Telepon datang tepat seperti yang Damar tahu akan datang. Mereka sudah memindahkan operasi diam-diam ke studio — bukan studio resmi, melainkan ruang teknik kecil di lantai dua yang dulu dipakai Pak Hasan menyimpan kabel cadangan. Rangga memasang perekam dua arah sendiri, tanpa surat, tanpa laporan. Pak Hasan duduk di sudut, wajahnya cemas tapi matanya keras kepala; ia menolak pulang malam ini. "Tiga puluh tahun aku jaga gedung ini, Mar," katanya tadi. "Aku tidak akan pulang di malam yang penting."
Pukul dua belas lewat tujuh menit. Tidak pernah meleset satu menit pun sepanjang permainan ini. Ponsel sekali pakai yang ditinggalkan Suara di pertukaran gagal kemarin bergetar di atas meja, layarnya menyala, nomor strip kosong.
Damar menatapnya satu detik, lalu mengangkat. "Aku di sini."
"Tentu saja kamu di sini." Suara itu. Datar, presisi, tenang seperti permukaan air dalam yang tak pernah tersentuh angin. "Kamu selalu di sini, Damar. Itu yang aku suka darimu. Bahkan ketika seluruh kota berbalik membencimu, ketika mereka menyebutmu pembawa maut, kamu tetap datang ke frekuensi ini setiap tengah malam. Karena kamu tahu, sama seperti aku, bahwa di antara kita berdua tidak ada lagi yang lain. Hanya kamu. Hanya aku."
"Di mana Lana." Suara Damar serak. Ia memaksanya tetap rendah, tetap terkendali, tapi nama itu keluar seperti luka.
"Lana hidup." Jeda. "Untuk sekarang. Dia tidur. Aku tidak menyentuhnya — aku tidak pernah menyentuh perempuan itu, Damar, aku bukan binatang. Tapi dia lelah. Menangis menghabiskan tenaga. Kamu tahu itu." Ada sesuatu yang hampir lembut dalam nada itu, dan kelembutan itu, seperti selalu, lebih dingin dari ancaman apa pun. "Aku menelepon untuk memberitahumu bahwa kita sudah hampir selesai. Permainan ini, Damar — kamu pasti merasakannya juga — sudah lelah. Kita berdua lelah. Sudah waktunya menutupnya."
Damar menatap Rangga, yang mengangguk pelan: terus bicara, pancing terus. "Menutupnya bagaimana," kata Damar.
"Di tempat dia mulai." Suara itu berhenti, dan ketika ia melanjutkan, ada irama dalam kalimatnya, irama yang membuat tengkuk Damar dingin karena ia mengenalinya. "Aku akan memberimu petunjuk, Damar. Tiga petunjuk. Seperti dulu, di awal. Karena segala sesuatu yang baik berakhir di tempat ia bermula."
Damar mencengkeram pena, menarik kertas. Tangannya gemetar. Ia tahu apa yang akan datang.
"Pertama," kata Suara. "Carilah tempat yang penuh air, tapi tak ada yang berenang."
Napas Damar tertahan. Itu petunjuk yang sama. Petunjuk paling pertama, dari telepon kedua, berbulan-bulan lalu. Menara air. Kompleks PT Mukti Sandang.
"Kedua," lanjut Suara, suaranya menurun. "Carilah nama yang berawalan sama dengan kota tempat ia lahir. Hanya saja, Damar, kali ini namanya bukan korban. Kali ini namanya adalah aku. Dan kalau kamu cukup teliti — kalau kamu benar-benar menggali seperti yang kuminta sejak malam di kaki menara itu — kamu sudah tahu nama itu. Kamu sudah tahu kota itu. Kamu sudah tahu aku."
Damar membeku. Ia memang sudah tahu. Sudah berminggu-minggu ia tahu. Nama itu, wajah itu, kota itu — semuanya sudah ia satukan dari arsip, dari rekaman buram, dari makam tanpa bunga, dari surat tua Wibawa. Tapi mendengar Suara mengakuinya sendiri, di udara, membuat segalanya jadi nyata dengan cara yang tak bisa ditarik kembali.
"Dan ketiga." Suara itu menggantung lama, terlalu lama, sampai Damar nyaris berteriak. "Sampai tengah malam besok. Bukan sampai akhir bulan kali ini, Damar. Tidak ada lagi minggu untuk mengejar bayangan. Hanya satu malam. Besok, tengah malam, di menara. Kamu, aku, dan Lana. Datang, dan kita selesai. Tidak datang…" Jeda. "Maka tempat yang penuh air itu akhirnya akan punya seseorang di dalamnya."
"Tunggu—" Damar mencengkeram meja. "Bagaimana aku tahu Lana masih—"
"Kamu tidak tahu," potong Suara, lembut. "Kamu tidak pernah tahu apa pun selama permainan ini, Damar. Kamu hanya percaya. Itu yang membuatmu pendengar yang baik. Itu yang membuatmu… layak." Ada jeda terakhir, dan ketika suara itu kembali, untuk sekejap ada getaran tipis di dalamnya, sesuatu yang nyaris manusiawi. "Aku menanti malam ini sepuluh tahun, Damar. Datanglah. Jangan kecewakan aku di akhir."
Saluran terputus. Nada tut panjang menggantung di ruang teknik yang sempit itu.
Pak Hasan adalah yang pertama bersuara, suaranya nyaris berbisik. "Mar… dia ngasih lokasi. Beneran. Dia ngasih tahu di mana."
Tapi Rangga menggeleng pelan, matanya gelap. "Bukan dia memberi tahu kita di mana dia berada," kata Rangga. "Dia mengundang kita ke tempat yang sudah dia siapkan. Tanah yang dia kuasai. Setiap batunya, setiap anak tangganya, setiap sudut gelapnya — dia hafal semua. Kita yang buta di sana, bukan dia." Ia menatap Damar. "Ini bukan petunjuk, Damar. Ini perangkap yang dia biarkan kita lihat. Lingkaran yang dia tutup persis di tempat dia membukanya."
Damar menatap tiga baris yang baru saja ia tulis. Tempat penuh air. Nama yang ia sudah tahu. Tengah malam besok. Lingkaran yang menutup. Ia merasakan beratnya, dingin dan bulat dan sempurna, seperti cincin yang dipasangkan di leher seseorang yang akan digantung.
"Aku tahu," kata Damar pelan. "Dia tahu aku tahu itu jebakan. Dan dia tetap mengundang. Karena dia yakin aku akan datang." Ia melipat kertas itu, memasukkannya ke saku. "Dan dia benar. Aku akan datang. Pertanyaannya cuma satu, Rangga — apakah kita bisa membuat perangkapnya jadi milik kita sendiri sebelum tengah malam besok."