Tangga besi itu dingin dan basah di bawah telapak Damar, setiap pijakan berderak menahan beratnya. Mereka naik beriringan, sosok itu di depan, Damar di belakang, dua belas meter perlahan-lahan menjauh dari tanah. Angin menguat semakin tinggi mereka memanjat, membawa bau air diam dan logam berkarat. Di puncak, tangga berujung pada sebuah pelataran sempit yang melingkari tangki, sebuah jalur logam berpagar setinggi pinggang, dan di satu sisinya, tutup tangki terbuka lebar, menganga ke kegelapan air di bawah.
Lana ada di sana.
Ia duduk bersandar pada pagar di sisi jauh, pergelangan tangannya terikat ke besi, mulutnya dibekap lakban, matanya — saat menangkap senter Damar — membelalak penuh air mata dan teror dan, untuk sekejap, harapan yang menghancurkan hati. Ia hidup. Ia lelah, pucat, gemetar dalam dingin malam, tapi ia hidup.
"Lana," kata Damar, dan namanya keluar seperti doa.
"Dia tidak terluka," kata sosok itu, berdiri di tengah pelataran, di antara Damar dan Lana, dengan tutup tangki yang menganga di sebelahnya. "Aku sudah bilang aku tidak menyentuh perempuan. Aku bukan ayahmu, Damar. Aku tidak menghancurkan orang yang tidak bersalah." Ia menatap Damar di bawah cahaya lentera kedua yang sudah ia pasang di atas sini, sebuah panggung yang sudah lama ia rancang. "Dia hanya di sini supaya kamu naik. Supaya kamu mendengar. Karena malam ini, akhirnya, aku akan mengaku yang sebenarnya. Bukan pengakuan palsu seperti yang kuberi di telepon-telepon itu. Pengakuan yang sungguh-sungguh. Dan aku ingin kamu — kamu yang seumur hidup mendengarkan pengakuan orang asing tengah malam — menjadi yang mendengar pengakuanku."
Damar berdiri diam, punggungnya menempel ke tangga, Lana di seberang, jurang air hitam di antara mereka. Ia tidak bergerak. Ia tahu, selama sosok itu bicara, jam berdetak, dan Rangga sedang berjongkok di selokan menghitung menit yang sama.
"Bicaralah," kata Damar. "Aku mendengarkan."
Sesuatu melintas di wajah sosok itu — kepuasan, mungkin, atau kelegaan yang dipendam sepuluh tahun. Lalu ia mulai.
"Ibuku bernama Sari." Suaranya datar, tapi Damar mendengar retakan tipis di bawahnya, seperti es di atas air dalam. "Dia bekerja di pabrik ini, di Mukti Sandang, dua belas tahun. Tangannya rusak karena mesin pemintal, tapi dia tetap bekerja, karena kami butuh uang, karena ayahku Wibawa juga buruh di sini, dan dua gaji buruh pun nyaris tidak cukup. Lalu pabrik tutup. Kami dibuang seperti sampah. Ribuan dari kami. Tapi ibuku berbeda — ibuku tahu sesuatu. Dia melihat sesuatu yang seharusnya tidak dia lihat, tentang bagaimana pemilik pabrik mengosongkan kas, memindahkan uang yang seharusnya jadi pesangon kami, ke kantong-kantong yang tidak boleh disebut." Matanya mengeras. "Ibuku bicara. Ibuku mengancam akan bicara lebih keras. Dan tiga hari kemudian, ibuku ditemukan mati di kamar kami. Disebut bunuh diri. Gantung diri, kata mereka. Padahal ibuku takut ketinggian. Ibuku tidak akan pernah memilih cara mati yang membuatnya harus memanjat."
Damar tidak bergerak. Tempat penuh air. Tinggi. Ia mengerti sekarang kenapa menara ini, kenapa puncak ini, kenapa air. Ini bukan sekadar teka-teki. Ini peringatan kematian seorang ibu, dipanggungkan ulang oleh anaknya selama sepuluh tahun.
"Ayahku menuntut keadilan," lanjut sosok itu. "Wibawa pergi ke polisi, ke pengadilan, ke koran. Bertahun-tahun. Dan setiap pintu ditutup, satu per satu, oleh tangan-tangan yang dibayar untuk menutupnya. Pintu terakhir, pintu yang seharusnya jadi keadilan, ditutup di ruang pengadilan oleh seorang pengacara yang membela pabrik. Pengacara yang membuat gugatan kami runtuh, yang membuat hakim percaya ibuku memang bunuh diri, yang menamai ayahku orang gila yang berduka dan tak bisa menerima kenyataan." Ia menatap Damar lurus, dan inilah saat itu, saat yang menggantung di antara mereka sejak telepon pertama. "Pengacara itu bernama sama denganmu, Damar. Itu ayahmu. Dan setelah ia memenangkan kasusnya, setelah ia merampas keadilan terakhir keluargaku, ia menghilang. Pergi. Meninggalkan kota ini, meninggalkan kliennya, meninggalkan — kudengar — seorang anak laki-laki yang waktu itu masih belasan tahun. Kamu."
"Aku tidak tahu," kata Damar, dan suaranya pecah. "Aku bersumpah, aku tidak tahu apa yang dia lakukan. Aku tidak tahu di mana dia. Dia pergi saat aku—"
"Aku tahu kamu tidak tahu." Sosok itu memotongnya, dan anehnya, tanpa marah. "Itu yang membuat ini sempurna, Damar. Kamu sama seperti aku. Anak yang ditinggalkan, yang menanggung dosa ayahnya tanpa pernah memilih. Ayahmu pergi membawa rahasianya. Ayahku—" suaranya tersendat, sekali, satu-satunya kali sepanjang malam ini, "—ayahku tinggal, dan dendamnya membusuk di dalamnya sampai ia jadi cangkang. Wibawa mati tiga tahun lalu, Damar. Di sebuah kamar kontrakan, sendirian, masih menggumamkan nama-nama yang harus membayar. Aku yang menemukannya. Aku yang menguburnya, di petak tanah tak bernama yang tak akan pernah kamu temukan. Dan aku yang mewarisi daftarnya. Karena seseorang harus menagih utang yang ditinggalkan dunia ini begitu saja."
Angin meraung di puncak menara. Air hitam di bawah tutup tangki yang menganga bergerak pelan, tak pernah diam, memantulkan secercah cahaya lentera. Lana terisak di balik lakban, matanya berpindah cepat antara Damar dan sosok yang berdiri di antara mereka, di tepi jurang air yang dingin.
"Jadi ini akhirnya," kata Damar pelan. "Aku menggantikan ayahku. Itu maumu sejak awal. Bukan untuk membunuhku. Untuk membuatku membayar utang dengan cara yang ayahku tidak pernah berani: dengan berdiri di sini, di tempat ibumu mati, dan mengakui dosa darah yang kupikul." Ia menatap mata dingin itu. "Tapi kamu lupa satu hal."
"Apa," kata sosok itu, hampir berbisik, dan untuk pertama kalinya, ada ketidakpastian di puncak menara itu.
"Pengakuan," kata Damar, "tidak pernah punya satu arah. Aku sudah mendengarkanmu, sekarang. Sekarang giliranmu mendengarkanku. Karena ada hal tentang ayahku, tentang malam ibumu mati, yang bahkan kamu tidak tahu."