Aturannya sederhana dan kejam, seperti segala hal tentang Suara. Damar harus datang ke sebuah gudang kosong di pinggir rel, tak jauh dari gudang utara tempat korban pertama dulu ditemukan, pada tengah malam dua hari lagi. Sendirian. Tanpa polisi. Membawa dua hal: rekaman lama yang ia curi dari mes, dan kebenaran utuh tentang keberadaan ayahnya. Sebagai gantinya, Lana akan dibebaskan.
"Aku tidak menginginkan kekacauan," kata Suara di telepon. "Aku tidak menginginkan kota yang gempar atau polisi yang berkerumun. Aku hanya menginginkan apa yang seharusnya jadi milikku sepuluh tahun lalu: keadilan, dari tangan orang yang merampasnya, atau dari tangan anaknya. Bawa rekamannya. Bawa ayahmu, atau bawa dirimu sebagai penggantinya. Dan Lana pulang. Sesederhana itu."
"Bagaimana aku tahu kamu akan melepaskannya?" tanya Damar.
"Kamu tidak tahu," kata Suara jujur. "Sama seperti Sari tidak tahu apakah dia akan keluar hidup dari ruang manajer itu. Sama seperti aku tidak tahu, sebagai anak kecil, apakah keadilan akan datang. Kamu harus percaya, Damar. Itulah harga yang kalian semua tidak pernah bayar pada keluargaku: kepercayaan bahwa kebenaran akan ditegakkan. Sekarang giliranmu yang mempertaruhkannya."
Setelah telepon ditutup, Damar dan Rangga bekerja sepanjang malam dan sepanjang hari berikutnya, menyusun rencana di sudut kantor yang sama, di bawah cahaya lampu yang membuat wajah keduanya tampak letih dan keras.
Mereka tahu mereka tidak bisa benar-benar mengirim Damar sendirian dan tak terlindungi. Tapi mereka juga tahu Suara selalu mengantisipasi polisi, selalu tahu pola pengawalan, selalu selangkah di depan. Maka rencana mereka berlapis. Damar akan datang, secara kasat mata sendirian, membawa salinan rekaman — bukan yang asli, yang asli sudah diserahkan ke Rangga sebagai bukti. Rangga akan menempatkan tim jauh di luar perimeter, di luar jangkauan pandang dan dengar, hanya bergerak masuk jika Lana sudah terlihat aman atau jika Damar memberi sinyal. Damar akan membawa pemancar lokasi tersembunyi, dijahit ke dalam lapisan jaketnya, sesuatu yang berbeda dari ponsel yang pasti akan Suara minta ia buang.
"Dia akan menggeledahmu," kata Rangga. "Dia akan menyuruhmu membuang ponsel. Dia mungkin menyuruhmu melepas jaket. Kita harus menyembunyikan pemancar di tempat yang tidak akan dia curigai."
Mereka memilih sol sepatu. Tipis, datar, di tempat terakhir orang akan mencari.
Tapi di balik rencana yang terlihat itu, Damar menanam rencana yang sebenarnya, yang bahkan tidak ia katakan sepenuhnya pada Rangga. Selama berbulan-bulan ia belajar dari Suara: bahwa jebakan terbaik adalah jebakan yang disembunyikan di balik jebakan yang terlihat. Suara akan mengharapkan polisi. Suara akan mengharapkan pemancar. Suara mungkin bahkan mengharapkan Damar membawa rekaman palsu. Maka Damar harus memberinya sesuatu yang ia harapkan untuk ditemukan, supaya ia berhenti mencari yang lain.
Damar memikirkan ayahnya. Lelaki yang sudah dua tahun mati di kaki gunung, di makam tanpa bunga yang ternyata sudah lebih dulu ditemukan Suara. Suara meminta ayahnya, atau Damar sebagai penggantinya — tapi Suara tampak tidak tahu, atau tidak mau percaya, bahwa lelaki yang ia buru sepuluh tahun sudah lama berada di luar jangkauan dendamnya. Dan di sinilah letak pertaruhan terbesar yang Damar timbang sepanjang malam, sendirian, sambil membisikkan keraguannya pada foto ibunya di balik KTP, sadar penuh kini bahwa mungkin ada telinga yang mendengar — dan kali ini, ia menahan satu hal justru agar telinga itu tidak mendengarnya terlalu cepat: bahwa target sebenarnya sudah tiada.
Karena Damar tahu satu hal yang Suara tidak tahu ia tahu: bahwa Suara, di balik dendamnya yang dingin, masih seorang anak yang menangis di balik pintu, merekam kematian keadilan atas ibunya. Dan seorang anak yang menangis masih bisa, di satu titik, dihancurkan bukan oleh kekuatan, melainkan oleh kebenaran yang lebih besar dari dendamnya. Itulah jebakan Damar yang sebenarnya. Bukan pemancar di sol sepatu. Melainkan sebuah kebenaran yang ia simpan untuk diucapkan di saat yang tepat, di kaki menara, ketika semua kartu sudah terbuka.
Malam pertukaran tiba. Damar mengenakan jaketnya, menyelipkan salinan rekaman ke saku dada, dan menatap dirinya di cermin retak kamar barunya. Wajah yang menatapnya balik adalah wajah orang yang akan berjalan ke dalam rahang dengan mata terbuka. Di belakangnya, ponselnya berdering. Rangga. "Tim sudah di posisi," kata suara Rangga, tegang. "Kita siap. Damar — kalau ada yang salah, kalau kamu merasa kita harus masuk, sentuh dadamu dua kali. Kita awasi lewat termal dari jauh." Damar mengangguk pada bayangannya sendiri, lalu melangkah keluar ke malam yang menunggu.