Rencananya rapuh, dan keduanya tahu itu. Mereka menyusunnya di mobil Rangga yang diparkir di gang gelap dekat studio, dengan lampu kabin dimatikan, suara mereka rendah seolah dinding malam pun bisa menyadap.
"Aku akan menempatkan diri di sini," kata Rangga, menunjuk titik di peta kasar yang ia gambar tangan, sebuah saluran irigasi kering yang membentang di sisi timur kompleks. "Di luar pagar, di luar garis pandang dari menara. Aku bawa satu orang yang aku percaya penuh — cuma satu, karena makin banyak orang, makin besar kemungkinan bocor, dan kita sudah tahu ada yang bocor di timku." Rahangnya mengeras. "Begitu kamu memberi sinyal, kami masuk. Tapi Damar — dari saluran itu ke kaki menara butuh waktu. Tiga menit, mungkin empat, kalau kami berlari dalam gelap di medan yang tidak rata. Tiga menit di mana kamu sendirian dengannya di atas sana."
"Tiga menit," Damar mengulang. "Aku bisa bertahan tiga menit."
"Kamu tidak tahu itu."
"Tidak," akui Damar. "Tapi aku tahu satu hal: kalau dia melihat satu pun seragam, satu pun lampu biru, satu pun gerakan yang salah, dia akan menyelesaikan ini sebelum tiga menitmu habis. Lana dulu, lalu aku. Atau aku dulu, di depan Lana, supaya dia melihatku mati. Aku tidak tahu mana yang lebih dia inginkan dan aku tidak mau mencari tahu." Damar menatap Rangga di kegelapan. "Itu sebabnya kamu harus tertinggal di luar pagar, Rangga. Kamu harus melepaskan aku masuk sendirian. Itu menyalahi setiap insting di tubuhmu sebagai polisi, aku tahu. Tapi satu-satunya jaring pengaman yang kupunya adalah jaring yang tidak boleh dia lihat."
Rangga lama tidak bicara. Tangannya mencengkeram kemudi mobil yang tidak bergerak, buku-buku jarinya memutih. Damar tahu apa yang sedang bergulat di dalam diri polisi itu — bertahun-tahun pelatihan yang mengajarkan jangan pernah biarkan seorang warga sipil masuk ke titik bahaya sendirian, melawan satu-satunya logika yang tersisa di malam ini.
"Kalau ini gagal," kata Rangga akhirnya, suaranya berat, "kalau kamu mati di atas menara itu sementara aku berjongkok di selokan menunggu sinyal yang tidak pernah datang — itu akan menghantuiku seumur hidup. Kamu mengerti itu?"
"Aku mengerti." Damar mengeluarkan ponselnya, sebuah ponsel murah yang baru ia beli tunai siang tadi, tak terlacak ke namanya. "Sinyalnya sederhana. Satu panggilan tak terjawab ke nomormu. Begitu aku menekan tombol itu, kamu lari. Tidak peduli apa yang kamu dengar, tidak peduli apa yang aku teriakkan setelahnya — kalau panggilan itu masuk, kamu lari. Karena mungkin itu satu-satunya detik di mana tanganku masih bebas."
"Dan kalau dia mengambil ponselmu sebelum kamu sempat menekannya?"
Damar terdiam. Itu kemungkinan yang tidak bisa ia singkirkan. Suara selalu teliti. Suara akan menggeledahnya, melucutinya, membuangnya telanjang dari setiap alat. "Maka kamu harus menebak kapan harus lari," kata Damar pelan. "Berdasarkan waktu. Aku akan mengulur. Aku akan membuatnya bicara — itu yang selalu dia mau, kan, bicara, mengaku, didengar. Selama dia bicara, dia belum menyelesaikan. Beri aku sampai lewat tengah malam. Pukul nol nol nol tujuh, kalau kamu mau ironi. Jam yang dia cintai. Kalau pada jam itu aku belum memberi sinyal, dan kamu belum mendengar apa-apa — kamu lari, dan kamu doakan kamu tidak terlambat seperti sirene-sirene yang selalu datang terlambat di kota ini."
Rangga mengeluarkan napas panjang, gestur seseorang yang menyerahkan kendali atas hal yang paling tidak ingin ia serahkan. "Aku benci ini," katanya.
"Aku juga," kata Damar. "Tapi ini satu-satunya rencana di mana Lana punya kesempatan. Dan kalau aku harus memilih antara aman dan Lana hidup, kamu sudah tahu aku memilih apa. Aku sudah memilihnya sejak telepon pertama, hanya saja aku tidak tahu namanya waktu itu."
Mereka duduk dalam diam beberapa saat. Di luar mobil, kota berdetak menuju tengah malam, lampu-lampu jendela padam satu per satu, seakan dunia menutup matanya supaya tidak melihat apa yang akan terjadi.
"Satu hal lagi," kata Rangga akhirnya, suaranya berubah, lebih lembut, hampir seperti permohonan. "Kalau ada celah, kalau sedetik pun kamu punya pilihan antara menyelamatkan dirimu atau membuktikan sesuatu — pilih hidup, Damar. Jangan mati untuk menebus dosa ayahmu. Itu utang ayahmu, bukan utangmu. Kamu tidak berutang nyawa pada siapa pun."
Damar membuka pintu mobil, lalu berhenti, separuh keluar ke malam yang dingin. Ia menoleh, dan untuk sekejap, di bawah cahaya redup lampu jalan yang menyusup, wajahnya tampak lebih tua dari dua puluh sembilan tahun.
"Itu yang aku coba percaya, Rangga," katanya pelan. "Tapi malam ini aku harus berhadapan dengan seseorang yang seluruh hidupnya hancur karena utang itu. Dan aku tidak yakin aku bisa berdiri di depannya dan bilang itu bukan urusanku. Karena untuk dia — itu satu-satunya urusan yang pernah ada."
Ia menutup pintu pelan, dan berjalan ke arah motornya, menuju kompleks pabrik mati yang menanti di sisi barat kota, di mana sebuah menara penuh air gelap berdiri menunggu seseorang akhirnya naik ke puncaknya.