Kamu sudah mengambil semuanya. Ayahmu lolos. Dendamku kosong. Yang tersisa cuma malam ini."
"Maka beri aku malam ini," kata Damar, menahan suaranya tetap rendah, tetap hangat, suara yang sama yang dulu menemani kota sampai fajar. Setiap kalimat adalah satu detik, dan setiap detik adalah satu anak tangga bagi seseorang yang sedang berlari di bawah sana. "Kamu menunggu sepuluh tahun untuk bicara dengan seseorang yang benar-benar mengerti. Jangan akhiri dalam satu tusukan. Bicara dulu. Aku mendengarkan. Itu yang selalu aku lakukan, kan?"
Sosok itu ragu — dan dalam keraguan itu, dengan tangan yang tersembunyi di balik tubuhnya, Damar meraih ke saku celananya, ke ponsel murah tak terlacak yang menempel di pahanya, dan jarinya menemukan tombol di sisi yang sudah ia hafal dalam gelap. Ia menekannya. Satu panggilan, terkirim ke nomor yang menunggu di selokan timur, ke jam tangan Rangga yang akan bergetar sekarang, ke beberapa menit lari menembus rumput liar yang baru saja dimulai.
Dentang kedua menara jam kota.
Sosok itu menoleh sekejap ke arah suara dentang, lalu kembali ke Damar, dan untuk sesaat Damar mengira ia tahu — tahu tentang panggilan itu, tentang Rangga, tentang jaring yang sedang ditarik. Tapi sosok itu hanya menggeser mata cutter itu masuk separuh, lalu mendorongnya keluar lagi, gestur gelisah seseorang yang berdiri terlalu lama di tepi keputusan.
"Lana tidak ada hubungannya dengan ini," kata Damar pelan, melangkah satu langkah, sangat lambat, ke tengah pelataran logam yang sempit dan basah. Di belakang sosok itu, Lana meringkuk di pagar di sisi jauh, pergelangannya terikat, matanya berpindah cepat di antara mereka. "Lepaskan dia, dan aku tetap di sini. Aku tidak akan lari. Kamu punya yang kamu mau — anak dari orang yang berutang. Itu aku. Bukan dia."
Sosok itu menatapnya lama, cutter di tangan, air gelap di tangki menganga di sebelahnya beriak tanpa henti. Dentang ketiga menara jam kota menggema di atas kota yang tidur. Lalu, perlahan, ia mundur selangkah dari Lana, menggeser mata cutter itu masuk dan menyelipkannya kembali ke saku — tanda, untuk sekarang, bahwa ia memilih bicara dulu — dan berdiri menghadap Damar penuh, di tengah panggung yang sudah ia rancang sepuluh tahun.
"Baik," katanya, dan suaranya tiba-tiba lelah, tiba-tiba tua untuk seseorang yang masih begitu muda. "Kalau kamu mau mendengarkan, Damar — maka dengarkan. Sampai habis. Karena ini pengakuan terakhir, dan setelah ini tidak ada lagi yang tersisa untuk dikatakan siapa pun."
Dan di puncak menara air itu, di atas air hitam yang tak pernah diam, dengan langkah-langkah samar mulai menembus rumput liar jauh di bawah, dua orang yang sama-sama dihancurkan oleh dosa ayah mereka akhirnya berdiri berhadapan untuk hal terakhir yang masih bisa mereka lakukan: bicara, dan memilih.