Mereka pergi ke kompleks itu sore harinya, ketika matahari masih ada — Damar bersikeras melihat tanahnya dalam terang, satu kali, sebelum harus menghadapinya dalam gelap. Rangga mengemudi mobil pribadinya, bukan mobil dinas, dan parkir tiga ratus meter dari pagar seng yang berkarat, di balik gundukan tanah bekas galian. Mereka berjalan kaki sisanya, menunduk, seolah kompleks mati itu punya mata.
PT Mukti Sandang membentang di bawah langit jingga seperti bangkai raksasa yang menolak dikubur. Bangunan-bangunan beton tanpa atap menganga. Rumput liar setinggi pinggang bergoyang dalam angin yang membawa bau karat dan tanah lembap. Dan di tengahnya, menjulang dua belas meter ke langit yang memerah, berdiri menara air itu — tangki silinder besar di atas empat kaki baja, tangga besi melingkar naik di salah satu kakinya. Tempat penuh air tapi tak ada yang berenang.
Damar berdiri lama menatapnya. Di sinilah semuanya bermula, malam itu, ketika ia menemukan puntung rokok yang ditata berjajar rapi di atas batu datar. Di sinilah ia pertama kali merasa diawasi. Di sinilah, di kaki menara ini, ia membaca surat yang mengungkap bahwa ayahnya sendirilah tangan yang merebut keadilan keluarga Suara. Lingkaran yang menutup. Tanah tempat permainan lahir, kini disiapkan menjadi tempat ia berakhir.
"Jangan terlalu dekat," bisik Rangga, menahan lengannya. "Kalau dia memasang sesuatu — kamera, jebakan — aku tidak mau dia tahu kita sudah survei tempatnya."
Tapi Damar sudah melihat. Bahkan dari jarak ini, ia melihat tanda-tanda bahwa menara ini bukan reruntuhan kosong lagi. Ada kabel — kabel tipis hitam yang membentang dari salah satu kaki baja, naik menyusuri tangga, hilang ke arah tangki di puncak. Ada gembok baru, mengkilat, di sebuah pintu logam di kaki menara yang dulu berkarat dan terbuka. Dan di tanah, di sekitar batu datar yang Damar kenal, rumput liar telah diinjak rata, dibersihkan, seolah seseorang telah menjadikan tempat itu — apa? Ruang tunggu. Panggung.
"Dia sudah menyiapkannya," kata Damar pelan. "Berhari-hari. Mungkin berminggu-minggu. Sementara kita mengejar bayangan, dia membangun ini." Ia menelan ludah. "Dia tidak pernah berimprovisasi. Dia merencanakan. Setiap kali kita merasa selangkah di depan, dia sudah berdiri di garis akhir, menunggu kita sampai."
Rangga berjongkok di balik gundukan, matanya menyapu kompleks dengan ketelitian seorang yang terbiasa menilai medan. "Aku tidak suka ini," katanya. "Cuma satu jalan masuk yang jelas, lewat celah pagar di selatan. Itu artinya cuma satu jalan keluar juga. Kalau aku menempatkan tim, mereka harus lewat sana, dan dia akan tahu. Kalau aku menempatkan mereka jauh, mereka tidak akan sampai tepat waktu." Ia mengeraskan rahang. "Ini medan yang dirancang untuk satu orang melawan satu orang. Dia tahu betul kekuatan kita ada di jumlah, jadi dia membangun tempat di mana jumlah jadi tidak berguna."
Damar memandang puncak menara, ke tutup tangki yang dulu terbuka separuh. "Lana di atas sana," katanya, dan ia tahu itu benar tanpa perlu bukti, merasakannya seperti orang merasakan badai sebelum tetes pertama jatuh. "Tempat penuh air, kalau dia mau jadikan namanya jadi kenyataan. Dia akan menaruh Lana di tempat yang membuat aku harus naik. Membuat aku tidak punya pilihan selain memanjat tangga itu, dua belas meter ke atas, ke tempat dia menunggu."
Rangga menatapnya. "Dan kamu tahu itu jebakan, dan kamu tetap akan naik."
"Apa pilihanku." Damar berbalik, menatap polisi itu. "Kalau aku tidak naik, Lana mati. Kalau aku menunggu kamu mengepung tempat ini dengan tim, dia akan tahu, dan Lana mati. Satu-satunya cara Lana hidup adalah kalau aku naik, sendirian, dan menjadi apa yang dia mau aku jadi — selama cukup lama untuk satu hal terjadi." Ia menahan tatapan Rangga. "Cukup lama untuk kamu sampai. Tidak terlalu cepat sampai dia panik dan menjatuhkan Lana. Tidak terlalu lambat sampai dia selesai dengan kami berdua. Tepat di celah di antaranya. Itu satu-satunya jalan."
"Itu celah yang sangat tipis," kata Rangga.
"Aku tahu." Damar memandang kembali ke menara, ke tangga besi yang melingkar naik ke langit jingga. "Tapi dia bukan tuhan, Rangga. Dia hanya manusia yang sangat sabar dan sangat terluka, yang menang selama ini karena dia tahu lebih banyak dari kita. Malam ini, untuk pertama kalinya, aku tahu hampir sebanyak dia. Aku tahu siapa dia. Aku tahu kenapa. Dan aku tahu satu hal yang dia tidak tahu aku tahu." Ia menatap Rangga. "Bahwa kamu akan ada di luar pagar itu. Dan bahwa aku tidak datang untuk menggantikan ayahku. Aku datang untuk mengakhiri utang itu dengan caraku sendiri."
Mereka mundur dalam diam saat matahari tenggelam, meninggalkan menara air sebagai siluet hitam yang menusuk langit yang kehilangan warna. Di belakang mereka, di puncak tangki yang penuh air gelap, sesuatu — atau seseorang — bergerak sekilas, lalu diam. Damar tidak melihatnya. Tapi ia merasakannya, dingin di tengkuknya, perasaan lama yang sudah jadi bagian dari napasnya: bahwa ia tidak pernah benar-benar sendirian di tempat ini. Bahwa sepasang mata, seperti selalu, sedang menatapnya kembali dari dalam gelap.