Kompleks itu lebih gelap dari yang pernah Damar ingat, gelap yang pekat dan basah, gelap yang seakan punya berat. Ia meninggalkan motornya di celah pagar selatan dan berjalan masuk menembus rumput liar yang menggesek celananya, senter ponsel barunya menari di tanah di depannya. Setiap langkah mengingatkannya pada malam pertama, ketika ia masih mengira dirinya pemburu. Sekarang ia tahu ia hanya pernah jadi yang diburu, sejak awal, sejak sebelum awal.
Menara air menjulang di depannya, siluet hitam yang lebih hitam dari langit. Dan di kakinya, di atas batu datar yang sudah jadi semacam landmark dalam mimpi buruknya, ada cahaya. Sebuah lentera kecil bertenaga baterai, menyala kuning, dengan sengaja dipasang seolah untuk memandu. Di sampingnya, duduk dengan sabar di atas batu, dengan punggung tegak dan kedua tangan di pangkuan, ada seseorang.
Damar berhenti sepuluh langkah dari cahaya itu. Jantungnya menabuh begitu keras ia yakin sosok di depannya bisa mendengar.
"Kamu datang," kata sosok itu. Dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, suara itu tidak datang dari telepon, tidak melewati saluran atau jeda atau nada tut panjang. Suara itu datang dari mulut yang nyata, di udara yang nyata, sepuluh langkah dari Damar. Sama datarnya. Sama presisinya. Tapi kini ada tubuh yang menghasilkannya, dan itu membuat segalanya berbeda, membuat segalanya lebih kecil dan lebih besar sekaligus.
Sosok itu bangkit dan melangkah ke dalam cahaya lentera, dan Damar melihat wajahnya.
Ia muda — sebaya Damar, pertengahan hingga akhir dua puluhan, mungkin hanya sedikit lebih muda darinya, persis seperti yang selama ini Damar bayangkan dari rekaman toko dan foto SMK lama itu. Wajahnya biasa saja, wajah yang bisa kamu lewati seribu kali di jalan tanpa pernah kamu ingat — dan justru itu yang membuat Damar merinding, karena ia mungkin memang pernah melewatinya, di halte, di lampu merah, di warung Bang Toni, di mana saja. Rambutnya pendek dan rapi. Matanya — matanya persis seperti yang dikatakan nenek tetangga itu, berbulan-bulan lalu, di gang tempat keluarga Wibawa pernah tinggal. Dingin. Bukan dingin yang marah. Dingin yang sudah selesai dengan marah. Dingin yang tinggal di mata seseorang setelah air mata habis dan yang tersisa hanya rencana.
"Aku tahu wajahmu," kata Damar pelan. Suaranya nyaris tak terdengar di kompleks yang sunyi. "Aku menyatukannya berminggu-minggu. Dari rekaman toko yang buram. Dari foto SMK yang lama. Dari satu sudut altar di reruntuhan rumahmu." Ia menelan ludah. "Tapi aku tidak pernah yakin sampai sekarang. Sampai aku berdiri di sini dan melihatnya sendiri."
Sosok itu memiringkan kepala, sebuah gestur yang hampir seperti rasa ingin tahu. "Dan apa namaku, Damar? Karena kalau kamu benar-benar tahu, katakanlah. Bukan ke polisi. Bukan ke mikrofon. Katakan padaku. Di sini. Aku ingin mendengarmu mengucapkannya." Ada sesuatu yang nyaris haus dalam nada itu — kebutuhan seorang yang seumur hidup tak punya nama yang diakui siapa pun, untuk sekali ini didengar namanya disebut oleh orang yang ia pilih.
Damar mengucapkannya. Nama itu — nama yang ia temukan di akta lama, nama yang berawalan sama dengan kota kecil di pesisir tempat anak ini lahir sebelum keluarganya pindah ke kota ini mengejar pekerjaan di pabrik yang akan menghancurkan mereka. Ironi yang dulu Suara janjikan: nama yang berawalan kota lahir bukan milik korban, tapi milik pelaku sendiri, tersembunyi di depan mata sepanjang waktu.
Sosok itu menutup mata sejenak saat namanya disebut, seolah disirami sesuatu yang lama ia haus akan. Lalu ia membukanya kembali, dan dinginnya kembali utuh.
"Bagus," katanya. "Sekarang kita berdua punya wajah. Sekarang kita berdua punya nama. Tidak ada lagi suara di udara tanpa wajah, Damar. Itu cuma untuk awal. Untuk akhir, aku ingin kamu melihatku. Aku ingin kamu tahu persis siapa yang ayahmu hancurkan, dan siapa yang membalas." Ia melangkah lebih dekat, dan Damar memaksa dirinya tidak mundur. "Aku tahu kamu membawa polisimu. Iptu Rangga, ya? Di suatu tempat di luar pagar, di selokan timur, kalau aku menebak benar — dia selalu suka medan tinggi yang tersembunyi." Senyum tipis, tanpa kehangatan. "Tidak apa-apa. Biarkan dia di sana. Karena pada saat dia sampai, Damar, semua yang penting sudah akan terjadi. Tiga menit. Mungkin empat. Dia akan tiba untuk menemukan akhir, bukan untuk mencegahnya."
Darah Damar membeku. Suara tahu. Tentu Suara tahu — ia selalu tahu, ia membaca pola, ia membaca orang, ia membaca Rangga seperti membaca Damar. Tapi di balik teror itu, Damar mencengkeram satu hal yang Suara katakan tanpa sadar: bahwa Suara pun menghitung tiga menit itu. Bahwa Suara pun tahu jendelanya. Yang berarti permainan ini, untuk pertama kalinya, dimainkan oleh dua orang yang sama-sama tahu aturannya.
"Di mana Lana," kata Damar.
Sosok itu mendongak, ke puncak menara yang hilang dalam gelap. "Di tempat yang penuh air," katanya pelan. "Tapi tak ada yang berenang." Ia menatap Damar kembali, dan untuk pertama kalinya ada sesuatu dalam matanya yang bukan dingin, bukan rencana — sesuatu yang lebih tua, lebih dalam, lebih menyakitkan. "Naiklah, Damar. Kita sudah cukup lama bicara lewat kabel. Malam ini, kita bicara seperti manusia. Di atas sana. Di tempat tertinggi yang bisa kita capai sebelum jatuh."
Dan ia berbalik, menuju tangga besi yang melingkar naik ke langit hitam, mengharapkan Damar mengikutinya, seperti yang ia harapkan sejak telepon pertama, berbulan-bulan dan sepuluh tahun yang lalu.