Pagi setelah siaran yang disusupi itu, kota gempar. Potongan rekaman suara datar yang mengudara semalam menyebar di grup-grup pesan, dipotong, diberi judul sensasional, diputar ulang ribuan kali. Wartawan yang sejak lama mengendus kaitan radio dengan rentetan kematian kini berkerumun di depan studio dan kantor polisi. Nama Damar disebut di mana-mana — sebagian sebagai korban, sebagian, dengan jahat, sebagai tersangka.
Damar tidak peduli pada semua itu. Hanya satu hal yang penting: Lana benar-benar di tangan Suara. Bukan umpan. Bukan kepura-puraan seperti malam di menara air dulu, ketika Lana sebenarnya aman di rumahnya. Kali ini kursi yang bergeser, teh yang dingin, ponsel yang retak — semuanya nyata. Suara telah membuang aturan terakhir yang ia pegang. Dulu ia bangga tidak pernah menyentuh Lana. Sekarang ia memakainya sebagai mata uang.
Rangga, dengan rekaman lama sebagai bukti dan penculikan nyata sebagai tekanan, akhirnya memperoleh sumber daya penuh dari atasannya. Tim dibentuk. Tapi Rangga menarik Damar ke samping, di sudut kantor yang sepi, dan berbicara dengan suara rendah yang tidak ingin didengar siapa pun. "Aku harus jujur padamu," kata Rangga, rahangnya mengeras. "Atasanku setuju mengerahkan tim, tapi dia juga melihat ini sebagai kesempatan. Kalau penyelamatan gagal, kalau ada yang mati — kamu yang paling dekat dengan semua ini sejak awal. Kamu yang punya akses, motif, pengetahuan. Mereka sudah menyiapkan kemungkinan menjadikanmu tumbal kalau kasus ini berantakan."
Damar menatapnya. Ia hampir tertawa, getir. Tentu saja. Itu pun bagian dari rancangan Suara sejak awal — menjadikan Damar tahu terlalu banyak, terlibat terlalu dalam, sehingga apa pun yang terjadi, Damar yang akan menanggung. Sempurna. Anak dari orang yang berutang nyawa, menanggung dosa yang bukan miliknya, sampai akhir.
"Lalu kenapa kamu cerita ini?" tanya Damar.
"Karena aku memutuskan untuk tidak peduli pada lencanaku lagi," kata Rangga pelan. "Aku sudah skeptis padamu dari malam pertama kamu masuk ke kantorku. Tapi aku sudah membaca rekaman itu. Aku sudah melihat dinding foto di mes itu sebelum dia mengosongkannya. Aku tahu siapa monster di cerita ini, dan itu bukan kamu." Ia menatap Damar lurus. "Aku akan membantumu menyelamatkan Lana, di luar prosedur kalau perlu. Tapi kita harus pintar. Lebih pintar dari dia."
Malam itu, telepon datang lagi, pukul 00:07, kali ini ke ponsel Damar langsung. Damar mengangkat sebelum dering pertama selesai.
"Di mana Lana?" suara Damar bergetar oleh amarah yang ia tahan.
"Dia aman. Untuk sekarang." Suara itu tenang, kembali ke ritmenya, seolah penculikan adalah urusan sehari-hari. "Aku tidak menyentuhnya. Aku tidak pernah ingin menyentuh perempuan tak bersalah, Damar. Dia hanya alat. Kamu yang memaksaku memakainya, dengan menghilang dari frekuensi, dengan masuk ke rumahku, dengan membuatku terburu-buru. Setiap langkah yang kamu ambil untuk melawanku, mendekatkan Lana ke bahaya. Renungkan itu."
Damar memejamkan mata. Ia tahu itu manipulasi, taktik lama Suara untuk menanam rasa bersalah, untuk membuat Damar ragu pada setiap gerakannya sendiri. Tapi mengetahui itu manipulasi tidak membuatnya kurang menyakitkan. "Apa maumu," kata Damar, bukan bertanya, melainkan menyerah pada kenyataan bahwa Suara selalu mau sesuatu.
"Pertukaran," kata Suara, dan untuk pertama kalinya ada sesuatu yang final dalam nadanya, seolah seluruh permainan selama ini hanya menuju kalimat ini. "Lana, ditukar dengan kebenaran. Ditukar dengan kamu. Dengar baik-baik, Damar, karena aku hanya akan mengatakannya sekali."