Petugas yang menjaga rumah Lana ditemukan tak sadarkan diri di mobilnya, dibius lewat kopi yang seseorang berikan padanya dengan ramah. Pintu rumah Lana terbuka. Tidak ada tanda perkelahian, tidak ada darah. Hanya kursi yang sedikit bergeser, secangkir teh yang masih hangat di meja, dan ponsel Lana tergeletak di lantai dengan layar retak — sama persis seperti malam umpan di menara air dulu, hanya saja kali ini Damar tahu, dengan kepastian yang membekukan tulangnya, bahwa ini bukan umpan.
Rangga mengerahkan semua yang ia bisa. Tapi Suara telah merencanakan ini dengan presisi yang sama dengan segalanya: tidak ada saksi, tidak ada rekaman CCTV yang berfungsi di gang itu, tidak ada jejak. Lana lenyap ke dalam kota seperti namanya ditelan air.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Damar tidak datang ke studio.
Pak Hasan menelepon, cemas, lalu Lana — bukan, bukan Lana, Damar harus mengingatkan dirinya dengan rasa sakit yang menusuk — penyiar pengganti yang dikabari mendadak harus mengisi. Lentera Malam mengudara tanpa Damar untuk pertama kalinya sejak ia memegang mikrofon itu. Frekuensi tetap menyala, tapi suara yang menemani kota bukan lagi suaranya.
Damar duduk di kantor Rangga sepanjang malam, menatap peta kota yang terbentang di dinding, menolak pulang, menolak tidur. Ia tahu Suara sedang menunggu — menunggu tengah malam, menunggu pukul 00:07, menunggu Damar di frekuensi yang biasa. Dan Damar sengaja tidak ada di sana.
Itu keputusan paling sulit yang pernah ia ambil. Setiap detik ia tidak mengudara adalah setiap detik Suara mungkin marah, mungkin menyakiti Lana. Tapi Rangga dan Damar telah memutuskannya bersama, dalam diskusi tegang berjam-jam: keheningan adalah satu-satunya bahasa yang belum pernah Damar pakai. Selama ini Suara selalu memegang kendali karena Damar selalu datang, selalu mendengarkan, selalu bereaksi. Ketidakhadiran adalah satu-satunya gerakan yang tidak bisa Suara antisipasi. Sebuah pesan tanpa kata: aku tidak lagi bermain dengan aturanmu.
Pukul 00:07, di studio yang kini diisi penyiar lain, garis merah menyala. Penyiar pengganti, yang sudah diberi tahu Rangga, membiarkannya berkedip tanpa diangkat sesuai instruksi. Tapi Damar, yang memantau dari kantor polisi lewat saluran yang dibuka Pak Hasan, mendengar di luar dugaan sesuatu menembus udara: garis itu tetap menyala, dan setelah lama berkedip, terhubung sendiri — Suara telah menemukan cara masuk ke saluran tanpa diangkat, menyisip lewat celah teknis yang sama dengan yang dulu menyusupi siaran.
Dan kota mendengar, untuk pertama kalinya, suara datar itu mengudara terbuka, bukan di saluran tertutup. "Damar tidak ada malam ini," kata Suara, tenang, kepada seluruh kota yang tertidur. "Itu tidak sopan. Aku punya tamunya, dan dia ingin sekali bicara dengannya." Lalu, samar, di latar belakang, terdengar isak tertahan seorang perempuan.
Pak Hasan memutus siaran panik, tapi terlambat — kalimat itu sudah terlontar ke udara. Damar berdiri di kantor Rangga, kepalan tangannya memutih. Keheningan yang ia rancang sebagai senjata telah dibalas dengan langkah paling berani Suara: ia naik ke panggung Damar sendiri, di depan seluruh kota, dan menjadikan Lana sandera yang nyata di hadapan publik. Permainan tidak lagi tersembunyi di frekuensi sepi. Sekarang seluruh kota menonton.