Sosok itu diam. Untuk pertama kalinya sejak telepon yang paling awal, ada keheningan di sisinya yang bukan keheningan kendali — keheningan seseorang yang tiba-tiba tidak yakin ia memegang semua kartu.
"Kamu berbohong," kata sosok itu akhirnya. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang malam itu. Kamu masih anak-anak. Kamu di kota lain bersama ibumu yang sekarat."
"Aku memang anak-anak," kata Damar, dan ia melangkah selangkah lebih dekat ke dalam cahaya lentera, menjauh dari tangga, mendekati pusat pelataran yang sempit. Setiap detik yang ia ulur adalah detik untuk Rangga. Tapi lebih dari itu — ia menyadarinya sekarang dengan kejernihan yang dingin — apa yang akan ia katakan bukan sekadar mengulur waktu. Itu nyata. Itu benar. "Tapi setelah semua ini, setelah berbulan-bulan kamu menyeretku ke dalam masa lalu yang kamu pikir cuma masa lalumu, aku menggali masa laluku sendiri. Aku menemukan ayahku, namanya. Aku tahu di mana dia berakhir."
Mata sosok itu menyipit. Tangannya, yang sejak tadi tenang, bergerak sedikit — ke saku jaketnya, di mana Damar melihat sekilas garis sesuatu yang keras dan logam. "Jadi kamu sudah ke makam itu juga," kata sosok itu, dan ada nada baru, nada lapar yang aneh, nada yang sepuluh tahun menanti satu sosok untuk dihadapkan dan tak pernah benar-benar mendapatkannya. "Kalau begitu kamu tahu. Ayahmu lolos, Damar. Dia mati sebelum aku sempat membuatnya membayar. Dan karena dia lolos, yang tersisa cuma kamu. Itu utang yang sebenarnya sekarang. Kamu menggantikannya. Gantikan dia, dan mungkin — mungkin — Lana pulang malam ini."
Dan di situlah Damar mengerti, dengan kepastian yang membuat perutnya jatuh, apa pilihan terakhir yang sudah lama disiapkan untuknya. Ultimatum yang sudah ia rasakan datang sejak surat di kaki menara: ayahnya sudah di luar jangkauan, jadi gantikan posisinya. Tapi yang akan mengubah segalanya bukanlah kabar kematian itu — sosok ini sudah lebih dulu menyaksikannya — melainkan jawaban yang Damar bawa naik dua belas meter di malam ini.
"Ayahku mati dua tahun lalu," kata Damar. "Kanker. Sama seperti ibumu. Kamu tahu itu lebih dulu dari aku — kamu duduk di ruang tunggu rumah sakit yang sama, menontonnya mati pelan-pelan."
Hening. Angin berhenti, sesaat, seolah menara pun menahan napas.
"Diam," bisik sosok itu.
"Bukan dalam persembunyian mewah. Bukan menikmati uang yang dia dapat dari membela pabrik," kata Damar, suaranya rendah, rata, jujur dengan kejujuran yang lebih kejam dari kebohongan apa pun. "Sebuah kota kecil, nama yang dia ganti, kerja jadi juru tulis, sendirian, tanpa ada yang menengok. Aku menemukan catatannya minggu lalu — yang kamu kumpulkan selama dua tahun mengawasinya. Dan aku tahu apa yang kamu lihat di tahun-tahun terakhirnya. Seorang lelaki yang dimakan penyakit yang sama dengan yang membunuh ibumu. Ayahku tidak menghilang karena menang. Ayahku lari karena dia tidak bisa hidup dengan apa yang dia lakukan. Dosa yang sama yang membusukkan ayahmu jadi cangkang, membusukkan ayahku juga. Hanya saja ayahku tidak punya keberanian untuk membayarnya. Dia memilih lupa, dan penyakit menghabisinya sebelum tanganmu bisa." Damar menahan tatapan dingin yang kini retak di depannya. "Itu sebabnya kamu mengalihkannya ke aku, kan. Karena kematiannya terlalu biasa. Terlalu adil. Terlalu manusiawi untuk dendam yang kamu rancang sepuluh tahun."
Sosok itu berdiri membatu. Sepuluh tahun ia membangun dunianya di atas satu sosok yang harus membayar — dan ketika sosok itu mati biasa di ranjang rumah sakit, ia memindahkan seluruh beban itu ke pundak seorang anak yang tak pernah memilih apa pun. Dan dengan menamai semuanya keras-keras, Damar baru saja menelanjangi rahasia paling busuk dari rencana itu: bahwa ini tidak pernah benar-benar tentang keadilan. Bahwa dosa ayah Damar telah memakan pendosanya sendiri, jauh sebelum tangan mana pun bisa menjangkaunya — dan sosok ini menolak menerimanya.
"Tidak," kata sosok itu, dan untuk pertama kalinya suaranya gemetar, untuk pertama kalinya tidak datar, tidak presisi. "Tidak. Dia harus membayar. Aku menunggu. Aku menyiapkan. Sepuluh tahun. Dia tidak boleh mati begitu saja, sendirian, lupa — itu terlalu mudah, itu bukan keadilan—"
"Itu memang bukan keadilan," kata Damar pelan, dan ia melangkah lagi, kini cukup dekat untuk melihat air mata yang menggenang di mata dingin itu, mata yang akhirnya, setelah sepuluh tahun, kembali bisa menangis. "Tidak ada keadilan dalam ini. Tidak pernah ada. Itu yang ibumu tahu, itu yang ayahmu tahu, itu yang membunuh mereka berdua. Dan itu yang akan membunuhmu juga, kalau kamu menyelesaikan malam ini seperti yang kamu rencanakan." Damar mengangkat tangannya, perlahan, telapak terbuka. "Aku di sini. Anak dari orang yang berutang nyawa, persis seperti yang kamu tulis. Tapi aku tidak datang untuk membayar dengan menjadi kamu. Aku datang untuk bilang: rantai ini berhenti di sini. Di kita berdua. Dua anak yang tidak pernah memilih dosa ayah mereka."
Jauh di bawah, di luar pagar, di selokan timur, Damar tahu Rangga sedang menatap jamnya. Beberapa menit lagi menuju tengah malam. Pukul dua belas lewat tujuh menit — jam yang dicintai sosok ini, jam yang menjadi detak seluruh permainan ini — semakin dekat. Dan Damar tahu, dengan kepastian yang dingin, bahwa apa pun yang akan terjadi di puncak menara ini akan terjadi pada jam itu, seolah waktu sendiri telah diatur sejak telepon pertama untuk membawa mereka berdua ke detik ini.
Sosok itu menatap Lana yang terikat di pagar, lalu menatap jurang air hitam yang menganga di sebelahnya, lalu menatap Damar. Tangannya keluar dari saku, dan di cahaya lentera, logam itu berkilau.
"Kamu merampas terakhirku," bisiknya, dan suaranya bukan lagi suara di udara tanpa wajah. Itu suara seorang anak yang baru saja kehilangan satu-satunya alasan yang membuatnya bertahan hidup. "Kalau ayahmu sudah tiada, kalau keadilan sudah tiada, kalau bahkan dendam pun tiada — maka apa yang tersisa untukku, Damar? Apa yang tersisa selain menjadikan malam ini berarti dengan satu-satunya cara yang masih bisa kupegang?"
Ia melangkah ke arah Lana. Dan jam di kota di kejauhan mulai berdentang, mendekati tengah malam.