Subuh tidak datang. Itu yang dirasakan Damar di ruang sempit rumah singgah, menatap langit-langit yang retaknya sudah ia hafal seperti garis tangannya sendiri. Jendela menunjukkan langit hitam yang menolak pecah jadi abu-abu. Sudah dua hari sejak Lana benar-benar lenyap, bukan umpan, bukan rekaman tangis yang diputar dari ponsel di kejauhan. Benar-benar lenyap. Jejak terakhirnya berhenti di tepi trotoar dekat halte, sebuah sandal jepit, dan keheningan yang menelan segalanya.
Rencana pertukaran tawanan kemarin malam gagal. Bukan gagal kecil yang bisa ditambal. Gagal total. Seseorang membocorkan posisi tim Rangga sebelum mereka sempat mengambil alih titik temu, dan ketika Damar tiba di gudang kosong yang dijanjikan, yang menyambutnya hanya sebuah ponsel di lantai, memutar suara datar itu berulang-ulang seperti mantra. "Kamu membawa mereka, Damar. Padahal aku sudah bilang. Sekarang Lana harus menunggu lebih lama." Lalu klik. Lalu sunyi.
Damar bangkit dan duduk di tepi ranjang. Tangannya meraih dompet, menarik foto hitam putih dari balik KTP. Wajah ibunya menatapnya, lembut, sabar, dari sebuah waktu yang tak pernah ia ingat dengan jelas. Ia tidak lagi berbisik ke foto itu seperti dulu. Ia tahu sekarang foto itu pernah disadap, pernah didengar, dan kebiasaan yang dulu menenangkannya kini terasa seperti luka yang sengaja dibiarkan terbuka. Tapi malam ini ia tetap menatapnya, tanpa kata, hanya menatap.
"Apa yang masih kupunya untuk kuberikan, Bu," gumamnya akhirnya, suaranya nyaris tak keluar.
Pertanyaan itu bukan retoris. Ia sudah menghitung. Selama berbulan-bulan permainan ini, ia kehilangan satu per satu. Pekerjaannya — siaran "Lentera Malam" diskors setelah publik mulai curiga ia terlibat. Reputasinya — wartawan menamainya "penyiar maut" di kolom kriminal. Sebagian besar kepercayaan orang-orang di sekitarnya — bahkan Pak Hasan pernah menatapnya dengan ragu, walau loyalitasnya akhirnya menang. Yang tersisa tinggal sedikit. Namanya, yang sudah retak. Kebebasannya, yang tergantung pada belas kasihan Rangga. Dan nyawanya.
Pintu diketuk dua kali, pelan, lalu terbuka. Rangga masuk tanpa menunggu jawaban, membawa dua gelas kopi instan yang uapnya naik tipis. Lingkaran hitam di bawah matanya tak kalah pekat dari milik Damar. Lencananya tak tampak; ia datang sebagai orang, bukan polisi.
"Kamu tidak tidur," kata Rangga. Bukan pertanyaan.
"Bagaimana aku bisa tidur."
Rangga meletakkan satu gelas di meja kecil dekat ranjang dan duduk di kursi plastik di seberang. Ia memutar gelasnya sendiri di antara jari, gestur yang dulu dipakainya pada pulpen, dulu ketika ia masih menganggap Damar orang gila. Sekarang gestur itu kelihatan seperti orang yang sedang menahan rasa bersalah.
"Kebocoran kemarin," kata Rangga pelan. "Aku sudah menyelidiki internal. Ada yang membuka radio komunikasi tim ke kanal yang bisa dipindai. Mungkin sengaja, mungkin ceroboh. Aku belum tahu siapa. Tapi yang jelas, dia bisa mendengar kita bergerak." Ia menatap Damar. "Itu artinya, selama kita bekerja lewat jalur resmi, dia akan selalu satu langkah di depan."
Damar mengangkat gelasnya, tidak meminum, hanya menggenggam kehangatannya. "Jadi kita berhenti pakai jalur resmi."
Rangga diam lama. Di luar, seekor anjing menggonggong jauh, lalu berhenti. "Kalau aku melakukan itu," katanya akhirnya, "dan ketahuan, aku selesai. Bukan cuma karier. Aku bisa diadili. Membantu seorang tersangka — karena di mata atasanku, Damar, kamu masih tersangka — keluar dari pengawasan, menjebak pelaku tanpa surat, tanpa prosedur." Ia menggeleng. "Itu bunuh diri."
"Aku tidak minta kamu," kata Damar.
"Aku tahu." Rangga meletakkan gelasnya. "Itu sebabnya aku menawarkannya."
Damar menatapnya. Mereka berdua tahu apa artinya kalimat itu. Sebuah garis sedang ditarik, dan keduanya melangkah ke sisi yang sama.
"Dia akan menelepon lagi," kata Damar. "Dia selalu menelepon. Tengah malam. Itu satu-satunya yang dia tidak bisa lepaskan. Panggung. Ritual. Dia butuh aku mendengarkan, sama seperti aku dulu butuh pendengar." Ia menelan ludah. "Dan kalau dia butuh aku mendengarkan, berarti dia butuh aku hidup. Setidaknya sampai dia selesai. Itu satu-satunya yang masih kupunya untuk ditawar."
Rangga mengernyit. "Apa maksudmu."
Damar memandang foto ibunya yang masih di tangannya, lalu menyelipkannya kembali ke balik KTP. Ketika ia mengangkat wajah, ada sesuatu yang baru di matanya — bukan ketakutan, dan bukan pula keberanian, melainkan ketenangan dingin orang yang sudah selesai berhitung dan tahu persis berapa yang ia sanggup bayar.
"Maksudku," kata Damar, "kalau dia mau aku — kalau sejak awal ini soal menjadikan aku pengganti utang ayahku — maka aku akan memberikan diriku. Aku akan datang. Sendirian, kalau perlu. Tapi dengan satu syarat yang tidak dia ketahui." Ia menatap Rangga lurus. "Bahwa kali ini, aku yang menyiapkan tanah tempat kami bertemu. Bukan dia."
Rangga menahan napas. "Kamu mau jadi umpannya."
"Aku sudah jadi umpannya sejak telepon pertama," kata Damar. "Bedanya, sekarang aku tahu itu. Dan orang yang tahu dirinya umpan masih bisa memilih kapan kail itu ditelan." Ia berdiri, menghampiri jendela, menatap langit yang masih hitam. "Lana di suatu tempat di luar sana karena namaku. Karena dosa ayahku. Aku tidak bisa menyelamatkannya dengan bersembunyi di rumah singgah ini sambil menunggu polisi menggeledah setiap gudang di kota." Ia berbalik. "Yang tersisa untuk kukorbankan tinggal aku, Rangga. Maka itu yang akan kutawarkan. Dan aku butuh kamu untuk memastikan, saat dia datang mengambil tawaran itu, ada satu mata yang melihat wajahnya selain mataku."
Rangga lama tidak menjawab. Lalu ia mengambil gelas kopinya, meneguknya sampai habis sekali tarik, dan meletakkannya dengan suara kecil yang terdengar seperti keputusan.
"Ceritakan apa yang sudah kamu pikirkan," katanya. "Dari awal. Dan jangan ada yang kamu sembunyikan dariku lagi. Kalau kita melakukan ini, kita melakukannya sebagai dua orang yang sama-sama tidak punya apa-apa lagi untuk hilang."
Di luar, untuk pertama kalinya sejak Lana lenyap, langit mulai pecah — bukan jadi terang, tapi jadi abu-abu yang muram, warna kota yang bangun tanpa tahu bahwa malam berikutnya akan menjadi yang terakhir.