Gudang kosong di pinggir rel itu menyambut Damar dengan kegelapan yang lembap dan bau besi tua. Atap sengnya bolong-bolong, cahaya bulan jatuh dalam garis-garis pucat ke lantai semen yang retak. Tapi malam ini lebih sunyi dari yang seharusnya, sunyi yang salah, sunyi yang sudah kosong sebelum Damar tiba. Ia melangkah masuk dengan satu salinan rekaman di saku dada dan pemancar tipis di sol sepatu, jantungnya memukul pelan dan keras.
Tidak ada siapa-siapa.
Tidak ada sosok berjaket gelap di tengah gudang. Tidak ada Lana terikat di tiang. Hanya ruang kosong yang luas, dan di tengahnya, di atas lantai, sebuah benda kecil memantulkan cahaya bulan: sebuah ponsel, layarnya menyala, menunggu. Damar mendekat dengan langkah yang terasa seperti berjalan ke dalam mulut yang terbuka. Begitu ia mengangkatnya, ponsel itu menyala sendiri, dan suara datar itu mengalir keluar, terekam, diputar berulang seperti mantra.
"Kamu membawa mereka, Damar," kata Suara dari rekaman. "Padahal aku sudah bilang. Sendirian. Tanpa polisi. Tapi kamu tidak pernah benar-benar percaya, kan? Kamu selalu butuh jaring." Jeda dalam rekaman itu, dingin dan terukur. "Aku tahu setiap orang di kepolisianmu. Aku tahu siapa yang ingin menjadikanmu tumbal, dan orang itu, demi karier yang bersih, dengan senang hati memberitahuku ke mana timmu ditempatkan malam ini. Jadi aku tidak datang. Untuk apa? Lana tetap bersamaku. Dan sekarang dia harus menunggu lebih lama, karena kamu memilih tidak mempercayaiku."
Lalu klik. Lalu sunyi.
Damar berdiri sendirian di tengah gudang kosong itu, sungguh-sungguh sendirian, ponsel mati di tangannya, rencananya terbongkar tanpa ia pernah sempat memainkannya. Di luar, di kejauhan, ia bisa mendengar gerakan tertahan tim Rangga yang dipancing ke posisi yang salah, mengepung sebuah jebakan yang ternyata kosong sejak awal. Pertukaran itu tidak gagal di tengah jalan. Ia gagal sebelum dimulai. Suara tidak pernah berniat menyerahkan Lana malam ini; ia hanya ingin membuktikan, sekali lagi, bahwa ia membaca mereka semua seperti membaca buku terbuka.
Setiap lapisan rencana yang ia susun bersama Rangga telah dikupas Suara satu per satu, dari jarak jauh, tanpa perlu menunjukkan wajahnya. Dan di tengah kepanikan yang menjalar dingin di dadanya, Damar memahami satu hal dengan kejernihan yang menyakitkan: selama mereka bergerak lewat jalur resmi, lewat tim dan radio dan prosedur, Suara akan selalu satu langkah di depan. Selama ada kebocoran di tubuh polisi, setiap pertukaran akan jadi gudang kosong, setiap jaring akan robek sebelum dilempar.
Tapi ada satu hal yang Suara belum kupas. Satu hal yang tidak ada dalam rencana mana pun, yang tidak ditulis di papan, yang tidak diketahui Rangga: kebenaran yang Damar simpan tentang ayahnya, tentang malam ibu Suara mati. Sebuah umpan terakhir yang ditanam bukan di sol sepatu, melainkan jauh di dalam dendam Suara sendiri — sesuatu yang hanya bisa ia lepaskan ketika mereka akhirnya berdiri berhadapan, tatap muka, tanpa kabel, tanpa rekaman, tanpa gudang kosong di antara mereka. Damar menatap ponsel mati di tangannya, dan tahu bahwa pertemuan itu masih akan datang. Suara terlalu lapar akan panggung untuk mengakhiri ini lewat ponsel di lantai. Cepat atau lambat, ia akan mengundang Damar ke tempat tertinggi yang bisa mereka capai sebelum jatuh.